Menilik kembali To Kill A Mockingbird, kesan saya membaca buku ini adalah ekspektasi tidak akan selalu menjadi realita. Ekspektasi saya, kelak Scout akan menjadi anggota Dewan Pemerintahan dan Jem akan menjadi pengacara melanjutkan ayahnya. Tidak demikian dalam Go Set A Watchman.
Tema utama dalam To Kill A Mockingbird sebagai buku pendahulu Go Set A Watchman adalah tentang prasangka. Bagaimana seseorang memperlakukan sesamanya berdasarkan suku, ras, warna kulit, gender, usia, agama, pendidikan, sosial, ekonomi, dan keluarga. Atticus mengatakan perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan baik. Dengan cara menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya, maka kita dapat memahami seseorang hingga kita melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya.
Enam belas tahun selisih usia Scout antara To Kill A Mockingbird dan Go Set A Watchman, tentu dari perubahan usia banyak hal membuatnya membuka pikiran dan mata. Ketika saya membaca buku ini, saya menempatkan diri saya menjadi Scout atau Jean Louise. Jean Louise yang memiliki idealisme dan menjadikan ayahnya, Atticus, sebagai panutannya. Jelas saya kecewa seperti Jean Louise, ayahnya tidak seperti yang dia bayangkan. Dunia tidak seperti yang dia bayangkan. Cara memperlakukan orang lain tanpa prasangka hanyalah angan-angan.
Atticus memberikan sekali lagi pelajaran pada Jean Louise, memperlakukan orang lain tanpa prasangka adalah idealisme yang bagus. Tetapi kita perlu mempertimbangkan orang lain di luar itu juga. Di dunia ini tidak hanya kulit hitam yang ingin diperlakukan dengan baik, masih banyak orang, di teritori lain, di negara lain yang ingin diperlakukan dengan baik. Saya mendapatkan pesan dari Atticus dari buku ini, bahwa tidak semua orang kita bisa senangkan dengan cara kita memperlakukan tanpa prasangka, akan ada orang lain yang akan kita kecewakan dari keputusan tindakan kita sebagai akibat dari ingin memahami satu orang yang lain. Kita tidak bisa memilih ke balik kulit dan menjalani hidup dengan cara semua orang, tapi nurani kita yang akan memilih suatu kebijakan yang tidak semua orang akan menyukainya, namun sekiranya itu yang terbaik yang bisa kita lakukan. (maap, bahasa saya ruwet)
"Yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, Jean Louise, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia adalah nurani"
Tidak ada manusia sempurna, bahkan Atticus yang selama ini tokoh fiksi paling sempurna menurut saya, ternyata oleh Harper Lee diberikan ketidaksempurnaan.