Sore itu hujan rintik membasahi kota Yogyakarta. Entah mengapa hujan turun di bulan Juni, ketika kita semua tahu bahwa Indonesia yang beiklim tropis ini sudah waktunya mengalami musim kemarau. Di suatu sudut kafe yang sepi, duduklah aku dengan dua temanku yang sudah lama tak kutemui karena terpisah jarak dan waktu. Sejak lulus SMA, aku menetap di Jakarta untuk melanjutkan studi dan bekerja. Aku sudah lama tak mengobrol langsung dengan dua temanku ini sejak lulus SMA. Takdir mempertemukan kami lagi di kota ini, kota Yogyakarta. Kota yang penuh dengan nostalgia, mereka bilang.
Perkenalkan temanku, Radit, seorang UI/UX Designer yang bekerja di sebuah startup yang dia bangun bersama teman-temannya di Yogyakarta. Satu lagi temanku bernama Soni, seorang pegawai negeri sipil yang bertugas di Jakarta. Aku dan Soni sama-sama bekerja di Jakarta, tapi entah bagaimana kami tak pernah bisa bertemu untuk sekedar ngopi atau jalan bareng. Sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk kami bertemu, saat salah seorang teman di grup Whatsapp kami ingin meet-up di kafe ini dan kami pun mengiyakan. Sudah pukul 4 sore tapi baru kami bertiga yang muncul. Tak heran, kebanyakan warga negara Indonesia memang hanya punya jam karet di hidupnya. Apalagi ditambah hujan di luar. Entah pukul berapa mereka akan sampai.
“Kamu masih kerja di Jakarta? Masih betah?”, tanya Radit memulai pembicaraan.
“Oh, aku baru resign. Kemarin sebelum cuti lebaran, udah cabut dari kantor itu.”, jawabku.
“Lah kenapa resign? Gajinya gede kan?”, Soni menimpali.
“Ya cukup sih buat makan sehari-hari sampe bisa jalan-jalan ke luar negeri hehehe”, candaku. “Tapi gaji gede gak bikin bahagia juga, Son”, jawabku.
“Terus kenapa resign?”, tanya Radit.
“Capek.”, kataku. Kemudian aku terdiam. Teringat adegan di kepalaku tentang hari itu saat aku mengajukan surat pengunduran diriku ke Office Manager. Semua orang di kantor tidak percaya kalau aku mengajukan resign. Tak ada yang kuberi tahu pasti kenapa aku resign saat itu. Aku hanya mengatakan kepada manajerku bahwa ada alasan pribadi. Beruntungnya dia mengerti.
“Tapi udah keterima di tempat lain kan?” tanya Radit lagi
“Belum.”, jawabku. Mereka berdua kaget. “Lah, gimana sih. Resign kok beum dapet tempat baru. Nganggur dong?”, tanya Soni.
“Ya gitu deh.”. jawabku sambil menghela napas. “Aku juga gak mikirin hal itu sih waktu ngajuin resign kemarin itu. Habis resign mau ngapain, mau kemana, belum ada tujuan. Rasanya cuma pingin kabur aja dari kantor itu. Tempat itu terlalu sesak. Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya bikin stres.”, ucapku berat.
“Iya, ngerti kok. Been there done that. Itulah kenapa aku gak mau balik Jakarta”, ucap Radit.
“Emang kenapa?” tanyaku curiga.
“Yah gimana ya. Kamu tau kan aku pernah kerja di startup yang sekarang udah gede di Jakarta itu? Padahal gajinya gede, tempat kerjanya enak, temen-temennya juga enak. Tapi aku gak betah.”, jawab Radit.
“Iya, cuma setahun ya waktu itu di Jakarta?” ucapku lagi sambil mengingat-ngingat tahun 2014 waktu Radit kerja di Jakarta. Kami pun tak sempat bertemu di kota itu, maklum sibuk.
