Suatu hari,sang pendongeng jatuh sakit. Kulitnya memucat,napasnya berat, dan tubuhnya takhenti-hentinya menggigil. Berbagai ramuan obat telah dimasak, bermacam pil telah dicoba, tetapi kian hari ia kian lemah, hingga tak sanggup bangkit dari tempat tidur.
Malam-malam di rumah sang pendongeng berubah sepi. Tak ada dongeng, tak ada tawa, tak ada kayu bakar dalam perapian, tak ada kehangatan. Tanpanya, musim dingin tahun itu terasa lebih dingin dari sebelum-sebelumnya.
“Sesuatu berada di dalam tubuhnya” ujar tabib yang memeriksanya. “Sesuatu yang jahat”
“Apakah ayahku bisa sembuh?” Anak perempuan si pendongeng bertanya dengan cemas.
“Berdoalah, waktunya sudah dekat” sahut sang tabib.
Namun, anak itu tidak percaya. Tentunya ada sesuatu yang dapat menyembuhkan sang pendongeng-kulit serigala, pucuk termuda tanaman rosemary yang mekar saat matahari terbit, tiga bulu emas dari seekor naga, embun pagi dari pohon ek hutan terlarang, ramuan sang penyihir. Pasti ada!
Sebuah ide brilian melintas. Ia dapat mencarinya lewat dunia rahasia dalam buku-buku dongengnya, bukankah begitu? Dengan itu,anak perempuan sang pendongeng menghapus air matanya,menyiapkan perbekalannya di malam hari, dan bertolak sebelum fajar menyingsing.
Dia akan bertualang- tetapi,ini bukan petualangan biasa. Dia akan mencari obat ajaib untuk menyembuhkan penyakit ayahnya.