Salamah, barakah, maghfirah….
Mat,
Kukira hujan malam ini di Mejing, Darussalam, sama derasnya dengan hujan di tempatmu, Sorowajan sana. Dirimu mungkin tak ingat, betapa aku menyukai hujan. Bukan cuma memandanginya, bahkan aku rela berbasah-basahan, melambatkan motorku–sepulang kerja menuju ke rumah, sekedar menikmati derasnya hujan. Entah, nyaman rasanya diselimuti air dari langit itu. Serasa hidup dikelilingi butiran-butiran kenangan dan cerita-cerita lalu bersama ribuan tetes air di waktu lampau.
Kau tahu, keindahan hujan itu jadi puisi, haiku, paragraf, dan bait yang ditulis indah oleh orang-orang sepertimu, Munjid, atau Amien.
***
Rahmat,
Sebait puisimu yang dikirim Amien bulan lalu, tentu menggirisku. Bukan cuma Rozy yang tidak malu mengakui tangisannya, aku, juga mungkin teman-teman mengalami hal yang sama: citraan hujan, pelangi, dan keriangan almarhumah Yasmin–cinta kami padanya–berbaur dengan kedukaan.
***
Musim hujan.
Suatu ketika, 92-an, Fakultas Sastra, di masa SKIS itu begitu penuh warna, kita semua ada di puncak zaman, menjadi aktivis mahasiswa, kerohanian Islam, pula! Kita begitu bersemangat pada hari itu. Hari pengiriman parsel! Ya, salah satu program kita di masa itu yang sangat ‘pofulis’–istilah Kholis Bakhtiar–populis, maksudnya. Kita menawarkan paket-paket makanan yang berisi jajan pasar yang ditata dalam kardus-kardus makanan. Ditawarkan berkeliling ke seluruh kampus Sastra kita. Selama seminggu sebelumnya, dosen, mahasiswa, pegawai, kita sodori paket-paket ini. Mereka memesan, membayar, dan kita mengirimkan makanan itu kepada orang yang mereka tujukan. Mahasiswa ke dosen, dosen ke dosen, atau antarmahasiswa.
Luar biasa. Menggembirakan. Kita serasa bergulung dengan kesibukan dan eforia sehari itu. Makanan datang ke mushalla yang merangkap 'markas’ sekretariat, ditata sesuai pesanan, dikelompokkan, dibagi wilayah, dan dibuat daftar. Para kurir memilih partner untuk menjadi rekan kerja sebagai pengirim parsel.
Mat,
Kita tahu saat itu nilai-nilainya: parsel adalah barang 'agak mewah’ karena tidak setiap bulan, lebih jarang malah, kita bisa menyantap jajan sebanyak itu. Mungkin sama jarangnya dengan kepemilikan sebuah motor. Barang yang tidak semua mahasiswa punya waktu itu. Kalaupun ada, pasti jadi 'inventaris’ organisasi, alias dipinjam-pinjam terus untuk kegiatan kepanitiaan… termasuk acara kirim parsel ini. Ingat, kan, bagaimana nasib motor Elly, motor Umi, motor Jiah… Jeffry saat itu mestinya memiliki daftar nama panjang siapa-siapa yang biasa dipinjam… he..he
***
Balik lagi soal partner berkurir.
Aku hanya bisa memilih Bang Yok. Marsoyo. Saat itu cuma itu agaknya pilihanku. Kupilih dengan sadar karena aku memang 'sedikit tidak mudah bergaul’. Kami sama-sama berdarah Sumatera–aku Palembang, dia Bangka–itu sebabnya panggilan 'Bang’ itu lebih pas buat kami ketimbang 'Mas’ atau 'Kan'g. Lalu kami seumur, dan juga karena kami bersahabat cukup lama. Kupilih dia juga karena dia termasuk yang bisa bertahan dengan semua 'kerasnya’ gaya persahabatanku.
