Valkyrie
Dalam tatanan alam semesta yang seharusnya, perisai itu ditakdirkan untuk tanganku. Sebagai anak laki-laki pertama di antara kami, duniaku dibentuk oleh bisikan bahwa akulah yang kelak akan berdiri di depan, menahan angin, menjadi benteng bagi keluarga.
Tapi takdir punya selera humor yang aneh, dan semesta sepertinya tuli pada bisikan itu. Perisai itu terasa dingin dan asing di genggamanku; terlalu berat, terlalu besar. Dan saat aku terhuyung oleh bebannya, kau melangkah maju. Kau, yang terlahir pertama, yang seharusnya menjadi tuan putri, malah menjadi ksatria yang mengambil alih beban itu tanpa sepatah kata. Kau angkat perisai itu seolah ia terbuat dari cahaya. Dan sejak saat itu, aku menjadi seorang pengamat.
Aku melihatmu, yang seharusnya dilindungi, justru menjadi pelindung. Punggungmu yang seharusnya bebas, malah menjadi peta dari semua jalan buntu yang kau hadapi sendirian. Aku melihatmu, yang seharusnya fokus membangun istanamu sendiri, justru sibuk menambal retakan di dinding rumah kita, memastikan kami semua tetap hangat di dalamnya. Dengan tangan yang sama, kau memastikan adik-adik lelakimu bisa mengejar layang-layang mereka lebih tinggi, dan memastikan dermaga tempat orang tua kita berlabuh tetap kokoh dari hantaman ombak.
Punggungmu, yang menjadi peta dari semua perjalanan sunyimu, adalah satu-satunya kompas yang kumiliki. Aku mungkin gagal menjadi benteng, tapi aku berjanji akan menjadi pengikut yang baik. Aku akan mempelajari setiap jengkal petamu, berharap suatu hari nanti aku cukup kuat untuk berjalan di sampingmu, bukan hanya di belakangmu.
Dan rasa hormatku? Anggap saja itu udara yang kau hirup tanpa sadar. Ia ada di mana-mana, selalu, menopangmu dalam diam.
Roni. | 12 Agustus 2025



















