Teruntuk Kisah Besar Masa Kecilku; Aku Rindu
Walaupun bulan tak menghiasi langit malam ini, namun bagi saya langit malam ini tetap menyisakan kekaguman yang sangat pada pemilik semesta. Kali ini saya memilih diam. Terpaku pada sebuah ruangan 5 x 3 meter persegi, duduk, tenang dan menikmati setiap alunan tembang dari siaran radio malam ini.
“Ingin ku kembali ke masa yang lalu, bahagianya dulu waktu kecilku.
Kudengar cerita mama papa bilang aku lincah lucu, waktu kecilku.
Waktu kecilku, aku suka bernyanyi”
Alunan tembang lawas milik Alm Chicha Koeswoyo yang pernah dicover sama Elfa’s Singer mengalun pelan dari sudut ruang. Lagu itu tedengar berbeda setelah mendapatkan sentuhan khas dari Payung Teduh. Lamat-lamat namun jelas, syair yang menyeruak di telinga dan merasuk dalam hati kemudian berhasil membawa saya kembali pada masa lalu. Masa kecilku, seperti apa yang tersurat dalam syair.
Bagi saya, masa kecil adalah masa di mana saya bisa tertawa lepas. Menari-nari, merentangkan tangan dan tertawa tanpa beban. Masa di mana PR matematika adalah beban yang paling berat. Masa kecil, adalah masa di mana saya, kamu, dan kita semua tak mengenal malu. Masa di mana kita menjadi makhluk mungil, lucu, polos yang tak banyak tahu.
Setiap kita pasti pernah menjadi anak kecil. Setiap kita pasti punya cerita seru seputar masa kecil. Namun kehidupan masa kecil setiap orang pasti berbeda, tentu dengan adanya pengaruh waktu. Masa kecil jaman old adalah masa kecil yang belum mengenal gadget. Masa kecil dengan permainan sederhana dan ala kadarnya. Masa kecil saya punya banyak cerita. Saya masih mersakan serunya permainan tradisional seperti lompat karet, petak umpet, gobag sodor, benthik, ingkling, dhakon dan sebagianya. Namun sayang seribu sayang, permainan jaman old semakin tegeser keberadaannya dengan munculnya gadget, dengan lahirnya game dari generasi jaman now. Perkembangan teknologi juga telah mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia jaman now.
Perkembangan teknologi tidak mengubah kecintaan saya sama radio. Sejak kecil saya suka musik, saya suka bernyanyi, walaupun saya sangat sadar bahwa suara saya jauh di bawah rata-rata, fales dan sumbang. Bapak dengan sabar dan tlaten menemani saya bernyanyi. Beliau rajin membelikan saya kaset pita yang isinya lagu anak favorit saya, ada Maisy yang terkenal dengan Cilukba, Chikita Meidi, Trio Kwek-Kwek, Cindy Cenora “Aku Cinta Rupiah”, Eno Lerian, Bondan Prakoso Si Lumba-lumba dan masih banyak lagi. Koleksi kaset pita saya lumayan banyak. Kadang, saya dan Bapak menyanyikan lagu-lagu The Beatles dengan diiringi genjrengan gitar tuanya. Dan Bapak pula yang selalu menemani saya mendengarkan radio. Acara favorit saya waktu itu adalah Dongeng Bunda Cahaya di stasiun Retjo Buntung (sepertinya sampai sekarang acaranya masih ada) dan acara tangga lagu anak. Sungguh saya merindukan ritual bersama Bapak.
Zaman dulu, ketika saya pengin dengerin lagu favorit, saya harus sabar nongkrongin radio. Nggak kaya sekarang di mana lagu apapun bisa didownload bebas dan gratis, tinggal cari aplikasi pada gadget untuk bisa menikmati lagu apapun yang kita mau.
Mendengar radio sama dengan membaca buku tanpa gambar, yang ada hanya tulisan atau suara, dan kita bebas menginterpretasi, bebas menggambar di dalam mental/alam pikiran kita sendiri. Sungguh proses mental yang dua kali lebih baik dari menonton TV!
Radio memang sampai sekarang masih ada. Tapi soal maknanya, anak-anak jaman old yang paling tahu pastinya. Bisa dibilang radio adalah media yang menemani masa pertumbuhan saya saat anak-anak sampai remaja. Lagi nganggur? Mendengarkan radio. Lagi PDKT? Kirim-kirim salam lewat radio. Lagi belajar? Sambil ditemani suara penyiar kesayangan. Lagi di sekolah? Mendengarkan radio pake walkman, sembunyi-sembunyi supaya nggak ketahuan guru (jangan ditiru) heheheee. Bagi saya, radio bukan sekadar media hiburan. Tapi juga teman sejati. Selain romantis, momen-momen saya dengan radio juga memorable banget. Bikin kangen. Radio memiliki peran ajaib dalam hidup saya.