Aku masih ingat, Mat, bagitu banyak 'korban’ arogansi, tekanan, atau apalah bahasanya, untuk menyebut ketidaknyamanan teman-teman terhadap tingkahku saat berorganisasi di SKIS itu. Selalu saja ada yang berdarah, kata Enny. Atau selalu ada masalah jika 'Problem Maker’ datang–kata istriku kemudian hari–itu istilah yang baru aku dengar karena baru diceritakannya setelah 12 tahun menikah ini.
Mat,
Kukira samar-samar ingat, jika dirimu termasuk yang kerepotan menerjemahkan bahasa-bahasa tegas–kalau bukan galak, keras, atau tangan besi–saat kita di departemen yang sama di SKIS. Tentu, aku menyesal atas semua kenaifan itu. Masalahnya, ya, masa lalu, selalu sulit memperbaikinya, karena persoalannya, waktu adalah media yang tidak bisa kita ulang balik, kan?
Ya, itulah, atas alasan-alasan 'bawah sadar’ itu, pasangan kurirku saat itu menjadi sangat sedikit pilihannya. Ya, tinggal Bang Yok itu. (Bang, sehat? Lama sekali kita tidak bertemu, ya? Enam atau tujuh tahun?)
***
Mengirim parsel, ya, gampang-gampang susah. Gampang jika tujuannya dekat dan kita tahu arahnya. Susah, yaaaa, jika jauh, dan hujan!. Hujan jelas jadi musuh bagi parsel-parsel ini. Bayangkanlah. Kardus-kardus berisi makanan, dikirim dengan sepeda atau motor, dan berbarengan hujan! Wuuih.. . Meski demikian, mengirim parsel di tengah hujan, mestinya saat itu terasa heroik sekali.
Rahmat,
Aku masih bisa ingat ketika kami harus sampai kos-kosan elit untuk mahasiswi di jalan Flamboyan, pinggir Selokan Mataram. Aku ingat nama jalan itu karena peristiwa ini. Kami antarkan satu parsel yang kardusnya sudah basah oleh hujan. Aku memanggil namanya, Bang Yok memastikan daftarnya, sambil menyerahkan parselnya. Gadis yang menerima parsel itu menerima kiriman kami dengan menjinjing tali pengikat parsel itu sambil mengeryitkan kening dan tatapan kecut. Aku dan Bang Yok–sebagai kurir yang baik–meminta maaf atas kejadian itu sambil menahan-nahan geli, karena itulah parsel kita, basah dan 'tampak memilukan’.
Atau ini. Suatu ketika kami mengirim ke salah satu kamar kos para bujang, keliru kamar, dan dengan malu-malu kami mengambilnya lagi, memindahkannya ke kamar sebelahnya… dengan isi yang sudah berkurang karena terlanjur diserbu si empunya kamar yang keliru itu.
Mat,
Ada belasan parsel yang kami antar mulai siang hingga petang itu. Yang terjauh, entah sudah berapa putaran balik ke kampus, ada di jalan Kaliurang di kilometer 'entah’–saking jauhnya. Hebat, saat itu kita tetap kerjakan semua itu dengan semangat 17 Agustus: parsel adalah amanat. Memenuhi amanat adalah ciri orang beriman. Begitu.
Aku sedikit kecewa hari itu. Proses pengiriman itu begitu ribetnya dengan hujan, sehingga suatu saat ketika agak reda, jas hujan milikku yang dikirim kakak dari Bandung, yang kuklaim sebagai satu-satunya di Sastra saat itu, hilang di jalan. Bang Yok, juga menyesali karena dia merasa sudah melipat di belakang tapi tak memeriksa apakah jas itu terikat dengan baik. Dia menyesal sampai–seingatku–diam-diam tanpa memberitahuku, merunut ulang semua ruas jalan yang kami lalui–dengan motor pinjaman–tentu–mencari jas hujan itu. Sia-sia. Hilang.
