Latepost 2012: Kenalan dengan Anak-anak Komunitas Gubug IPPA
Rawamalang, salah satu kawasan di keluharan Cilincing, Jakarta Utara. Cilincing, nama sebuah kecamatan di daerah Jakarta Utara yang berbatasan dengan Laut Jawa(Utara), Kecamatan Koja (Barat), Kabupaten Bekasi (Timur), dan kecamatan Cakung (Selatan). Awalnya daerah Rawamalang merupakan rawa yangkemudian diuruk pemerintah serta dijadikan TPU baru. Selanjutnya, Rawamalang berkembang menjadi perkampungan padat penduduk di pinggiran kota Jakarta Utara. Dihuni oleh orang-orang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai pemulung; buruh harian; tukang ojek; tukang parkir; nelayan; dan tidak sedikit pula yang menganggur, dapat disimpulkan mayoritas masyarakat Rawamalang hidup dalam kemiskinan.
Dengan penghasilan rata-rata Rp 20.000,- perhari yang hanya cukup memenuhi keperluan makan sehari-hari, kebanyakan orangtua tidak begitu mempedulikan pendidikan anak-anak mereka. Anak-anak tidak memiliki aktifitas lain selain bermain.
Bagi warga Jakarta sendiri, kawasan Rawamalang terkenal dengan image negatifnya sebagai daerah prostitusi. Sejak lokalisasi Kramat Tunggak (Koja, Jakarta Utara) ditutup Pemprov DKI Jakarta than 1999, aktifitas prostitusi beralih ke kawasan Rawamalang.
***
Minggu, 7 Oktober 2012…
Saya dan 7 orang teman lain dari Komunitas Aleut menerima kunjungan dari teman- teman komunitas IPPA (Ikatan Peduli Pendidikan Anak). Ikatan Peduli Pendidikan Anak merupakan suatu komunitas yang berdiri pada tahun 2009 dengan tujuan menghilangkan kesan daerah Rawamalang sebagai area lokalisasi. Kesan ini secara psikologis memberikan efek kurang menyenangkan bagi anak-anak. Ketika mereka bersosialisasi dengan anak-anak di luar kampung, mereka seolah diberi label anak dari daerah prostitusi.
Hari ini, teman-teman IPPA datang bersama 65 orang anak-anak beserta beberapa orang tua. Tugas kami menemani adik-adik dari Rawamalang, berkeliling kota Bandung, memperkenalkan sejarahnya. Selain itu, kami juga memberikan motivasi kepada mereka agar giat belajar, memiliki cita-cita yang tinggi, punya semangat untuk sekolah serta tidak terpengaruh dengan image negatif lingkungan tempat tinggal mereka.
Untuk memudahkan mobilisasi, anak-anak dan para orang tua dikelompokkan dalam empat kelompok. Dalam satu kelompok akan memandu 12-15 orang. Saya ditemani Harry R. Gunawan (sekaligus sebagi fotografer) dikelompok tiga.
Awalnya saya menduga bahwa anak-anak yang akan saya pandu berkisaran dari kelas satu SD hingga tiga SMA, namun dugaan itu sedikit meleset. Ternyata dikelompok saya ada yang berusia tiga tahun. Untung saja disetiap kelompok ada tutor dan orang tua yang mendampingi perjalanan. Tutor anak dikelompok saya bernama Dian, kelas 5 SD yang bercita-cita ingin menjadi seorang Guru. Dian juga didampingi oleh July, yang lebih senior di IPPA. Dari pembawaan dan sikapnya, saya menerka July sudah duduk di bangku sekolah menengah atas.
Perjalanan bersama teman-teman Cilincing pun dimulai!
Berawal perkenalan di halaman Mesjid Raya Bandung, saya sekilas mendongengkan kisah unik mesjid kebanggaan kota Bandung ini. Mesjid Raya Bandung ini awalnya bangunan yang terbuat dari bambu sederhana yang beratapkan rumbia. Pada 1825 mulai bagian bangunan mulai diganti dengan material kayu. 1850 bangunan utama mesjid sudah menggunakan tembok sebagai fondasi kemudian sekitar tahun 1930 bangunan utama mesjid mulai mendapatkan tambahan serambi pada bagian depan dan menara pada sisi kiri dan kanan. Mesjid ini dahulunya berfungsi sebagai lembaga legislatif yang dikenal juga dengan istilah Bale Nyoencoeng. Karena bentuk atap yang berundak tiga dan meruncing (dalam bahasa sunda nyuncung). Sehingga menjadi istilah tak resmi untuk lamaran menikah “hayu urang ka Bale Njoentjoeng”. Atap nyuncung ini konon bertahan hingga tahun 1954. Saat ini Gubernur Jawa Barat mengadakan rapat Panitia Perbaikan Mesjid Agung dalam rangka menyambut Konferensi Asia Afrika di Gedung Pakuan. Dalam rapat itu Soekarno menunjukkan gambaran kasar gagasannya tentang Mesjid Agung. Namun desakkan waktu. Hanya kubah bawang dan menara tunggal yang dapat terwujud dari gambar Soekarno.
