âSayang banget,â jawabnya.
âSelama yang kamu mau.â
Ia mengatakan itu, di malam setelah perdebatan panjang antara aku dan dia. Aku sedang sangat lelah setelah menempuh perjalanan panjang lintas kota, inginku hanya ingin merebahkan badan di kasur sesampainya di rumah. Namun perdebatan panjang ini sepertinya mengancamku untuk tetap terjaga hingga larut malam.
Tapi kata-kata itu, kata-kata sederhana itu, entah kenapa terdengar lebih nyaman dibanding harus merebahkan badan di kasur, dibanding harus berendam di air hangat. Aku suka saat ia yakin terhadap apa yang ia katakan, dan membuatku yakin bahwa apa yang ia katakan bukanlah omong kosong.
Sudah beberapa kali aku dikecewakan, ia tahu itu, membuatku susah untuk membangun kepercayaan pada orang lain. Namun padanya, dengan segala hal yang ia lakukan dan ia ucapkan, aku percaya. Hati yang rapuh ini akhirnya percaya lagi.
Aku tidak tahu apakah hati ini akan akhirnya berlabuh pada dia, namun untuk saat ini, ia adalah tempat yang tepat untuk singgah, atau mungkin menetap.
âKamu sayang aku?â ia balas bertanya.
Aku tidak menjawab, aku bahkan belum tahu harus menjawab apa. Kemudian ia bertanya lagi, dan lagi untuk kesekian kalinya. Dan aku pun lagi-lagi tak memberikan jawaban. Pikiranku campur aduk, terlalu banyak pertimbangan dan konsekuensi, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak menjawab. Ia kecewa berat, aku tahu itu.
Pertengahan malam pun datang, malam semakin larut. Aku butuh istirahat, aku butuh tidur. Ia pun menyuruhku untuk mengakhiri perdebatan ini dengan mengucapkan selamat malam seperti biasanya.
âAku sayang kamu,â ucapku akhirnya, dengan segala keraguan dan keyakinan yang menyelimuti, serta kepercayaan hati ini yang semoga tidak akan pernah dikecewakan lagi.
Aku harap semesta dan seisinya menunjukkan bahwa pilihanku jatuh pada hati yang tepat.