Looking for a Sanctuary at Jogja
Suatu malam di stasiun Senen, Jakarta Pusat. Kereta ekonomi dengan nama Bogowonto, memanggil para penumpangnya untuk memulai perjalanan ke Yogyakarta. Akupun mulai menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk membawa ku pergi meninggalkan Jakarta sejenak dari segala drama dan amarahnya.
Perjalanan ke Jogja semuanya dimulai dari teman Mehran yang bernama Kanya, seorang arsitek junior yang mengajak Mehran untuk melihat perayaan Waisak di Borobudur. Mehran tanya kepada dia, berapakah budget yang dibutuhkan untuk perjalanan tersebut. Kanya menjawab “sekitar 1 – 1,5 juta”. Mehran langsung menggangguk tanpa ragu. Keraguan yang tersisa hanyalah Mehran masih harus menabung untuk Asian Underwater Hockey Championship bulan September di Cina. Dalam perjalanan ini, ada 7 orang, Mehran, Kanya dan 5 lainnya baru kenalan di stasiun. Kelimanya adalah teman-teman Kanya.
09.55 kereta berangkat tepat pada waktunya, kita sudah duduk di kursi 90 derajat dengan dua orang asing di depan Mehran dan Vava, teman kursi 90 derajatku. Kereta Bogowonto menurut Mehran sangatlah nyaman, AC nya dingin, toilet bersih, stop kontak, dan kursi 90 derajatnya. 9 jam duduk di kursi ini, tidak bisa meluruskan kakimu karena ada orang asing di depan, bukanlah sesuatu yang Mehran ingin rasakan lagi di masa depan. Mehran pikir Vava sangatlah beruntung bisa duduk di kursi seperti ini dengan kaki panjangnya, sedangkan Mehran terbangun setiap dua jam sekali yang mengakibatkan flu dan pilek dikeesokan harinya.
-Vava my 9 hours seatmate
Matahari pagi menyambut kita layaknya mengucapkan selamat datang di kota Jogjakarta. Setelah mengorder salah satu layanan transportasi online kami pun sampai ke hotel kami yang sederhana, yakni Rumah Eyang Guesthouse di daerah Parangtritis, sebuah hotel kecil-kecilan yang dimiliki oleh Eyang Coen, seorang veteran pilot Belanda. Guesthouse ini sangat murah! 75.000 per malam dengan AC dan sarapan! JOSS.
Setelah mandi dan berberes, kami pun bersiap-siap ke Candi Mendut, untuk membeli tiket lentera dan melihat acara awal dari perayaan Waisak. Candi Mendut berlokasi di daerah yang sama dengan candi Borobudur yakni Magelang. Tepatnya, Candi Mendut berada 3 kilometer sebelum Candi Borobudur.
-the entrance gate of Mendut temple
Komplek Candi Mendut sendiri pada saat itu penuh dengan orang-orang beragama Buddha sedang berkumpul sebagian ada yang berdoa di tenda maupun didalam Candi Mendut itu sendiri. Di komplek Candi Mendut inilah kami membeli tiket untuk perayaan lampion malam hari nanti, penjualan tiket lampion ini diatur oleh panitia yang menggunakan pakaian dan atribut berwarna putih dengan tulisan WALUBI, singkatan untuk Wali Umat Buddha Indonesia. Untuk membeli lampion, cukup mengeluarkan uang sebesar Rp. 100.000 paket untuk 4 orang, bila dalam satu kawanan kurang dari 4 orang tetap harus membayar sebesar Rp. 100.000. You will get one of this badge after purchasing lantern ticket
Dari Candi Mendut sendiri nanti pada pukul 17.00 akan ada parade ke Candi Borobudur, festival ini berjalan sepanjang 3 kilometer. Sayangnya, kami tidak dapat mengikuti parade ini karena kami harus menjemput teman kami yang baru datang.
These children were actually following the line of the prayer but when they are not focused i asked several questions. Sorry kids L but you are way to adorable and like me not focused on the prayers when i was your age.
Sejujurnya, ketika melihat Candi Mendut, pikiran yang langsung terlintas adalah Candi Mendut ini keciiil banget dibandingkan Borobudur atau Prambanan. Mungkin Candi Mendut adalah temple prototype yang menjadi awal mula, titik acuan dari kelanjutan candi-candi di Jogja yang megah. Skalanya mungkin 1:60 something, belum lagi tinggi nya! Insinyur-insinyur Dinasti pada masa itu mungkin berpikir setelah berhasil membuat Candi Mendut, “We did it guys, we are be able to make a temple, lets level up!”. Tentu saja dalam bahasa lokal pada masa itu tentunya. Menurut sejarah juga, Candi Mendut dibuat beberapa tahun sebelum Candi Borobudur dibawah kuasa Dinasti Syailendra yang penganut agama Buddha, pada masa itu suasana antar agama sangatlah damai sehingga, Dinasti Sanjaya yang menganut agama Hindu beberapa tahun kemudian membuat Candi Prambanan sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Trimurti. Setelah berkelana menjelajahi candi-candi ini (yang candi bukit Moko belum) Mehranpun berasa “... these engineers were beyond awesome, i request the highest of fives”.
photo copyright: Kanya Pratita
photo copyright: Kanya Pratita
photo copyright: Kanya Pratita
Masih berada di Candi Mendut, tepat disebelah komplek Candi Mendut, terdapat sebuah komplek yang berisikan patung-patung dan candi-candi kecil pemberian dari negara-negara tetangga seperti Jepang (kata batu nisan yang tertera di depan pagar)
Jam menunjukkan pukul 12 siang hari, kami masih berada di Candi Mendut dan segera bersiap melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Kami memutuskan tidak untuk mengikuti parade, dan memilih ke Goa Maria di Sendangsono. Sembari menunggu perayaan lampion malam harinya.