Puas mendongeng tentang Mesjid Raya Bandung perjalanan berlanjut. Saya meminta adek-adek berjalan berdua-dua beriringan agar tidak mengganggu ketertiban umum. Saya berjalan mendamping anak yang bernama Adrian yang menurut perkiraan saya berumur sekitar lima atau enam tahun. Cita-citanya ingin menjadi seorang pembala Motor GP seperti Casey Stoner. Anehnya dia selalu ingin berdekatan jalan bersama saya walaupun ibunya berada dikelompok yang berbeda.
Adrian : Saya kan pasangannya sama kakak
Saya : lho maksudnya apa? (dalam hati)
Itulah kata yang selalu terngiang di telinga saya. Ada-ada aja kamu dek…
Daripada mendengar sejarah ataupun arsitektur bangunannya, ternyata anak-anak itu lebih suka mendengar kisah unik yang pernah terjadi digedung itu. Seperti ketika saya menjelaskan Hotel Savoy Hoffmaan. Didepan bangunan saya bercerita tentang Chralie Chaplin dan Mary Pickford yang pernah berlibur dan menginap di hotel ini sekitar akhir 1920-an. Kabar kedatangan Chaplin dan Pickford tersebar ke seantero kota. Ini berakibat halaman hotel Hoffmaan dipadati para penggemar Chaplin dan Pickford. Ketika rombongan artis ini hendak keluar dari hotel terpaksa menggunakan pintu belakang. Sementara di depan, para penggemar diipu dengan akting para artis/aktor Toneel Braga yang menyamar sebagai Chaplin dan Pickford yang seolah-olah keluar lewat pintu depan hotel.
Setiap anak itu memiliki beragam keunikkan. Contohnya Alpian. Anak yang bercita-cita menjadi seorang tentara ini tidak mau memakai alas kaki saat berjalan. Inilah potongan percakapan yang menerangkan alasan kenapa adek Alpian ini tidak mau memakai sandal ataupun sepatu.
Harry : Kenapa kamu ga mau pake sandal? Nanti luka kena beling?
Alpian : Karena saya ingin jadi tentara ka. Jadi tentara itu harus kuat. Makanya saya ga mau pake alas kaki
Menurut saya, sebuah alasan yang lucu karena dalam alam imajinasinya seseorang yang tentara itu adalah sosok yang kuat secara fisik. Untuk membuktikan dia itu kuat dan layak menjadi seorang tentara dia harus berjalan tanpa alas kaki. Dengan begitu, dalam pikirannya, dia kuat dan berani karena panasnya aspal yang bersentuhan langsung kakinya, dia tidak takut terkena beling ataupun benda tajam lain yang biasa dijumpai di jalan.
Adapula Pipih… anak yang satu ini gemar sekali berjalan mendahului kelompok. Tak jarang Pipih bergabung dengan kelompok satu atau dua menyimak materi yang diberikan rekan saya lainnya.
Walaupun lahir dan dibesarkan di lingkungan yang berdekatan dengan dunia prostitusi, tidak serta merta menghilangkan kepolosan anak-anak ini. Terbukti ketika Reza Ramadhan mengajarkan mereka untuk menyebarang di zebra cross dengan berkata, “adek-adek kalo mau menyebrang di jalan raya, di zebra cross ya. Biar kalo ada yang nabrak bayar”
Kata-kata itu benar-benar membius mereka. Ketika menyebrang jalan raya, mereka melakukannya melalui zebra cross sambil berseru kepada pengguna kendaraan yang berhenti “Yang nabrak, bayar… Yang nabrak, bayar… Yang nabrak, bayar…”. Kelakukan polos mereka membuat saya tertawa kecil.
Kegiatan mengajak jalan-jalan adek-adek dari IPPA berakhir di kampus ITB. Di sesi terakhir sebelum berpisah dengan adek-adek IPPA, saya dan 7 orang teman lain dari Komunitas Aleut memberikan motivasi agar mereka giat belajar untuk mencapai cita-cita.
***









