seen from China

seen from United States

seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from Jordan

seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Australia
seen from China
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Kazakhstan
seen from Israel
#remembering #georgemichael #singer #wham #fantastic #makeitbig #musicfromtheedgeofheaven #faith #listenwithoutprejudicevol1 #DontLettheSunGoDownonMe #TooFunky #older #SongsfromtheLastCentury #Patience #LadiesandGentlemen #TheBestofGeorgeMichael #twentyfive #symphonica #fivelive
Usia Dua Lima.
Aku gak tahu apa yang sebenarnya harus aku lakukan di usia duapuluh lima tahun. Aku juga gak tahu apa saja hal-hal yang gak perlu lagi aku lakukan di usia ini (kalau memang ada). Aku gak tahu siapa yang buat standar "keharusan" itu jadi dimiliki oleh semua orang yang kompak menginjak usia dua lima di tahun yang sama. Aku juga gak tahu, apakah standar itu sudah mengikuti standar pembuatan standar? Aduh, pusing ya! Pusing.
Katanya, usia dua lima itu harus sudah menikah, atau paling enggak akan menikah. Katanya, usia dua lima itu harus sudah lulus kuliah, karena kalau kamu belum lulus pilihannya cuma dua; kamu memang gak kuliah atau kuliahmu lulusnya telat (banget), eh, tapi jaman sekarang kan ada yang namanya "gap year" ya? Lalu, katanya lagi nih (yang sebenarnya aku juga gak tahu katanya ini, katanya siapa?) usia dua lima itu harus sudah punya pekerjaan tetap dengan gaji sudah di atas UMR, paling enggak udah hampir dua dijit lah. Lalu, katanya juga, usia dua lima itu kamu harus udah punya tabungan minimal serratus juta (yang kayaknya kalau dibeliin soto bisa buat makan sekampung), sudah tinggal di rumah milikmu sendiri, sudah punya kendaraan atas namamu sendiri (dan harus atas perjuanganmu dalam mendapatkannya, meski kredit dan yang bayar DP adalah orangtuamu), sudah punya rencana masa depan yang matang entah itu setahun, lima tahun, sepuluh, dua puluh tahun kemudian, harus punya kematangan emosional yang utuh, dan harus punya pengetahuan yang banyak (lengkap). Tapi, daritadi kayaknya aku udah nyebutin berapa kata gak tahu ya? Aku banyak gak tahunya! Dan dari semua 'katanya' itu, gak ada satupun yang aku capai. Duh, kayaknya aku memang gak bisa menginjak usia dua lima, gimana nih? Bukan gak bisa hidup sampai usia dua lima, tapi maksudnya aku gak bisa dengan bangga menyebutkan kalau usiaku "ini loh, aku sudah duapuluh lima tahun," jadi, kayaknya kalau tahun ini ada orang tanya usiaku berapa, aku cukup menyebutkan tahun lahirku aja, atau aku sebutkan aku lahir bersama apa (reformasi, contohnya).
Tapi, aku bener-bener gak tahu, apakah benar usia dua lima harus memenuhi semua keharusan itu? Kenapa harus?
Lagipula, setelah mencapai itu semua lalu apa? Apakah akan ada keharusan lainnya di usia tiga puluh, empat puluh, lima puluh? Aduh, kayaknya kalau dibikin daftar aku keburu menginjak usia enam puluh duluan!
Bukannya enggak mau memenuhi semua keharusan itu. Tapi, usia dua limaku sama sekali enggak keren. Aku belum menikah, jangankan rencana untuk menikah di usia ini, punya pacar aja enggak! Tiap ditanya "kapan nikah?" Aku cuma bisa jawab "belum kelihatan hilalnya" untung saja tidak ada ahli ilmu Falak yang tiba-tiba nyaut "kan sebentar lagi bulan Ramadhan, pasti hilalnya kelihatan."
Huh, belum lagi, aku juga belum lulus kuliah. Bayangkan! 7 tahun jadi donatur setia kampus tapi aku harus kejar-kejaran sama waktu kalau gak mau didepak semester ini, apapun caranya aku harus menyelesaikan studi di semester ini, entah apapun kampus gak akan peduli, mereka hanya peduli; aku lulus. Begitupun orangtuaku, mereka hanya peduli; aku lulus. Sedangkan aku? Satu hal yang selalu aku pedulikan adalah; aku akan kemana, kerja apa setelah ini? Dan membayangkan kalau fasilitas sebagai "pengangguran dengan gaya" alias "mahasiswa" ini harus tercabut setelah aku lulus nanti benar-benar membuatku ngeri. Aku gak bisa lagi seenaknya dan berkata "saya mahasiswa, jadi saya boleh ikut acara ini kan?" aku juga gak bisa lagi berdalih "saya kan masih mahasiswa, jadi wajar kalau saya melakukan kesalahan," juga, "saya kan masih mahasiswa, jadi saya sibuk." Kehilangan status sebagai mahasiswa gak enak, tapi dapet status jadi Drop-Out kayaknya lebih gak enak!
