Lokasi: Parkiran Bawah Tanah 2, Kantor Pusat
Waktu: Pagi, sebelum jam mulai kerja
(mematikan sepeda motor, membuka helm, menaruh helm di spion kanan, mengunci stang, turun dari motor)
(berjalan menuju mesin absen)
(sampai di mesin absen, menaruh jempol di mesin absen)
(muncul nomor identifikasi dan tulisan “success”)
(berjalan menuju lift, lalu memencet tombol lift)
(lift terbuka, tampaklah manusia bertumpukan di dalamnya, lift penuh)
“Ya sudah, naik yang berikutnya saja”
(memencet tombol lift, menunggu lagi)
(kejadian yang sama berulang, lift yang datang setelah ditunggu ternyata penuh)
“Padahal cuma mau naik ke lantai 1.”
“Yah, naik tangga saja kalau begitu ke lantai 1, lumayan, olahraga pagi.”
(mulai menaiki tangga dari parkiran bawah tanah 2 ke parkiran bawah tanah 1 dan terus naik ke lantai 1)
(sampai di depan pintu keluar tangga lantai 1)
“Lah, itu ada kotak apa itu di depan pintu, besar sekali?”
“Dicoba dulu saja, mungkin pintunya bisa dibuka sedikit dan badan langsing ini bisa muat untuk lewat.”
(memutar kenop dan mulai mendorong pintu, ternyata memang tidak bisa dibuka)
“Sial, terhalang total. Pintu tidak bisa dibuka.”
“Ku naik saja ke lantai 2, nanti dari lantai 2 baru turun lagi ke lantai 1.″
(membalikkan badan, menaiki tangga menuju lantai 2)
(sampai di pintu, mendorong kenop dan melongokkan kepala)
(terlihat pemandangan aula yang belum berisi namun telah didekorasi, kursi-kursi tertata rapi dan sebuah proyektor telah dinyalakan meski belum menayangkan presentasi)
“Lho? Kok tembus ke sini? Ini ‘kan aula?”
“Tidak bisa. Kalau keluar lewat sini pasti bakal ditanya-tanya oleh petugas yang berjaga di pintu itu.”
“Baiklah, naik ke lantai 3 saja dulu, nanti dari sana baru keluar, naik lift dan turun ke lantai 1”
(membalikkan badan, berjalan naik ke lantai 3)
(sampai di lantai 3, meraih kenop pintu dan membuka pintu)
(terasa hembusan pendingin ruangan menerpa wajah)
“Aneh, baru membuka pintu tangga darurat saja, hawa dingin dari pendingin ruangan sudah terasa. Mengapa koridor ini dipasangi pendingin?”
(melangkahkan kaki ke koridor)
(pijakan kaki terasa lembut)
“Astaga! Ini kan lantai kepala instansi dan eselon 1! Pantas saja!
(langsung melarikan diri ke tangga darurat lagi)
“Ya sudahlah, naik satu lantai lagi juga tidak mengapa, nanti turun lagi pakai lift” (sambil berjalan menaiki tangga ke lantai 4)
(sampai di depan pintu keluar ke lantai 4, termangu)
“Ya Tuhan, ini pintu mengapa bisa tidak ada kenopnya? Bagaimana cara membukanya kalau begini?” (menepuk jidat)
“Sudahlah, kalau begini ceritanya, ku balik lagi saja ke parkiran bawah tanah, keluarnya lewat pintu parkiran saja, nanti dari sana masuk lewat pintu depan”
(berjalan menuruni tangga menuju parkiran bawah tanah)
“Lumayan juga nih, olahraga lagi turun beberapa lantai ke bawah. Sial.”