Anak radio sejati pasti pernah request lagu, termasuk saya, yang hobi banget menyisihkan uang jajan demi beli kartu request dan datang langsung ke stasiun radio, atau dibela-belain antri di wartel atau telpon umum yang masih pake koin demi nelponin penyiarnya dan minta lagu favoritnya diputerin. Itulah kelebihan radio yang nggak pernah bisa digantikan. Kita bisa request lagu dan kalau beruntung, lagu kita akan diputar di udara.
Salah satu seni dari dengerin radio sebelum ditemukannya gadget adalah saya harus super sabar muter tuner radio demi menemukan frekuensi radio kesayangan. Nyari frekuensi nggak pernah sepele. Radio jadul saya harus diputar-putar tunernya untuk menemukan frekuensi yang dicari. Menemukan frekuensi ini susahnya bukan main, karena saya harus mencari dari atas sampai bawah dengan memutar tuner radio. Belum lagi, susahnya mencari posisi yang pas supaya sinyal radio bagus. Nggak jarang antena radio harus dipegangi supaya suara radio jadul saya jernih. Duh, zaman dulu, mendengarkan radio juga penuh perjuangan hlo.
Yang nggak kalah serunya dari radio adalah kirim-kiriman salam. Banyak banget versi salam-salaman ala-ala anak radio.
“Oke Niia, kamu mau kirim salam buat siapa?”
“Buat Fika, Chitra, Vita, Ayu, Vina, dan Rere yang selalu setia menemani hari-hariku, aku sayang kalian. Buat Yoga yang ada di sebelah aku. Buat Jono sama Wahyu, aku benci kalian yang selalu jahilin aku. Buat Sri, Dewo, Ana….”
Bisa jadi nama temen sekelas saya sebutin semua sampai penyiar mem-pause atau lebih parahnya meng-cut salam sapa manja dari saya, hahaaaa. Selain request lagu, kirim-kirim salam ini juga nggak kalah berkesan. Pernah juga saya sok-sok menjadi sosok misterius ketika nelponin stasiun radio, sok-sok pakai nama palsu dan suara yang diimut-imutin atau disangar-sangarin.
“Oke, Sailormoon, mau kirim salam buat siapa?”
“Buat Tuxedo Bertopeng, semoga sehat selalu.”
Namanya juga anak-anak yang beranjak remaja. Ada kalanya ingin menjadi sosok lain, entah apa alasannya. Kalau ingat yang ini rasanya mau ketawa sampai guling-guling.
Rasanya saya adalah anak alay pada jamannya. Tapi anehnya, momen-momen alay itu selalu membekas di hati dan punya kenangan sendiri. Radio, adalah salah satu benda paling romantis, yang menjadi saksi betapa polos dan alay-nya saya waktu dulu. Ah, jadi pengin kirim-kirim salam lagi nih, hahahaaa.
Salah satu bukti bahwa radio memiliki banyak makna untuk pendengarnya adalah adanya beberapa lagu yang mengangkat tema “radio”. Mungkin sebagian dari kita udah pernah denger lirik ini :
“Di radio aku dengar lagu kesayanganmu,
ku telepon di rumahmu sedang apa sayangku,
ku harap engkau mendengar dan ku katakan rindu”
You’re right! Itu salah satu lagu jadul dari om Gombloh yang mengangkat tema radio dalam liriknya. Atau mungkin ini :
“So, I listen to the radio (listen to the radio)
And all the songs we used to know (listen to the …)
So I listen to the radio (listen to the radio) Remember where we used to go“
Itu adalah salah satu lagu favorit dari band The Coors yang sangat tenar membahana ketika saya masih duduk di bangku SMP. Satu lagu lagi yang nggak boleh ketinggalan:
"Lewat radio aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam,
terus mencari biar musim berganti
jika hingga nanti ku tak bisa menemukan hatinya,
menemukan hatinya, menemukan hatinya lagi"
That's right, Sheila On 7! Band kesayangan yang lagu-lagunya selalu bisa menjadi sountrack of my life.
Itulah, kenapa radio itu punya arti besar buat saya dari jaman saya masih anak-anak, remaja dan sampai sekarang. Dari jaman saya suka nunggu program acara dongeng dan tangga lagu anak sampai detik ini. Nggak perduli itu ketika saya sedang bahagia, sedang sedih, sedang nggak punya uang, jatuh cinta, ketika nggak bisa tidur, ketika lagi unmood, atau sekedar pengen update lagu baru. Radio selalu dekat dengan saya. Saya adalah salah satu pendengar radio yang baik, radio buat saya adalah teman curhat, teman sejati, dan teman yang selalu bisa diandalkan untuk menjaga rahasia, hahahahaaa (hla ya wong benda mati)
Saya lebih memilih dengerin radio dari pada saya bete dan nggak jelas mau ngapain. Banyak informasi yang bisa saya dapat dari sana, bakal tahu referensi lagu-lagu baru biar nggak kudet dan yang penting, paling asyik kalo denger radio sambil baca buku, nulis diary dan nyruput kopi hitam. Aduhaiiiiii nikmatnya hidup ini.