Radit melanjutkan, “Terus terang sih, aku gak kuat. Jakarta itu keras. Gak semua orang bisa bertahan di kota itu. Macetnya, banjirnya, orang-orangnya yang penuh keegoisan, transportasi umumnya yang gak nyaman, dan hal-hal lain yang panjang banget kalo disebutin satu-satu. Belum lagi kalo misal ngomongin diburu waktu. Kerja dari pagi, pulang malem. Gitu terus setiap hari, Senin sampai Jumat...”
“Belum lagi kalo Sabtu-Minggu disuruh lembur”, kusela Radit.
“Nah itu juga. Gila kan? Jadi, ya aku ngerti lah kenapa kamu capek.”, ucap Radit.
“Bener banget”, lanjut Soni. “Itulah kenapa aku ngajuin mutasi, semoga sih tahun ini di-approved”.
Gantian Soni yang menghela napas.”Kalian tau kan, dari awal aku kerja di Jakarta juga udah gak betah. Ya karena lolos CPNS di Jakarta aja, jadi mau gak mau harus tinggal disana. Bohong kalo gak capek, tapi butuh ya gimana dong.”
“Sabar ya bro. Semoga bisa mutasi ke daerah segera.” ucap Radit yang kemudian menoleh ke arahku. “Aku tuh sebenernya salut sama kamu lho.”
Aku menengok ke arah Radit. “Salut sama aku? Kenapa gitu?”, tanyaku heran.
“Nih ya, kalo dipikir-pikir, kamu itu salah satu yang paling lama merantau ke Jakarta. Kita lulus SMA tahun 2009. Terus kamu kuliah disana, kerja disana, sampai sekarang. Ngadepin segala macem kejadian enak sampe gak enak di Jakarta pasti udah pernah kan? Hebatnya kamu gak ada niatan untuk balik ke Jogja sini.”, jawab Radit. “Gak kayak temen kita satu ini nih”. Radit menunjuk ke arah Soni.
“Iya emang aku gak betah di Jakarta. Semrawut kayak gitu. Mungkin aku salah satu orang yang gak cocok tinggal disana. Kayaknya aku lebih cinta Jogja dengan segala keistimewaannya ini.”, ujar Soni.
Radit menimpali, “Kan udah kubilang, Jakarta bukan tempat untuk semua orang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menaklukannya. Buat orang-orang kayak aku dan Soni ini, sepertinya Jakarta bukan tempat yang bisa kita sebut sebagai rumah.”
“Bener banget Dit.” tambah Soni. Soni kemudian bertanya padaku, “Jadi, ini balik Jogja mau menetap disini atau mau balik ke Jakarta lagi?”
“Gak tau. Belum mau mikirin hal itu.” jawabku singkat.
Aku terdiam menyesap kopi cappucinno hangat di hadapanku. Radit dan Soni juga dengan nikmatnya menyesap kopinya masing-masing. Aku menatap keluar lewat jendela yang basah karena hujan. Hujan mulai sedikit mereda. Satu persatu teman kami datang dan obrolan kami pun beralih fokus dari satu hal ke hal lainnya.
Malam itu, dalam perjalanan pulang dengan taksi online yang kunaiki, aku merenung memikirkan percakapan dengan Radit dan Soni tadi. Kalau boleh jujur, aku resign karena mengikuti emosiku yang sudah tidak bisa kukontrol. Aku capek. Aku lelah. Aku mulai merasakan efek dari pekerjaanku yang menyita hampir separuh waktuku tiap harinya. Belum lagi tidur yang tidak cukup dan berliter-liter kafein yang kutenggak mulai memberi dampak buruk ke tubuhku. Ditambah ribetnya orang-orang yang harus kuhadapi setiap harinya di kantor, di rumah, atau di jalan sekalipun. Aku lelah. Rasanya aku hanya ingin lari dari semua itu.
Sayangnya, Jakarta adalah tempat yang istimewa bagiku. Dalam 27 tahun hidupku, aku habiskan hampir sepertiganya di Jakarta. Aku mengejar mimpi-mimpiku, mengejar cinta dan asa dalam hidupku, di Jakarta. Semua bisa kudapatkan di kota metropolitan itu. Walaupun tidak sedikit pula, darah, keringat, dan air mata yang kuteteskan, dan entah berapa banyak pula pengorbanan yang kulakukan selama aku tinggal disana.
