Karya: Syn_Anymore & Tsabita
Badai kepalsuan seperti menerpa bumi ini, tak bisa untuk melawan hanya pasrah oleh penerimaan.
Gemuruh ombak seperti menyuarakan amarah yang membara. Ya, itu adalah aku dalam angan mencari pelampiasan atas kekesalan yang kamu lemparkan. Dan kamu, hanya bersembunyi seperti pengecut yang tak tahu apa-apa. Padahal yang mengawali semua kisah ini adalah kamu.
Layaknya mendung yang tak bertanggung jawab atas hujan. Hanya memberikan rasa murung yang selalu aku rasakan. Tapi kamu malah tertawa diatas mentari yang ku berikan. Sadarkah kasih apa yang telah kamu lakukan?
Mungkin sadar adalah sebuah kemewahan yang tak layak kau berikan padaku. Sebenci itukah kamu pada raga yang selalu mengagumimu?
Benar, kusadari kini...kau hanya ingin dikagumi dan kau hanya ingin di puja. Kemanakan lehermu? sampai tak menoleh ke belakang siapakah orang yang telah membuatmu bisa sampai di puji seperti ini.
Kau lupa ataukah memang egomu telah membunuh nuranimu? atau kau sengaja menghilangkan semua tentangku? Aku tak ingin tenggelam dalam prasangka. Tahukah kau?
Perhatianku ini hanya sekedar untuk menghilangkan rasa cemburu. Tapi jangankan untuk itu, kamu malah memburu lagi kasih baru. Ah, lucu memang.
Mungkin bagimu perjuanganku hanyalah gurauan. Maaf, aku buka tontonan maka, aku permisi pada kehidupanmu. Bukan ingin melepasmu, tapi untuk mencari penawar rasa lelahku dulu. Karena semuanya belum usai.
Meskipun lelahku mungkin tak ada arti untukmu. Tapi tenang saja, karena semua yang telah ku korbankan tak lain hanya untuk kebahagiaanmu.
Aku pergi, meninggalkan jejak indah untukmu.
Jika kau mencari, temui aku dalam setiap penantianmu. Namun, aku tak berjanji kita dapat sehangat mentari. Karena nanti jika kamu memang kembali, saatnya bagi diriku yang ingin melihat jerih payahmu untukku. Namun, aku tak akan berjanji kembali.
Aku akan duduk disini sampai kau bisa mengerti dan memahami. Walaupun, ku tahu kapan.
Aku harap kau akan mengerti. Dan membiasakan diri dengan apa yang ku beri.
Ku tahu, Tuhan sayang padaku.
Dia mungkin ingin menegur hatiku yang terlalu memujamu. Mungkin ini kesalahanku juga membuat Tuhan cemburu melihat aku yang terfokuskan kepadamu, sehingga sangat sulit untuk bisa membuatmu mengertiku.
Aku pahami itu. Oleh karenanya aku telah memutuskan. Tuk permisi.Dari jalur perjalanan hidup. Semoga lekas sadar. Dan mendapatkan tempat yang kau sebut nyaman untuk bersandar.