Kalau lihat judulnya, seperti judul laman Wiki ya.
Tapi bukan, saya bukan mau bahas tentang tanaman kelapa dari ujung akar sampai ujung daun. Kelapa ini adalah singkatan dari Kelompok Belajar Parti Gastronomi. Sebuah kegiatan yang saya ikuti akhir tahun 2023 kemaren. Ngapain aja itu teh? Nah makanya ku ceritain wkwk
Jadi, di kota kembang tercinta yang memang udah tersohor perkulinerannya, ada sebuah gerakan kolektif multi-disiplin yang berfokus pada eksplorasi gastronomi Indonesia. Namanya Parti Gastronomi (@parti_gastronomi) atau kita singkat ParGas. Founder ParGas ini ada 3 orang, Hardian Eko Nurseto (@seto.nurseto), Arifin Windarman (@ipin996) dan Reyza Ramadhan (@rreyza). Dengan latar belakang profesi yang berbeda, mereka dipersatukan dengan kecintaannya pada makanan.
Salah satu proyek besarnya Pargas itu adalah sebuah dokumenter mengenai macam-macam makanan fermentasi dengan tajuk "Delicious Rot". Catatan proyek ini juga diterbitkan menjadi buku dengan judul yang sama. Tapi kayaknya udah langka sih bukunya wkwk Dokumenternya bisa temen-temen tonton di sini.
Terus Kelapa tuh apaan?
Tahun 2022, bapak-bapak di pargas ini membuat suatu program kelas terbuka mengenai agrikultur, riset dan penulisan, seni dan desain, entrepreneurship, menu making, project management, fotografi, dan content creation.
Setelah Kelapa batch 1 yang seru, akhirnya dibuka kembali batch 2 di tahun 2023.
Dengan modal nekat dan kepo, saya daftarlah untuk batch 2 dan keterima sebagai Tunas Kelapa.
Kelas-kelas Kelapa ini berlangsung sekitar 3-4 bulan. Pesertanya ada sekitar 23 orang. Di pertemuan pertama, masih berupa briefing dan kenalan-kenalan. Canggung sekali sih atmosfirnya wkwkwk karena semua peserta rata2 emang baru kenal dengan berbagai latar belakang profesi.
Pertemuan kedua, sharing session macam-macam fermentasi di Indonesia dan ada narasumber dari FAO yang berasal dari Korea Selatan ikut mengisi materi mengenai fermentasi di negaranya. Selain itu, kita juga dikasih PR untuk bikin produk fermentasi di rumah. Ada 4 kelompok komoditas yang mencerminkan "Taste of Priangan" yaitu Kedelai, Teh, Kopi, dan Singkong. Saya masuk ke kelompok Kedelai dan memilih untuk bikin tempe. Proses bikin tempe itu ternyata lumayan panjang ya, berhubung waktunya mepet akhirnya beli lah tempe instant. Tinggal direbus, kasih bibitnya, udah deh didiemin sampe mateng. Anti Gagal. Praktis geng, ada kok di marketplace wkwkwk
Pertemuan ketiga, kita praktikum. Diawali dengan kelas ko-kreasi, kita belajar design thinking, transformative thinking, dan STEEP Analysis. Ga pake komputer, tapi full diskusi dan kita tuangkan di kertas. Jujur ini seru banget.
Setelah kelas ko-kreasi, berlanjut ke praktek fermentasi yang dipandu sama Ci Mei Suling dari Mimilu Kitchen. Ini juga seruuuuu. Kita belajar bikin yoghurt yang simple dan Jahe soda. Bebikinannya sih bentar ya, banyaknya mah icip-icip segala yang dibawa Ci Mei sama racik-racik minuman dengan bahan macem-macem. Misal, yoghurt kopi, yoghurt peuyeum, yoghurt telang, terus icip juga yoghurt dari susu kedelai. Favorit saya itu yoghurt kunyit sama tepache. Duuhh enak banget sih itu masih kebayang ampe sekarang wkwk
Pertemuan keempat, kita belajar setitik mengenai food photography bersama After Taste Studio. Seru ternyata fotoin makanan. Gimana caranya biar makanan itu tampak bagus ketika di foto. Karena kan makanan ga bisa pose ya, jadi kudu kita yang pinter-pinter cari angle yang pas. Ini salah satu foto amatirku hasil praktek wkwk
Pertemuan kelima, kita membahas proyek graduation atau tugas akhir dari kelas ini. Untuk tugas ini, kita akan membuat zine. Zine itu adalah bentuk sederhana dari Magazine atau majalah yang biasanya diterbitkan dalam skala kecil saja. Dalam pembuatan zine ini, narasumbernya dari Serving Suggestion karena hampir semua masih awam dengan zine ini. Penyusunan isi zine nya masih disesuaikan dengan komoditas yang dibagikan, jadi kami kerjakan sesuai kelompok dan nanti dikompilasi menjadi satu zine utuh.
Selama pembuatan zine ini juga setiap minggu diadakan pertemuan online untuk membahas progress zinenya sambil mencatat feedback. Hasil zinenya kek manaa? ntar yah. Baca dong sampe abis wkwk
Pertemuan keenam sebelum libur tahun baru, diisi dari team Suis Butcher. Dari sesi tersebut kita jadi tau setitik "isi dapur" sebuah bisnis F&B yang sudah berjalan puluhan tahun, bagaimana regenerasinya, dan juga bagaimana upayanya supaya tetap relevan ditengah gempuran bisnis kuliner yang gasnya kenceng banget.
Setelah liburan, kebanyakan kelas dilakukan online karena mengejar deadline untuk zine nya terbit. Dengan waktu yang terbatas, tektokan cuma via grup wasap karena kesibukan masing-masing dan juga masih meraba-raba bikin zine tuh kek mana sih, kita bisa menyelesaikan zinenya dengan lancar. Uhuy.
Untuk merayakan terbitnya zine dan juga selesainya program Kelapa ini, kita semua kumpul-kumpul untuk botram di suatu tempat di Dago. Masing-masing bawa makanan dengan ketentuan bisa cukup untuk 2-3 porsi. Acaranya diisi dengan presentasi tiap kelompok tentang isi zine nya, makan-makan, ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa. Setelah kemaren statusnya masih Tunas, akhirnya kita semua tumbuh menjadi Kelapa seutuhnya. Dan menjadi bagian dari keluarga besar Parti Gastronomi. Rangkumannya acaranya bisa dilihat di sini
Ga kerasa banget 3 bulan seseruan, dapet ilmu baru yang menyenangkan, nambah temen-temen baru juga. Dan nanti akan ikut juga sama program-program Pargas ke depannya. Terima kasih banyak untuk bapak-bapak dan kakak-kakak Parti Gastronomi yang udah bikin kelas ini. Mohon bimbingan untuk kedepannya❤️
Kalau ada keseruan lagi, nanti ku cerita lagi disini.
Sampe ketemu di batch 3! (kalau ada) 😆