Ada apa dengan Goa Maria? Jadi pada tahun 1940an, orang Jogja yang ingin memeluk agama Katolik dibaptis disini, dengan alasan pencarian sumber mata air yang masih murni dan segar. Sejujurnya, Mehran tidak tahu bagaimana pada tahun 1940an mereka, katekis-katekis pertama itu naik ke atas bukit letak dimana Goa Maria sekarang ini. Seiring berkembangnya zaman, akses ke Goa Maria dipermudah, bila menggunakan mobil dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dari daerah Magelang. Goa Maria sekarang inipun tempatnya dibuat sangat apik sekali lengkap dengan arsitektur yang sangat unik. Seperti lapisan konblok, penempatan kapel-kapel kecilnya, makam-makam para katekis pertama dan tentu saja patung Bunda Maria, tang terakhir sumber mata air yang sangat fresh. Sumber mata air ini free untuk diminum, sehingga banyak orang-orang membawa tempat minum dan bahkan sebelum memasuki komplek Goa Maria bakal ada penjual-penjual yang menjajakan jerigen-jerigen untuk diisi sumber air tersebut.
makam pertama dari katekis pertama warga Jogja
ini adalah sumber air dari pembaptisan pertama, sekarang ini sudah diperbaiki tempatnya sehingga bisa diambil secara gratis dan lebih mudah pengambilannya.
Setelah merasa puas di Goa Maria, kami memutuskan untuk melanjutkan langsung ke Candi Borobudur, namun perut terasa lapar. Dan jauh-jauh ke Jogja kami memutuskan untuk memakan McDonalds. HMM.
Setelah menjemput teman kami yang menyusul, kami pun langsung ke Borobudur untuk acara utama yakni, malam lampion. Waktu menunjukkan sekitar 18.30, walaupun perayaan lampion baru dimulai sekitar pukul 20.00-21.00, jalanan sekitar Borobodur sudah penuh dan mulai macet. Kamipun akhirnya memarkir mobil kami, dan berjalan masuk ke komplek Borobudur tempat lampion yang berjarak sekitar 500m. Atau kalau malas ada jasa ojek yang sudah mematok harga dari parkiran kedalam komplek seharga 10.000 idr.
Sesampainya di tempat pelepasan lampion, orang-orang WALUBI masih merapikan tempat dan memasukkan lampion-lampion ke lapangan besar tempat pelepasan nantinya. Sekitar pukul 20.00an orang-orang yang sudah memiliki tiket harap mulai menunggu di depan pintu masuk, namun, kita dan ratusan oran lainnya menunggu selama satu jam berdiri di depan pintu masuk. WALUBI dan para biksu berbicara sangat sopan dan baik, meminta kita sabar karena pintu masuknya sedang dibuat.
Setelah satu jam berdesakan dengan orang-orang, panitia membuka pintu dan membiarkan kami dan lainnya masuk sebagai peserta sesi pertama dari tiga sesi to melepaskan 1999 lampion tepatnya, seperti yang disebutkan dalam spanduk besar di depan kita.
Dengan presentasi pelepasan lampion oleh para biksu dan bantuan dari panitia yang stand-by kita pun akhirnya berhasil melepaskan lampion sebesar 50cm! Ketika pelepasan tersebut, MC mengucapkan doa-doa indah agar kita memiliki kehidupan yang bahagia nantinya. Ketika lampion-lampion terbang ke langit, it was beyond beautiful! Warna lampion yang kontras dengan warna langit dan bulan purnama membuat perpaduan warna yang indah atas yang dapat ditangkap dan direkam oleh mata. One of the best night in 22 years old i live in earth.
photo credit: Kanya Pratita
- One mat or one ticket for four people
photo credit : Kanya Pratita
Terkait dengan acara pelepasan lampion yang dibuka untuk umum oleh orang-orang yang beragama buddha, menurutku sebagai sesama orang Indonesia maupun turis asing, kita harus menghormati perayaan acara lampion ini sebagai salah satu bagian dari hari perayaan agama Buddha. Penghormatan ini dimulai dari tidak menggunakan baju-baju minim, tidak mengambil foto yang begitu dekat dengan si biksu yang sedang berdoa hanya untuk dibagikan di media sosial. Seriously, it is rude and disrespectful.
Sesi pertamapun berakhir, kamipun diarahkan keluar agar peserta sesi kedua dapat masuk. Vava dan aku mendapatkan spot sangat bagus ketika pelepasan lampion sesi kedua terjadi, dan again it was majestic and ashtonising! Kita masih bertahan sampai sesi ketiga, disesi ketigapun aku memilih untuk membeli matras sekali pakai yang seharga 5.000 idr dan mencari tempat tiduran untuk melihat pelepasan lampion sesi ketiga. And that’s how the nights end and chapter one ended amazingly!
Stay tune for the chapther two xo