Sebuah Kontradiksi "Rasa".
Kepergian ku kali ini bukan lagi tentang berlari dari duka, melainkan tentang arti berjuang. Yaitu berjuang untuk menghadapi segala rasa yang akan semesta hadirkan, nanti!
Sebenarnya, aku belum tau pasti apakah luka yang ku biarkan menganga ini sudah tertutup rapat atau justru makin melebar??
Sungguh, anehnya aku justru menikmatinya.
Bukankah sebuah rasa merupakan pemberian dari semesta?
Rasanya kurang aja jika hati ini hanya menginginkan sebuah rasa "euphoria", saja.
Sekali lagi, sungguh. Jika nampaknya engkau masih ingin bersemayan di dalam diriku, aku tidak akan menghindari mu, Luka.
Obrolan singkat ku kali ini dibersamai dengan nurani yang masih begitu legowonya mengatasi segala rasa yang hadir. Sedangkan akal sedang berjuang keras untuk menepisnya, bukan karena ia lelah, mungkin sudah bosan dengan rasa yang terus-menerus bersemayam tanpa ada ujungnya.
Lalu, cepat-cepat ku buka note yang ada di ponsel ku, jari ini langsung mengetikkan sebuah ungkapan;
Kian lama hati menyimpan duka,
Penyakit hati yang tak ditemukan obatnya,
Sempat lama menganga,
Hingga pada suatu hari,
Ada lelaki dermawan memberikan obat keras,
Perih mata mengalir,
Namun,
Hati yang tergelincir justru menjadi pulih.
Keikhlasan memang tidak dapat dibeli di toko terdekat, sebuah otot yang perlu dilatih dengan hadirnya stimulus yang menyesakkan.
Namun, sungguh.
Jika kau berhasil melaluinya dengan adab yang baik, semesta segera mengajakmu berjalan melihat destinasi yang tidak pernah kamu jumpai sebelumnya.













