K-Pop: Sebuah Pagar Tanpa Batas Antar Dua Manusia
Dia berada jauh disana dan aku di rumah
Memandang kagum pada dirinya dalam layar kaca
Apakah mungkin seorang biasa
Menajdi pacar seorang superstar?
Sepenggal lirik dari lagu Project Pop berjudul “Pacarku Superstar” seolah mengingatkan kita pada kekaguman kita pada seorang tokoh idola yang terkadang tidak bisa diraih hanya dengan sekedar mengeluskan wallpaper telepon genggam berwajah sang idola atau memegang aksesoris wajib sebagai seorang penggemar. Layaknya manusia biasa, penggemar hanyalah sebagai penggemar, yang pada hakikatnya hanya “menyokong” dari belakang, tanpa sang idola tahu siapa dan latar belakang sang penggemar.
Dalam hal ini, saya mungkin salah satu penggemar yang sangat berempati dengan lirik tersebut. Sebagai penggemar berat dunia hiburan asal Korea Selatan, terutama musik K-Pop, saya tidak mau ketinggalan setiap info yang diberitakan melalui media elektronik maupun lini masa pada media sosial saya. Apa daya, yang saya dapatkan hanya kesenangan batin belaka tanpa pernah tahu bagaimana rasanya menonton secara langsung konser idola saya (karena terbatas biaya) maupun hanya sekedar tidak sengaja bertemu. Seperti teman-teman lainnya yang mempunyai nasib sama seperti saya, semua itu dilakukan untuk mendukung apapun yang idola kami kerjakan dan juga sebagai pelarian atas penat dengan kehidupan yang –mungkin saja- terlalu biasa, bahkan sangat luar biasa. Sosok idola yang dibuat sedemikian rupa mendekati sempurna seolah saya sebagai penggemar terkadang kena “bius” idola saya.
Namun, saya seolah disadarkan kembali menjadi diri saya yang utuh ketika menonton sebuah video salah satu artikel mengenai kelakuan penggemar idol Korea Selatan. Pada sebuah perhelatan acara konser, Taeyeon “SNSD” tiba-tiba ditarik oleh salah satu penggemar keluar dari panggung . Hal tersebut sontak membuat kaget para penonton yang hadir pada acara tersebut. Belum lega rasa penasaran saya, seketika saya mencari artikel mengenai kelakuan penggemar yang dianggap kelewat batas. Tidak hanya berlaku pada saat event berlangsung. Bahkan beberapa ada yang berani masuk lingkup wilayah pribadi idola mereka.
Kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya, bila memang penggemar dan sang idola “terjepit” dalam sebuah batasan jarak, mengapa batasan tersebut seolah tidak terlihat di mata penggemar? Mengapa batasan tersebut dengan mudahnya dilanggar?
K-Pop: Sebuah Awal Mula
Sebelum membahas mengenai korelasi penggemar dengan sang idola, ada baiknya kita mengetahui bagaimana perkembangan musik Korea Selatan terlebih dahulu. Berbeda dengan genre lainnya, Korean Pop, atau biasa disingkat dengan K-Pop, adalah sebuah aliran musik yang mengusung boyband atau girlband sebagai objek pasar mereka (beberapa menggunakan band atau solois). Anggota band ini kerap kali disebut sebagai idol, yang awal mula istilahnya berasal dari Jepang, aidoru (アイドル). Gaya ini mulai diadaptasi oleh Lee Soo-man, petinggi SM Entertainment setelah melihat kesuksesan grup Jepang seperti SMAP.
Sebelum didapuk sebagai idol, para calon selebritas dilatih di sebuah agensi dalam kurun waktu yang ditentukan. Selama masa latihan tersebut, siswa pelatihan atau yang baisa disebut trainee atau 연습생 (baca: yeonseupsaeng) diberi pelajaran mengenai bagaimana cara bernyanyi yang baik, menguasai panggung, hingga cakap dalam lebih dari dua bahasa.
Menariknya lagi, pondasi utama untuk menjadi seorang idol tidak cukup bila hanya didukung dengan kemampuan vokal saja. Para siswa pelatihan diberi bekal bagaimana menarik perhatian penggemar dengan gerakan tarian yang sinkron diiringi dengan fan service yang mampu membius penikmatnya, seperti mengedip mata sebelah ataupun bergaya imut nan lucu yang biasa dikenal dengan aegyo (애교). Pembekalan ini diberikan agar para calon artis tidak hanya sekedar melakukan “kewajiban” sebagai seorang penghibur belaka, namun untuk mengeratkan hubungan antara penggemar dengan idolanya.
