Orang-orang di sekitar mengenal Ibu saya sebagai “Umi Ulya, -Ibu yang punya 6 orang anak-”. Tapi saya tahu, ia juga adalah seorang guru berprestasi. Atas prestasinya, pada tahun 2002 beliau termasuk yang diundang oleh Ibu Presiden Megawati ke istana negara saat Hari Guru untuk menerima penghargaan. Hingga tahun 2017 kemarin, ia masih berkarya. Ditunjuk menjadi instruktur nasional pada program keprofesian Guru BK. Saat pertemuan para instruktur nasional, pemateri menyampaikan peluang-peluang kenaikan jabatan dan tunjangan yang akan didapat dari seorang guru PNS yang berhasil menjadi seorang instruktur nasional. Ibu saya, yang seorang guru swasta, melemparkan pertanyaan dengan suara lembutnya ke forum: jika profesi instruktur nasional menjanjikan kenaikan golongan dan tunjangan bagi para guru PNS, lantas apa yang akan didapat oleh seorang guru swasta? Bukan apa-apa, cerita Ibu kepada saya. Ibu saya hanya ingin menunjukkan ke forum, bahwa diantara para undangan yang terpilih disana, ada loh yang hadir semata karena ingin mendapatkan ilmu. Karena ingin bekerja sebaik-baiknya dalam profesi yang digeluti. Capaian yang ia upayakan, semata untuk memberdayakan diri, bukan karena jabatan atau tunjangan (yang memang tidak akan ia dapatkan karena ia bukan pegawai negeri). Meski saya tahu, Ibu saya pernah juga merasa jenuh dalam bekerja. Saat itu, Ayah saya dengan santai menyarankannya untuk berhenti saja dari pekerjaannya, karena dulu saat memulai berkarier Ibu saya meminta izin kepada Ayah dengan alasan ingin mengamalkan ilmu. Jadi jika hanya membuat lelah sehingga membuat Ibu saya tidak optimal dalam menjalankan perannya sebagai istri, sebagai ibu, lebih baik berhenti. Menjawab saran Ayah, Ibu saya hanya bisa merajuk: nanti kalau Umi nggak kerja, siapa yang bayar bibi..mama kiki..mama aldy… Ibu saya menyadari ada banyak sekali pekerjaan yang telah dianggap lumrah menjadi tugas seorang perempuan. Mulai dari membersihkan rumah serta melakukan pekerjaan domestik lainnya, memasak, hingga mengantar-jemput anak sekolah. Karena keterbatasan waktu dan tenaga yang dimiliki, Ibu saya mengajak Ibu-Ibu di sekitar (tetangga) yang dianggap amanah, untuk saling membantu. Ada bibi (yang tiap pagi jam 05.30-08.30 membantu Ibu saya membuat sarapan dan kemudian bebersih rumah setelah rumah kosong saat sudah pada berangkat kerja/sekolah. Selepas jam 08.30 setiap harinya, bibi sudah kembali ke rumahnya menjaga dan bermain bersama anak bungsunya); mama kiki (yang awalnya hanya berjualan bahan sayuran di teras rumahnya, kemudian Ibu saya memesan menu masakan rumah yang sehat dan bergizi untuk diantar ke rumah tiap siang, hingga akhirnya saat ini mama kiki memiliki usaha katering rumahan dengan cukup banyak pelanggan); dan mama aldy (yang membantu mengantar dan menjemput adik bungsu saya ke sekolah). Dengan dibantu perempuan-perempuan hebat tsb, Ibu saya merasa lebih tenang dan memiliki keluangan waktu dalam mencurahkan perhatian kepada suami dan anak-anaknya. Ada lelaki kuat berpikiran terbuka yang membuat perempuannya menjadi tangguh serta berdaya. ..dan seorang perempuan yang berdaya, punya kekuatan untuk membuat perempuan-perempuan di sekitarnya berdaya. Selamat hari perempuan!









