Memahami Hakikat Hubungan Antar Manusia.
Hubungan antar manusia itu sebetulnya sederhana; saling berempati agar saling memahami. Namun, pada prakteknya menjadi rumit untuk dikelola ketika salah satu di antara mereka, membuat standar untuk mengukur kualitas hubungan dengan kalkulasi-kalkulasi yang kurang empati.
Kualitas persahabat diukur dengan selalu harus ada, harmonisnya sebuah hubungan harus dibuktikan dengan simbol benda dan semacamnya, dan lain sebagainya. Akhirnya, ketika pihak yang diharapkan tidak melakukan sebagaimana mestinya, dengan mudah langsung memberi stempel tidak setia, tidak memprioritaskan, dan sebagainya.
Demikianlah yang seringkali dirasa, berujung pada rasa kecewa yang sebenarnya itu lahir akibat ulah kita sendiri. Terlalu sibuk menjadi hakim atas ekspektasi kita, hingga luput menyadari bahwa apa yang mungkin terasa sepele atau mudah bagi kita, bisa jadi merupakan sebuah perjuangan yang sangat berat bagi orang lain.
Pada titik inilah kita seringkali kehilangan kendali untuk mengakui bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dihadapi orang lain di balik layar. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki kapasitas emosional, waktu, dan energi yang berbeda. Ketika kita terus memaksakan "kalkulasi" versi kita, secara tidak sadar kita bukan sedang memelihara hubungan tersebut, melainkan sekadar memberi makan ego kita sendiri agar merasa dihargai dengan cara yang kita inginkan.
Pada akhirnya, merawat sebuah hubungan menuntut kita untuk menanggalkan kacamata penghakiman tersebut. Empati sejati baru bisa tumbuh ketika kita bersedia menurunkan standar dan menggantinya dengan pemakluman yang lebih luas. Karena ikatan yang mendalam tidak pernah diukur dari seberapa sempurna seseorang memenuhi daftar ekspektasi kita, melainkan dari seberapa lapang dada kita untuk tetap saling memahami di tengah segala keterbatasan yang ada.
Semoga kita lebih arif dan bijaksana dalam mengeloa hubungan antar sesama :)
















