Teman Masa Kecil, Terima Kasih Telah Menjadi Hujanku
Hai teman. Haruskah aku sebutkan satu persatu nama kalian? Baiklah Ica, Tita, Mega, Darma, Nadia, Furi, Wulan, Dayat, Jenal, Didit, Febri, Pepy, Heri, Kes. Hey, apakah masih ada yang kurang? Maafkan aku jika aku telah melupakan salah seorang dari kalian. Tapi aku merasa itu bukan hanya salahku. Mengapa sekarang aku merasa canggung sekali untuk memanggil nama kalian?
Pelan-pelan otak ini berusaha mencerna dan mengingat. Kalian ingat halaman TPQ yang sering kali kita buat main untuk gobak sodor, boi-boian, petak umpet, dll? Aku masih ingat betul bagaimana bentuk halaman TPQ itu dulu. Apa kalian ingat, ketika bulan puasa, setiap kali selesai sahur dan sholat shubuh kita sering jalan-jalan bersama, mengarungi jalan raya yang sewaktu dulu masih sepi? Apa kalian ingat, kita sering bermain masak-masakan saat siang hari? Seberapapun teriknya matahari waktu itu kita tak peduli. Kalian ingat, rumput-rumput hijau belakang desa kita dulu adalah tempat futsal kalian? Apa kalian juga ingat betapa bahagianya kita dulu ketika hujan turun? (Meski tak semuanya boleh hujan-hujan pada waktu itu oleh orang tuanya). Kalian ingat, kita dulu tak selalu bersama, kadang juga ada pertengkaran diantara kita bukan?
Sebentar, mengapa hanya itu saja yang kuingat dimasa kecilku bersama kalian? Sebegitu lupakah aku dengan kalian? Dan kini, ketika bertemu, mengapa kita hanya bertegur sapa dengan rasa canggung? Mengapa keakraban yang dulu lebih dari saudara berlahan luntur? Bahkan seperti tak akur.
Tapi sebentar, jangan salahkan aku dulu. Apakah kalian juga mengingat segalanya? Aku rasa tidak. Jadi paling tidak aku tak terlalu merasa bersalah pada kalian.
Aku hanya rindu kalian. Sepertinya hujan juga rindu kalian. Mataharipun aku pikir juga begitu. Mungkin pula sang halaman juga merindukan canda tawa kita.
Jadi, teman masa kecil, tidak maukah kalian bermain lagi? Kembali lagi ke masa kecil belum tentu kita tak berpikir dewasa bukan? Aku hanya ingin kita (semua) ingat bahwa kita dulu pernah seperti saudara. Layaknya pelangi yang tak dapat muncul tanpa adanya hujan, aku pun mungkin saja begitu waktu dulu jikalau tanpa kalian. Terima kasih telah menjadi hujanku dan terima kasih telah memberikan sedikit banyak bentuk sabit dibibirku, meskipun hanya dimasa kecil.