Keimanan dalam keluarga kecilmu nanti
Kamu baru menyadarinya nanti. Yah nanti, mungkin setelah berjalan pernikahan bertahun-tahun. Kalau yang menguatkan pernikahan tidak hanya cinta tapi komitmen. Namun lebih jauh dari itu semua ialah keimanan.
Betapa banyak orang yang sudah menikah kehilangan rasa saling mencintai tapi tetap memilih mempertahankan rumah tangganya karena komitmen. Namun yang memiliki keimanan akan membuat cinta yang tadinya layu akan terus tumbuh. Dengan keimanan komitmennya mengakar kuat.
Bualanmu tentang cinta dulu sungguh tak membantumu sama sekali jika tanpa didasari oleh keimanan. Cinta bisa lenyap kapan saja dan tanpa disadari. Namun sekali lagi hanya dengan keimananlah yang membawa cintamu tetap utuh membersamai hingga akhir.
Keimanan nantinya yang akan mendatangkan berlapis-lapis keberkahan dalam keluarga kecilmu. Mungkin penghasilan sebulan hanya beberapa namun cukup untuk memenuhi segala kebutuhan yang ada.
Keimanan pula kelak yang akan mendatangkan ketenangan. Suami istri begitu adem dan kompak dalam rumah tangga. Boleh jadi bukan sebab suami istrinya tapi karena Allah menurunkan ketenangan itu karena adanya keimanan dari suami dan istri dalam rumah tangganya.
Mungkin nantinya hanya akan ada sedikit konflik yang terjadi tapi menjadi tidak begitu berarti. Memang tidak ada rumah tangga yang tanpa masalah. Tapi justru masalah itu menjadi jembatan untuk mengokohkan rumah tangga yang dibangun semakin lebih kuat dengan ketaatan, dengan keimanan padaNya.
Keimanan yang menuntunmu untuk terus taat melayani pasanganmu walau hati sesekali bergejolak, walau emosi kadangkala memuncak. Demi apa? Demi meraih keridhoan pasanganmu. Tapi itu sungguh tak mudah. Namun dengan keimanan semua yang tadinya sulit menjadi begitu mudah untuk ditaklukan. Karena apa? Lagi-lagi karena keimanan.
Percaya atau tidak tak ada teman sebaik keimanan dalam perjalanan membangun rumah tanggamu kelak. Keimanan yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, lebih tangguh, lebih tegar untuk selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilmu nanti.
"Bagaimanapun indahnya rumah tangga yang kamu bangun kelak, jika tanpa keimanan Ia tak akan pernah membuatmu benar-benar bahagia."
"Yah boleh jadi kamu bilang rumah tanggaku kok baik-baik saja, aku bahagia aja nih, padahal taatku, imanku, sekedarnya saja?"
Barangkali itu yang namanya kebahagiaan yang semu. Kebahagiaannya hanya bertahan sampai dunia saja. Tapi tak menggema hingga ke akhirat sana. Bukankah kita hidup bukan untuk dunia saja kan? Kitapun ingin suatu saat nanti bisa reunian kembali bersama keluarga di Syurga.
Lebih jauh, dalam keadaan paling sulit sekalipun, kesedihan juga kekecewaan membawamu kedalam jurang kerapuhan yang begitu dalam. Tenang, selalu ada keimanan yang akan menarikmu dari lubang kejatuhan itu lalu menyuntikkan berjuta-juta kekuatan untuk mengembalikan semua perasaanmu tadi menjadi lebih baik. Atau bahkan disanalah nanti kamu temukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bukankah kebahagiaan adalah puncak dari segala rasa sakit, kekecewaan, kesedihan dan penderitaan yang kita syukuri?
Kita bisa bahagia kapan saja, dengan siapa saja, dimana saja. Bahkan dalam pernikahan yang barangkali sebagian besar atau malah kebanyakan mereka menemui ketidakbahagiannya disana.
Boleh jadi kebahagiaan rumah tangga orang lain yang kita lihat begitu indahnya adalah buah dari keimanan yang terus mereka pupuk walaupun segala macam masalah juga bergejolak dalam kehidupan mereka.
Jika ketidakbahagiaan sampai saat ini belum mampu kamu temukan dalam keluarga kecilmu, maka tengoklah hatimu dan jiwa pasanganmu, masihkah ada keimanan menetap di sana?
Semakin dekat kamu dengan keimanan, jauh lebih dekat lagi kebahagiaan itu hadir dalam hidupmu.
Menikahlah bukan semata-mata karena cinta tapi tersebab iman di dalam dada.
Makassar, 20 Oktober 2019