Allahumma qarribni elaik. O Allah, bring me closer to you.
Aamiin 🙏
TVSTRANGERTHINGS
Keni
trying on a metaphor
No title available
Jules of Nature

JBB: An Artblog!
DEAR READER
Lint Roller? I Barely Know Her
Acquired Stardust

No title available
art blog(derogatory)
Today's Document

pixel skylines
Monterey Bay Aquarium
Claire Keane
tumblr dot com
I'd rather be in outer space 🛸

Kaledo Art
RMH
Three Goblin Art

seen from Oman
seen from United States

seen from Italy
seen from United States
seen from India
seen from Brazil

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Oman
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from India

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
@widistoryline
Allahumma qarribni elaik. O Allah, bring me closer to you.
Aamiin 🙏
- SETITIK AIR ITU BUKAN EMBUN - Hari ini tinta penaku berhenti Tak lagi ingin tertoreh Tulisan demi tulisan indah Yang sengaja kupersembahkan Untuk dia Sebening embun di pagi hari Secuil mentari yang menerobos Memasuki lubang kecil Di jendela kamar yang gelap ini Tak berhenti pikiranku berjaga Adakah kembali rasa dan asa Hingga batas yang tak pernah ada Tanpa bekas, tanpa jeda Dengarkah dia? Suara ini takkan lagi sampai Teriakanku kandas oleh suara lain Yang tak lain adalah kebisingan Dari pemilik hati yang berbeda Hatiku seolah bernuansa jingga Dikala mentari lelah Menampakkan sosoknya Dan berganti bulan di angkasa Sepucuk surat yang terakhir Masih rapat terkunci Tempatku menyimpan hati Yang mungkin takkan pernah Aku kirimkan lagi Lembayung birunya laut Tak sebiru lukisan perasaanku Yang berakar jauh sebelum tanah Yang luka tapi tak berdarah Bahkan setitik air yang kukira Adalah embun Ternyata adalah rintikan air mata Yang tak kunjung kering #setitikairitubukanembun#hatibernuansajingga -widiby16
- KAMU YANG SEDERHANA - Muncul rasa yang hangat Ketika sosoknya berlarian Di dalam pikiranku Hari ini sengaja kusiapkan Setumpuk kertas Yang ingin kuperlihatkan padanya "Ah, itu dia!" Terburu-buru kumelihatnya Kemudian segera kusodorkan Lalu mengernyit dahinya Dan dengan heran ia berkata, "Kertas apa ini?" Aku segera tertawa kecil Ekspresinya begitu menggemaskan Dia kesal karena aku tak menjawab "Ketawain apa sih?" Tampak mengerucut bibir mungilnya Sungguh manis Ah, kenapa sih! Debaran ini selalu mengganggu Kemudian terdengar dari kejauhan Suara musik mengalun pelan Raut wajahnya pun lalu berbinar "Oh lagu ini! Favoritku!" Ah, tampaknya dia lupa Kalau sedang kesal padaku Tingkahnya yang manis Selalu saja mengalihkan perhatianku Kuraih dan kugenggam tangannya Sembari berbisik perlahan, "Ini lirik lagu spesial buat kamu." Semu merah yang cantik Tampak menghiasi wajahnya Hmm ya, aku suka sekali Ekspresi tersipunya Lalu ia pun membacanya perlahan Satu demi satu Diiringi indah senyumnya "Indah banget! Makasih ya. Aku mau kamu nyanyiin ini buat aku!" Oh tidak, ini tak baik Ya, senyum itu Senyum yang selalu melemahkanku Hey, kamu! Berhentilah membuatku gugup Jantung ini rasanya ingin meledak Tiap kali senyummu sempurna Seperti saat ini Tak butuh hal luar biasa Untuk mengembangkan senyuman Di wajahmu Kamu yang sederhana Bisa tampak begitu jelita Kamu yang sederhana Tapi hatimu selalu indah Dan seluas dunia Kamu tak perlu riasan Karena pancaran sinar dari hatimu Jauh lebih cantik Bagiku, Kamu tidak sesederhana itu Justru selalu tampak menawan Sampai kapan? Sepertinya, selamanya -widiby16 #kamuyangsederhana#kamuyangjelita
Dear Rasa, Inginmu Bagaimana?