Berbicara tentang diary, masa kecil saya juga sangat dekat dengan buku tulis bersampul tebal, dilengkapi lubang kunci mungil di bagian sampingnya, tertutup rapat, terkunci, tersimpan di balik bantal (supaya hanya saya yang bisa membuka dan membaca isinya). Tiap pulang sekolah, tiap malam sehabis belajar, atau tiap ada waktu luang, saya selalu menuliskan apa yang terjadi seharian itu. Tentang sekolah, tentang sahabat, tentang kegiatan saya, dan apapun yang mengesankan. Buat saya, yang hidup di jaman now tapi masih menikmati sisa-sisa keseruan jaman old, diary atau buku harian bukan hanya kumpulan tulisan: ia adalah kehidupan saya.
Dalam diary, kertas-kertas adalah kaca. Membaca lembar-lembarnya adalah melihat cerminan diri saya yang sebenarnya. Ketika saya membaca ulang diary saya, saya merasa menemukan diri saya telah sangat berkembang dari saya yang dulu. Ketika pertama kali masuk sekolah, pertama kali ikut kegiatan mencari jejak, pertama kali berkemah dengan regu pramuka, ketika main ke kebun ujung kampung dan main masak-masakan sama temen-temen, maupun ketika pertama kali saya jatuh cinta. Semua terangkum rapi dalam buku harian saya.
Keberadaan diary pada zamannya sangat ampuh sebagai teman curhat dan sebagai media menyalurkan emosi. Sebagai anak yang tergolong introvert, menulis diary bisa membantu saya untuk mengekspresikan diri, apalagi menulis sambil dengerin radio (tetep ya radionya nggak mau ketinggalan).
Masih tersimpan dalam ingatan, anak-anak jaman old juga suka mengumpulkan kertas binder, saling bertukar kertas-kertas koleksinya. Semakin banyak ragam dan varian kertas yang dimiliki maka semakin tinggi pula prestis dalam dunia perbinderan. Saya pun pernah dengan sengaja mengedarkan diary saya ke seluruh penjuru kelas dan meminta teman-teman untuk mengisinya. Ada yang mengisi dengan biodata sampai pesan dan kesan kepada si-pemilik diary.
Motto hidup : Hiduplah Indonesia Raya
Kesan : pipi kamu mirip bakpao (itulah kejujuran anak SD jaman dulu)
Pesan : jangan lupa persahabatan ini
Nggak hanya berhenti di kelas, si-diary pun mencari mangsa untuk diisi. Semakin banyak temen yang ngisi diary kita, tandanya kita punya banyak temen, kalau istilah sekarang mungkin followers. Bahagia yang tak terperi, sesederhana itu.
Menulis diary sebenarnya juga usaha untuk membuat kehidupan kita abadi. Siapa tahu, buku-buku harian itu akan menjadi sebuah saksi sejarah yang bisa mengubah dunia, memberi informasi pada generasi mendatang tentang kehidupan zaman sekarang. Agak sedikit berlebihan memang, namun siapa tahu? Hahahaaa.
Diary adalah bukti bahwa saya tak pernah sendirian. Di saat-saat paling tenang, pikiran dan tulisan sendiri bisa menjadi teman. Setiap kita pasti pernah mengalami hal buruk, sekalipun kita masih kecil, masih anak-anak. Mungkin kita malu menceritakannya kepada orang lain karena dianggap terlalu pribadi, atau karena tak ingin cerita kita membuat orang tua cemas. Diary selalu memberikan ruang paling tenang.
Selain menulis diary, saya juga suka menulis surat. Yah, surat untuk sahabat pena. Waktu saya masih SD, saya punya sahabat pena, cukup banyak. Lebih dari lima orang. Saya ingat, sahabat pena saya pertama kali berasal dari Bali. Dari mana saya mendapatkan alamat sahabat pena saya? Jadi ceritanya dulu saya suka dibeliin majalah Bobo bekas sama Ibuk, dari majalah Bobo itu saya cari halaman surat pembaca. Biasanya di bagian ini ada yang memang sengaja menulis surat ke Bobo untuk mencari sahabat pena. Saya juga mencari sahabat pena dari buku Sahabat Pena yang diterbitkan oleh PT POS Indonesia. Bukunya saya pinjam dari perpustakaan daerah tempat saya tinggal.