Tak terasa air mataku menetes. Aku mulai mengerti kenapa aku pulang ke Jogja saat ini. Ya, karena aku merasa kalah. Kalah dari perjuangan melawan kejamnya Jakarta. Aku merasa tidak lulus dari ujian yang diberikan oleh ibukota negara Indonesia tercinta ini. Aku merasa semua perjuanganku selama ini di ibukota seperti menguap sia-sia. Aku merasa tak sanggup lagi menjalani kehidupan di Jakarta. Entah apakah aku bisa kembali lagi ke Jakarta lagi atau tidak. Apakah ini yang Radit rasakan ketika dia memilih kembali pulang ke Jogja dan merintis karir disini? Apakah ini yang jadi pertimbangan Soni untuk mengajukan mutasi ke daerah walaupun dia baru beberapa tahun ini bekerja di Jakarta? Aku tak tahu. Yang jelas, hatiku rasanya sakit saat ini.
Jakarta, kota yang tak pernah mati. Kota metropolitan dengan segala keindahan gemerlapnya. Sayang, dibalik semua itu tersimpan berjuta cerita tidak mengenakkan dari orang-orang yang berjuang untuk bertahan hidup disana, seperti aku dulu. Tidak sedikit yang memilih untuk pulang dan menyerah, seperti Radit dan Soni. Tapi banyak yang bertahan disana dan melanjutkan hidupnya seolah Jakarta tidak memakan mereka hidup-hidup. Apapun itu, Jakarta bukanlah tempat untuk semua orang. Jakarta dengan tingkat macet dan stres yang tinggi, kriminalitas yang terjadi di setiap sudutnya, serta gaya hidup yang menuntut. Jakarta dengan segala keruwetannya. Kota yang menawarkan segalanya, dengan pengorbanan luar biasa. Semoga kalian bertahan disana.
@dlwnsghek: Let’s listen to good things with our two ears, see good things with our two eyes, and be careful about what we whisper with our mouths. Fighting!
We fear things because we value them. We fear losing people because we love them. We fear dying because we value being alive. Don't wish you didn't fear anything. All that would mean is that you didn't feel anything.
I used to write everyday before. About kpop and other stuff. But lately, I’ve been so busy with my works and my life, so I forget about writing. I like writing because I can tell people about what I feel, I can share information, and it helps my fingers to get better typing with keyboard.
Now, I’m trying my best to keep writing. Not everyday though. maybe a simpe writing in a few days. Hopefully I can do this and life is no trying to get in front of me.
Aelin and Feyre would be best friends and talk non stop about everything and anything. Feyre would help Aelin learn how to master her drop of water affinity and show her the water wolves.
Lysandra and Mor would be best friends as well and wreak havoc along with Aelin and Feyre
Rowan and Rhys would be territorial fae bastards and brood and compare wingspans and fight over who’s mate is better
Aedion, Fenrys and Cassian would be General Buddies™ and compare battle strategies and bother everyone
Azriel, Lucien, Gavriel, Chaol and Lorcan would be dark and quiet and watch everyone closely while making small talk
Elide and Elain would be best friends and discuss how protective Manon and Nesta are of them and also talk about flowers
Amren and Manon would be casually sipping blood and being badass as usual and Manon would take Amren for a ride on Abraxos
Dorian, Aelin and Rhys would compare favorite books and recommend books to each other
Nesryn and Nesta would stay indoors and just talk about how amazing they are and drink some tea.
Nesryn and Feyre compare bows and learn shooting strategies from each other
Maeve, Erawan, the King of Hybern, Tam the Tool and Jurian all burn in hell and leave my babies alone
But remember, child, we may all have our own story and destiny, and sometimes our seemingly bad fortune, but we're all part of a greater story too. One that transcends the soil, the wind, time... even our own tears. Greater stories will have their way.