Kecewa bercampur kasihan, kusampaikan padanya, sudahlah.
***
Mat,
Parsel saat itu juga bermakna 'harap-harap cemas’. Meminjam istilah Ikhwan, kukira ada 'mata kuliah’ yang jumlah SKS dan pengajarannya samar-samar di 'fakultas’ SKIS sepanjang masa. Ya, mata kuliah akhwatologi (dan ikhwanologi) he..he.. Meski samar, jelas hukum haramnya, tapi kita tetap berharap bisa melirik satu bagian 'perkuliahan’ itu.
Jadi, parsel bisa jadi bermakna perhatian kita pada seseorang. Ehm… (!).
Jangan heran jika 'superstar’ seperti Munjid saat itu, bisa memperoleh empat parsel sekaligus! Bang Yok sendiri dua. Entah teman-teman yang beken seperti Otong, Umar, Ilman–para Arabiyan Kings itu–mestinya juga mendapat minimal satu atau dua paket. Kang Amin Hidayat yang gagah, entah berapa, tapi dia pasti dapat. Apalagi penguasa Lord of The Rings seperti Siwi atau Kang Antun–walau itu mungkin dikirim oleh mereka untuk mereka sendiri, he..he..
Berbeda dengan para jagoan itu, di antara belasan parsel yang kukirim itu, aku tidak menemukan satupun namaku dalam daftar-daftar yang lain, yang mendapat kiriman. Aku lirik, harap-harap cemas juga, adakah barang satu atau dua parsel buatku. Nihil. Tak ada. Aku sedikit sensi saat itu, duh, beginilah nasibku, belasan parsel yang kuaantarkan, tak ada satupun parsel buatku.
Sial. Konyol. Nasib! Ini gara-gara 'kekerasan’ dan tidak 'pofulis’ itu, pasti. Pasti karena aku tak disukai. Alah! Apalah pikiranku saat itu. Lupalah aku dengan konsep-konsep kesabaran, keikhlasan. Walaupun begitu, masih kusimpan kedongkolan itu dalam hati. Mungkin sama dongkolnya dengan perut yang belum diisi nasi sehari itu. Biasa, lah. Tergantung tanggal!
Entahlah, di putaran ke berapa, sungguh, aku tidak sengaja mengungkap itu di depan markas kita, “Walah! Ngirim banyak ke mana-mana, malah nggak dapet satupun”. Karena suaraku terbiasa keras, cetusan itu juga terdengar banyak teman-teman kita yang sibuk menata parsel itu. Mereka pun menjadi sadar dengan fakta itu. Tapi kupikir juga mereka memilih diam untuk sebuah sikap 'tak tahu harus bagaimana’.
***
Mat,
Di akhir putaran, Isya itu, ketika semuanya berakhir, dirimu mendekatiku, menyerahkan sekotak parsel, “Bang, buat Bang Ewing”…
Aku hanya bisa menatapmu diam. Kebingungan. Kulihat sekali lagi dirimu sebentar, mengucapkan terima kasih, lalu kukayuh sepedaku. Meninggalkan kampus, pulang ke kosku yang terpencil di Pandega Mandala itu. Di tengah rintik gerimis.
***
Jam delapan malam. Masih hujan. Lelah. Kebasahan.
Memasuki kamar kosku. Meletakkan parselmu di atas meja. Kunyalakan lampu baca. Duduk. Kubuka parsel itu, sepotong kertas kuning dengan tulisan tanganmu yang luntur terbasahi air hujan.
“Selamat menikmati, Bang Ewing”
Mat,
Jika kau sempat lewat saat itu, dari jendela kamar kos yang temaram, kau akan melihat pemandangan ini: seorang laki-laki lapar, basah oleh hujan, menunduk dalam, mengepalkan kedua lengannya di meja, berguncang-guncang bahunya..
Menangisi parsel yang ada di depannya.