Anak pertama, yang paling tahu bagaimana lika-liku perjalanan hidup orang tuanya. Segala macam konflik, perjuangan, pengorbanan, jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi, dan berbagai permasalahan hidupnya. Jadi anak pertama memang terpaksa untuk lebih dewasa, namun banyak sekali hikmah yang bisa diambil.
Ayahku adalah sosok idealis yang keras, keras sekali dalam mendidik anak-anaknya, terutama aku, karena anak pertama. Perjalanan hidupnya memang keras, di era orde lama-orde baru yang begitu carut marut, ayah dulu juga salah satu aktivis media. Pejuang rakyat yang idealis pada masa itu. Pernah suatu waktu aku beberes buku-buku ayah, banyak sekali kumpulan artikel tulisan ayah, dengan mesin ketik. Luar biasa masyaAllah. "Ternyata ayahku hebat sekali, ya!", gumamku saat itu.
Dibalik kerasnya ayah, ada beban yang beliau tanggung. Namun zaman dulu tidak ada sosial media, tidak ada gembar gembor tentang betapa beratnya menjadi tulang punggung keluarga. Orang-orang dulu begitu gigih untuk mendapatkan kehidupan yang layak, saling gotong royong membantu saudara.
Ayahku dulu bisa dibilang sandwich gen. Membantu biaya untuk orang tua sekaligus istri anaknya, menyekolahkan adik-adiknya, bahkan adik mamaku, membantu saudara-saudara mama yang mencari pekerjaan di kota. Mungkin banyak sekali kebaikan Ayah pada keluarganya, teman-temannya, atau orang-orang lain yang membutuhkan.
Kami memang bukan dari keluarga yang kaya, tapi banyak sekali pelajaran hidup dari ayah dan mama yang bisa kami ambil dari mereka. Tersadar, bahwa privilege yang tidak akan pernah habis ialah prinsip dan pemikiran.
Ayah jarang sekali mengajakku ke resto-resto, beliau lebih suka mengajak kami ke warung-warung kecil, berkeliling tadabbur alam, mengajarkan hidup sederhana, meski ada. Tidak pernah memberi uang jajan berlebihan, meski ada. Hidup tidak selamanya untuk memperkaya diri, namun membantu orang lain yang lebih membutuhkan. Definisi menabung jalur langit, pelajaran hidup yang bisa diwariskan pada anak-anaknya.
Saat adik-adikku mengantar ayah dan mama berangkat ke tanah suci, aku menangis terharu, sesak. Teringat memori sepuluh tahun yang lalu, tabungan haji mama dan ayah sudah terkumpul. Namun beberapa tahun setelahnya, ada banyak hal terjadi bertubi-tubi yang akhirnya menguras tabungan milik mereka.
Kurasa di hari itu aku masih terlalu dini untuk mengetahui segala permasalahan orang tuaku. Ternyata, hidup ini begitu berat, kalau bukan karena Allah yang menguatkan, kita tidaklah mampu.
Siapa sangka di crisis era ini, atas izin Allah, orang tuaku bisa melunasi biaya haji dan berangkat ke tanah suci. Akhirnya setelah berlelah-lelah, betapa bahagianya mama bisa merasakan damai dan indahnya kota Makkah (karena Mama baru pertama kalinya ke masjidil haram). Mama bercerita, disana hanya makan, tidur, dan beribadah, tanpa harus memikirkan dunia. The next level of Iman, ketika raga lelah namun terasa nikmat karena pengagungan ibadah kepada Sang Pencipta. Sebuah hari dimana perjalanan ke Arafah, Muzdalifah, hingga ke Mina, menjadi sebuah momen yang dinanti-nanti hamba-Nya.
Laa haula walaa quwwata illah billah. Tidak ada kekuatan dan upaya, melainkan semuanya atas izin Allah. Akupun belajar, di dalam rukun Islam, salah satunya berangkat haji apabila mampu, bukan menunggu kaya. Pelajaran dan perjalanan luar biasa. Allahu yubaaarik fiihim.
Semoga Allah mampukan kita untuk menggenapi rukun Islam.. bukan kita yang mampu, melainkan Allah. Allahumma aamiinn..
Surabaya, 9 Juli 2025 | Pena Imaji