Beberapa agensi besar, salah satunya SM Entertainment punya cara sendiri untuk mengenalkan para trainee-nya. Sebut saja dengan video aktivitas para siswa pelatihan di markas agensi tersebut yang diunggah langsung di kanal YouTube resmi SM Entertainment. Bahkan Lee Soo-man membuat inovasi idol group yang dapat menjangkau tiap wilayah di seluruh dunia, seperti Asia Tenggara, Eropa, dsb.
Sasaeng: Pagar yang Tak Terlihat Batasnya
Sayangnya, fan service dianggap pisau bermata dua. Di satu sisi, penggemar merasa senang dengan perilaku yang diberi oleh idolanya. Namun efek tersebut juga bisa sangat berbahaya ketika penggemar terlalu menganggap idolanya adalah dewa. Penggemar seperti ini biasa disebut sebagai sasaeng (사생) yang diadaptasi dari kata ‘sa’ (사) yang berarti pribadi dan ‘saeng’ (생) sebagai hidup, yaitu menilik kehidupan seseorang hingga ke ranah privasinya.
Seperti yang sudah dijelaskan di awal, penggemar sasaeng sangat merugikan sang artis dari segi moral hingga batin. Tidak hanya mengikuti secara terang-terangan, namun juga diam-diam menilik bagaimana sang idola hidup, menguntit kegiatan mereka dari pagi hingga menjelang pagi lagi, sampai adanya penggemar yang diam-diam masuk ke rumah sang idola tanpa lolos cek pemeriksaan keamanan.
Sebuah stasiun televisi Korea Selatan menginvestigasi perilaku penggemar sasaeng secara diam-diam. Hasilnya sangat mengejutkan. Beberapa diantara mereka adalah siswa biasa yang hidup dari pundi-pundi orang tua mereka. Mereka juga mempunyai supir taksi langganan yang siap mengantar kemana saja sang idola pergi. Bayaran yang diperoleh supir taksi ini sangat besar. Tidak heran jika beberapa pengendara mengambil tawaran ini walaupun sebenarnya menyalahi aturan privasi.
Mengapa sasaeng ada dalam kehidupan dunia industri hiburan Korea? Sebagai penggemar, rasanya sudah secara alamiah ingin tahu bagaimana perkembangan idola yang kita suka. Dengan cepatnya akses informasi melalui internet, semua orang sudah dapat membaca kabar terbaru dalam hitungan detik saja. Namun rupanya, hal tersebut tidak cukup. Kontak mata dengan sang idola terkadang dibutuhkan.
Dalam hal ini, fan service dianggap sebagai pemicu munculya sasaeng. Beberapa idol menganggap bahwa penggemar adalah cinta matinya. Bahkan, Moon Hee-jun, mantan anggota grup lawas H.O.T. pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menikah sebelum penggemarnya menikah. Hal ini memicu para penggemar untuk berpikir bahwa seorang idol bisa menjadi miliknya seutuhnya. Apalagi beberapa agensi menerapkan konsep grup idol yang menawarkan sistem voting seperti yang terjadi pada acara realitas Produce 101.
Adapun beberapa kasus yang menyebabkan sang idola cedera karena ulah penggemar. Pada tahun 2013, Seungri “Big Bang” tertimpa kecelakaan mobil ringan setelah seorang penggemar berusaha untuk mengikutinya. Beberapa artis lainnya harus menanggung cedera ringan karena ulah penggemar yang beringas seperti pada saat Seungjae “BtoB” mengunjungi Sumatera untuk keperluan syuting “Law of the Jungle”. Bahkan ada pula yang mengikuti hingga tempat syuting berlangsung.
Hal ini mengundang pemerintah Korea Selatan turun langsung untuk melindungi hak dan privasi selebriti terkait. Bahkan menurut UU yang berlaku, penguntit akan dikenai denda sebesar 20 juta Won dengan hukuman penjara minimal 2 tahun per Februari 2016.
Idola: Dilihat Boleh, Diraba Jangan
Sejatinya, tidak salah jika kita mempunyai seseorang yang bisa dijadikan panutan. Idola bisa menjadi sangat positif bila kita mengambil apa yang baik darinya, seperti etos kerja, karya, dan kepribadiannya. Namun cinta yang berlebihan tidaklah baik. Bila hanya membuat terluka, lebih baik tinggalkan saja dan fokus pada kegiatan yang lebih bermanfaat. Sesungguhnya asas seorang idola: dilihat boleh, dipegang jangan.

















