Soreku tidak lagi kelabu. Bukan karena rintik hujan tidak lagi menghampiri kotaku, juga bukan karena pohon tua dan besar di depan rumah telah ditebang sehingga sinar matahari dapat menembus langsung ke teras rumah, namun karena sudah ada dia.
Lelaki sederhana yang aku yakin dikirimkan oleh Yang Maha Kuasa untuk memberi tahuku arti bahagia. Dengan motor tua-nya itu, setiap sore ia mengunjungi rumahku. Membunyikan klakson saat sudah sampai, kemudian aku menyambutnya dengan senyuman. Aku sebahagia itu saat ia datang, padahal ia hanya datang tanpa membawa apapun, namun aku bahagia.
Kami duduk di teras rumah, disinari matahari sore yang entah kenapa selalu bersinar cerah jika ada dia, serta ditemani dua gelas es kelapa muda. Soreku sempurna.
Ia memberiku kenyamanan dengan sejuta kesederhanaan. Sebelumnya, cinta yang ku kenal adalah makan malam berdua di restoran mewah, mendatangi mall yang berbeda setiap minggu, namun dengannya aku yakin bahwa cinta tidaklah semahal itu.
Aku merasakan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan sekaligus hanya dengan lelucon yang ia ceritakan kepadaku setiap sore. Ia bercerita bagaikan mendongeng, membuatku masuk ke dalam alam pikirannya, membuatku tersenyum sampai tertawa terbahak-bahak. Aku suka itu.
Aku merasakan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan sekaligus hanya dengan lagu-lagu yang ia putar. Setelah bercerita, biasanya kami hanya diam sambil mendengarkan lagu-lagu yang memberikan ketenangan di sore itu, dan menikmati es kelapa muda. Aku yakin aku tidak pernah sebahagia itu, duduk berdampingan dengannya, menikmati segala kesederhanaan di sekitar kami.
Aku harap hari ini, esok, tahun depan, ataupun seribu hari lagi, hal ini akan tetap terulang, sore seperti ini akan selalu terulang. Aku jatuh cinta pada sore yang nyaman ini, aku jatuh cinta pada kebahagiaan yang ia berikan hanya dengan kesederhanaan, aku cinta dia.
(Inspired by Fourtwntys’s song: Fana Merah Jambu)