Sebuah perasaan yang tak terdefinisi dengan benar. Dimanakah letak yang seharusnya? Adakah yang dapat menjelaskan? Bukan. Tapi memberi sedikit pengertian. Rasanya banyak yang berada tidak pada tempatnya. Rasanya banyak yang telah berbeda. Perasaan yang mengambang ini, seharusnya dia bagaimana? Abu-abu tua itu kini menghitam. Lama kelamaan pudar dan perlahan tak terlihat lagi. Tertumpuk asa yang kian tak tahu lagi bagian mana yang nyata atau fana. Adakah yang mengerti? Seseorang saja tolong berikan pemahaman. Seseorang itu siapa? Adakah ia nyata? Ataukah seseorang itu dari dalam diri? Tanya yang tak kunjung terjawab. Atau mungkin terlalu banyak jawaban yang membingungkan. Hingga tak lagi mengerti baiknya yang seperti apa. Kelemahan demi kelemahan yang pada akhirnya bertumpuk. Rona merah yang dulu bersemu kini mulai menghilang. Mungkin diapun lelah. Butuh jeda untuk bernafas. Semburat oranye muda yang selalu menjadi debaran terindah. Perasaan itu sudah tidak sama. Atau mungkin sedari awal tak pernah sama. Hanya keyakinan yang memaksa. Nyatanya, perasaan ini detaknya melemah. Dia tak tahu lagi bagaimana rasanya berdegup kencang karena gugup atau bahagia. Dia kini perlahan mati rasa. Dear, rasa. Kini inginmu bagaimana? Tak dapatkah sedikit saja kau kembali bersemu merah muda? Abu-abu tua pun sudah tak lagi bersamamu. Kau kini dengan siapa? Tampaknya butuh waktu lebih lama dari yang diduga. Biarlah waktu yang akan menyembuhkan. Apakah itu berlaku untuknya juga? Sayangnya, dia hanya diam. Gambaran yang penuh warna. Dulu ia menyukainya. Tapi rona warna cantik itu kembali pudar. Dia lelah dengan segala fana yang diyakininya. Dia sudah lelah mencari. Akankah ada saatnya satu jawaban akan tiba? Setelah seluruh peluh pencarian. Sebuah jawaban yang takkan ada lagi tanya yang akan kembali menunggu disana. -widiby16
Serpihan Hitam
Dunia kian gelap. Tak kuasa membuka mata. Rasa takut menyelimuti dengan hangat. Sesak tampaknya kembali berbisik. Tak mau diabaikan. Dia selalu cemburu.
Bertahan juga sejuta angan. Perlahan terhempas, apalah daya? Tak selangkah pun kaki bergerak. Entah terlalu kaku untuk merangkak. Rasanya hanya berdiam.
Ke-engganan ini darimana mulanya. Hendak lupakan. Namun tak kunjung luntur noda di dada. Tak kunjung mengering lukanya. Semakin dalam lingkaran hitam.
Seolah terkubur oleh perasaan hina. Membuat sekelebat ingin, mati rasa. Biarlah terhenti. Sia-saja saja. Cahaya yang pernah ada kian redup. Sudahi asa ini.
Terlena oleh rapuh. Kembali ke tempat semula. Tertawa ini terbalik. Dunia seakan berhenti. Terlalu lelah ia berputar. Tak lagi ingin mencari, tak juga menemukan.
Mendung yang perlahan menitikkan air mata. Terdiam dalam perhentian asa. Langit abu-abu, aku tak tau. Warna pudar merajai semesta. Hening. Tak pernah ada jawaban.
-widiby16
Dua of Desperation
My Lord, I am in absolute need of the good You send me. (28:24)
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
Rabbi inni limaa anzalta ilayya min khayrin faqeer
Being helpful is a good deed, hang on together is beautiful, but trying not to be burden to anyone is a must too. Believe God must give each of us strength to help live our lives. He won't let you down with no right purpose:)
For Them to be Happy
For them to be happy.
In exchange, the little girl let her heart torn into pieces. Her tears are overflowing like crazy. She let her dearest pets taken over of her. The little girl let her one and only happiness go.
They say, it’s for the good sake. It’s for everyone’s happiness. The little girl nods heavily, since her heart already broken when she agreed to let go of her pets.