Lanjut. Gimana mau punya gaji di atas UMR, bisa masih dapet uang saku di semester yang sangat veteran ini saja sudah bersyukur. Dan, bisa kerja lepas di sini sana yang dibayar seenak jidat atasanpun, sudah sangat bersyukur. Apa? Gaji dua digit? Mimpi! Dapat gaji mendekati UMR aja rasanya sudah seperti mau mengenggam dunia (dan membeli semua barang yang kulihat di lokapasar). Apalagi tabungan serratus juta? Duh! Seminggu bisa nabung sepuluh ribu aja rasanya aku seperti bisa beli saham BCA 1000 lot! Padahal? Kalau untuk beli boba aja cuma dapat yang original, gak bisa pakai topping apa-apa.
Duh, duh. Jangankan punya rumah sendiri, atas nama sendiri, pakai uang sendiri (meski ditambahin orangtua). Punya kamar sendiri saja, tidak! Apa itu privasi? Barang mewah. Bisa sendirian di kamar selama berjam-jam dan melakukan hal-hal yang aku bisa lakukan sendirian (seenaknya) adalah kemewahan yang amat berharga. Kendaraan? Gak usah dipikirin deh, kan ada ojek online yang selalu ada dimanapun, kapanpun. Kamu gak usah ribet-ribet bayar pajak, ngurus surat izin, belajar nyetir, beli bensin, dan gak perlu juga bayar biaya servis! Kamu tinggal klik, sudah bisa berpindah ke belahan pulau lain! Aku gak lagi promosi ojek online manapun, aku cuma menyadari aja kalau ojek online sangat berguna untukku yang gak punya dan gak bisa naik kendaraan sendiri.
Rencana masa depan? Rencana terakhir yang aku buat adalah: Akan makan apa malam ini? Dan rencana itu gagal karena jawabannya sudah pasti: Makan masakan mama. Sudah paten, tidak bisa diganggu gugat. Jadi, kalaupun aku membuat perencanaan dengan mendalam dan menyeluruh, enggak akan ngefek apa-apa karena gak akan tercapai juga. Tapi aku gak terlalu ikutin arus juga sih, nanti bisa tenggelam, atau tersesat kan? Aku cuma mempersiapkan diri atas semua kemungkinan yang terjadi.
Apa? Kematangan emosional? Aduh, kesabaranku setipis tisu! Menulis tulisan ini saja (meskipun secara harfiah mengetik sih) sudah bikin aku kesal (karena pegal) dan kayaknya akan aku selesaikan sebentar lagi.
Terakhir, otakku kosong. Kopong. Kalau gak kosong pasti aku sudah bisa menyelesaikan studiku sejak 3 tahun lalu. Aku juga pasti sudah dapat pekerjaan (dengan gaji) lebih baik. Akupun bisa menjawab semua pertanyaan hidup ini. Atau sekalian saja jadi filsuf, seperti Socrates misalnya?
Tapi tidak. Tidak. Aku hanya aku. Menginjak usia dua lima tidak serta merta membuatku jadi seorang superhero yang bisa menurunkan suhu bumi 1.5° secepat kilat dan membuat kita terhindar dari krisis iklim. Tidak juga membuatku bisa melenyapkan sampah yang ada di Bantargebang dengan sekali tepuk. Aduh, apalagi mencapai yang katanya seharusnya itu, tentulah semakin gak bisa!
Aku hanya aku, seperti ini, apa adanya dan adanya apa? Aku juga masih bertanya-tanya.
Masih soal usia seperempat abad.
- Sastrasa
LIVETWEETING MY DND SESSION: TWENTYFIVE GOT DOWNED! WE'RE ON DEATHSAVES!!
(Twentyfive is my huge Warforged with 48hp btw. A ghost challenged them to a duel)
#sekt #four #martini #twentyfive #cranio #bar25 #holzmarkt #mural #ko #bad #1998 #2016 #graffiti #coexistence #brazil #chaf #pek #dollares #vivaaqua #clubculture #kozser #deathofgraffiti #saopaulo #berlinmural #spurloser https://www.instagram.com/p/Cl6-EsVr9e3/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Andrea Porcu - TWENTYFIVE
Rohs! Records
2014