Cukup lama saya menjalani hobi saya ini, dari SD hingga SMP. Awalnya saya sangat rajin berkirim surat. Dalam seminggu saya bisa kirim empat hingga lima surat dan dalam seminggu saya bisa menerima jumlah surat yang sama. Dulu, sekalinya beli perangko langsung banyak. Harga perangko waktu itu masih Rp 300,- itu pun udah bisa sampai ke Aceh sana, meskipun sampainya agak lama dibandingkan perangko yang nominalnya lebih tinggi. Tapi, semakin lama harga perangko semakin mahal. Pak Pos-nya tidak mau lagi menerima perangko Rp 300,- . Awalnya naik jadi Rp 500, naik lagi Rp 700, naik lagi Rp 1000, dan terus saja naik. Sampai akhirnya saya merasa tekor. Ini hobi yang menguras biaya untuk ukuran anak SD/SMP, apalagi kalau sahabat penanya banyak. Belum lagi untuk biaya membeli kertas surat, hahahaaa. Untuk menghemat, saya pakai kertas biasa dari buku tulis. Amplopnya pun amplop putih biasa. Kalau sedang ada uang, saya beli kertas surat yang bagus, yang wangi.
Dari hobi menulis surat ini, saya juga jadi suka mengumpulkan perangko. Sok-sok jadi filateli gitu ceritanya. Setelah membaca surat dari sahabat pena saya, kemudian saya menyimpan perangkonya. Ada yang saya robek begitu saja dari amplopnya, ada yang amplopnya dibasahi dulu baru dicabut pelan-pelan perangkonya, ada yang pakai air panas di mangkok kecil terus saya tutup mangkoknya dengan amplop bagian tertempel perangko menghadap ke dalam mangkok. Saat ini koleksi perangko saya tinggal satu album kecil, yang lain entah menguap ke mana?
Anyway, ada sensasi tersendiri dari hobi saya ini. Menulis suratnya, beli perangkonya, ke kantor posnya, dan mengirimkan suratnya. Kemudian bertanya-tanya dalam hati, “surat saya sudah sampai belum ya? Berapa lama sih surat saya bisa sampai? Kok surat saya belum dibalas ya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang tidak saya temui lagi di era gadget seperti sekarang ini. Saya rindu masa-masa saya rajin berkirim surat.
Sekarang kalau melihat anak-anak seusia SD/SMP sudah terokupasi dengan gadget mereka, saya kok jadi merasa kasihan dengan mereka. Anak-anak ini sepertinya tidak kenal dengan yang namanya kantor pos, boro-boro perangko. Mereka tidak merasakan sensasi ketidakpercayaan atas kotak pos. Kalau dulu saya takut dan ragu-ragu sekali kalau mau kirim surat lewat kotak pos (meski akhirnya surat saya sampai juga di tangan sahabat pena saya).
Mengingat-ingat pengalaman masa kecil saya, saya mulai merindukannya. Itulah yang sedang saya rasakan sekarang. Saya rindu muter-muter tunner radio demi mencari chanel kesukaan, rindu menunggu acara favorit di radio, rindu curhat sama diary, rindu menulis surat dengan tangan saya. Saya rindu sahabat-sahabat pena saya yang sekarang entah berada di mana. Saya rindu membeli banyak perangko. Saya rindu kantor pos. Saya rindu tukang pos.
Jujur, kerinduan saya semakin memuncak. Yang saya tahu, masa itu, imajinasi sangat sulit untuk saya bendung. Duduk bersila, tangan terlipat, mata terpejam, napas keluar teratur, hening, khusyuk, dan tak bergeming. Dan saya akan tertawa atau kadang tersipu malu saat mengingat masa kecil saya.
Teruntuk kisah besar masa kecilku; saya sangat merindukanmu. Kamu adalah bagian hidup yang paling indah bagi saya. Kamu adalah waktu di mana saya hanya perlu berlari dan tidak pernah takut jatuh. Waktu di mana saya akan bernyanyi sekuat mungkin, melepaskan segala suara dari hati, meyuarakan ke alam bebas, tidak perduli nadanya sumbang. Saya rindu masa itu. Tak perlu baju bagus, makan enak atau bahu penopag untuk dijadikan sandaran. Yang saya butuhkan hanyalah hujan untuk basah, lalu matahari untuk kembali kering. Yang saya butuhkan hanyalah angin untuk menebarkan suara hati. Kamu adalah waktu di mana logika tak perlu diandalkan.
Akhirnya, saya harus mengakui betapa Tuhan itu hebat. Saya tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang saya dapat setiap hari. Dan tanpa ingin terbebani dengan apapun, setiap waktu bagi saya adalah kebaikan Tuhan.
Imanti; Sudut Ruang Rindu, 30 Januari 2018