She wanna see what comes next. After she lets her pets go, what would they say badly next time? Go and commit suicide? Maybe next time, she will freely do it.
For them to be happy.
The little girl has no desire to choose, yet she has no choice anyway. “Let them be free”. What the hell, she grumbled inside. The pets already like a family for her, yet she has to set them free?
If only the pets feel uncomfortable, they already ran away long time ago. But they always come back to her side, they laid on her lap and see her with their pure and lovely eyes.
The pets need that little girl and vice versa. But who can see that? Nobody cares. The only thing in their mind is only how to hurt her, how the make her sad.
The little girl now in despair. She really feels depressed and don’t know what to do. She just sits before the window, look around while outside the rain is pouring hard.
For them to be happy.
Now her heart is empty. Her sweetheart has gone. Her happiness already took away somewhere. And so on, for them to be happy.
- widiby16
EMPTY
She never tells anyone. She tried her very best not to hurt others. But when it comes to her, she had no clue why others love to interfere her life. Think little of her, make fun of her pride and beliefs. Treat her like a worst and nasty thing in the world. But then she tried over and over again to suppress her inner feeling and think positively about them. But unfortunately it won’t satisfy them enough. She then tries to speak up to verify that she isn’t a weakling, yet it hurts even more. She is now don’t even know what is right anymore. She slowly giving up, it’s tiring. She begins to hate herself, no, she already had it for a long time now. They always ask her what makes her gloomy but it was all cliches. They don’t care. All they care is to ruin her whole life. Her future is no longer there. She live her life as a living corpse. They meant to make her one. And they live as a happy people could do.
- widiby16
Oik, Mungilku yang Malang
Bahkan aku tak lagi mengingat kematianmu. Bukannya sengaja, aku hanya tak mampu mengingatnya. Sungguh salahku membiarkanmu menderita. Kusaksikan akhir nafasmu yang kian terengah itu hingga pada titik dimana air mata ini terjatuh. Bersama dengan segala sesal atas ketidak-sanggupanku menjagamu. Kau begitu mungil dan rapuh. Tapi kubiarkan saja saat melihat kesakitanmu. Aku begitu terlambat hingga tak satupun kulakukan yang dapat menolongmu. Tiada lagi dayaku mempertahankanmu. Kau sudah berjuang, sudah berupaya keras untuk bertahan. Melawan ketidak-mampuanmu untuk bangkit. Walau tubuh mungilmu tak sanggup, tapi kutahu begitu inginmu bertahan kala itu. Kini hanya buliran maaf atas segala yang telah kulakukan padamu. Atas kepayahan dan kelambananku. Hingga membuatmu lama berada dalam rintihan rasa sakit, yang kurasa itu sepenuhnya salahku. Mungkin rengekanku ini takkan mengubah apapun. Takkan membuatmu kembali. Bahkan tak pula menebus dosaku, tapi ingin sekali kuucapkan ini, sekali lagi. Selamat jalan Oik, kucing mungilku yang malang. Bahagiamu kini disisi Allah, ya. Rintihanmu di hari itu akan selalu kuingat dan takkan pernah terlupa. Juga rengekan manjamu, tingkah ceriamu di lain waktu, kan terus membekas apik diingatan. Maaf... Sekali lagi maaf... - widiby16
Well I’m no fit in that special box. I’m no fit in other box as well. Maybe God just want to say that, why don’t I create my own box instead?
widiby16
Retakan Kosong
Takkan ada yang percaya kalau terkadang aku juga memiliki saat suram. Saat dimana aku merasa sangat tersudut dan tidak mampu menolong diriku sendiri untuk bangkit. Takkan ada yang percaya kalau ada tangis yang jarang kuseka. Karena senyum dan tawa-lah yang selalu kutorehkan dalam keseharian. Sedih di dalam hati, nyaris luput dalam perhatian. Takkan ada yang percaya aku juga butuh punggung untuk bersandar. Karena aku benci memperlihatkan air mataku. Yang kubutuhkan hanyalah sandaran tanpa perlu berucap. Takkan ada yang percaya bahwa aku bukanlah orang yang kuat. Aku perasa dan benci dipojokkan. Tapi seringkali lidah menjadi kelu saat aku harus menolong diriku sendiri. Takkan ada yang percaya jika aku seringkali berharap aku tak pernah ada. Karena dengan begitu kupikir semuanya akan jauh lebih baik. Tak perlu ada kecewa bagi mereka. Takkan ada yang percaya kadang aku menjadi muak pada diri sendiri. Tak bisa menolong diri sendiri, menjadi beban dan ancaman bagi orang lain. Seolah aku ini orang jahat. Takkan ada yang percaya aku sering merasa hidup sendirian di tengah banyak orang. Karena mereka yang tampak seolah tak pernah ada saat aku sungguh membutuhkan pertolongan. Takkan ada yang percaya bahwa orang-orang yang tadinya kupikir selalu ada untuk mendukung, kini justru menusukku tepat dari arah depan. Dan rasanya, aku lelah dengan semuanya. Tapi ada satu hal yang mendorongku untuk bertahan. Karenanya, seolah aku masih memiliki harapan. Dan aku belajar untuk selalu meyakininya tanpa sedikit pun keraguan. Ialah yang Maha Suci, Tuhan. - widiby16
Mereka Yang Menyayangi Tanpa Pamrih
Mungkin di masa kini, mereka tidaklah sejalan dengan pemikiranmu. Pemikiran mereka terkadang masih berasal dari pengalaman mereka di masa lalu. Mereka mungkin bukanlah manusia sempurna, karena memang tidak ada manusia yang diciptakan sempurna. Begitupun dengan kita. Mereka mungkin juga tidak sesuai seperti apa yang kamu harapkan. Karena berpikirlah sebaliknya, apakah yang kamu lakukan selama ini sudah sesuai dengan harapan mereka? Tapi renungkan sejenak. Apa saja yang sudah mereka lakukan ketika kamu masih kecil? Saat ingatan kita masih abu-abu, banyak hal yang sudah mereka lakukan untuk kita. Bahkan saat ingatan kita sudah menjadi hitam dan putih, begitu banyak hal yang mereka lakukan dan korbankan demi kebahagiaan kita. Tapi kita? Yang ada diingatan kita mungkin hanyalah kesalahan dan kekurangan mereka saja. Hanya setitik keburukan yang segera menutup seluruh kebaikan mereka di hidupmu. Kekecewaan, amarah, tidak puas akan apa yang mereka ucapkan atau perbuat pada kita saat ini, tidak akan pernah sebanding dengan apa yang mereka rasakan tentang kita. Kita hanya belum pernah saja merasakan berada di posisi mereka. Tapi begitu saat itu tiba, linangan air mata akan segera jatuh mengingat betapa besarnya kasih sayang mereka pada kita. Hargai, sayangi dan buatlah mereka tersenyum saat mereka masih ada disekitarmu. Sebelum penyesalan yang menaungi sisa hidupmu. - widiby16 -
UNBALANCED
Pikiran negatif yang menjalar ke seluruh urat nadinya menghalangi energi positif yang ingin menyelinap masuk. Aura negatif terasa di seluruh ruangan sebesar 4,5 tatami itu. Dia bergumam pada dirinya sendiri, "Terus bertahan, diam di tempat atau mundur teratur?" Lelah hatinya dengan pikiran berat yang terus menghantuinya. Bercerita tak lagi mampu membantunya melepaskan diri dari jeruji yang mengekang pikirannya. Gejolak dalam dirinya pun kian membara. "Menyerah saja. Aku lelah." Berkali-kali ucapan itu meluncur dari bibirnya. Tapi berkali itu pula air mata membasahi pipinya. Goyah keyakinannya pada ucapannya sendiri. Ada suara lain merasuki kalbunya. Berteriak, dia tidak boleh berhenti. Harapan itu selalu ada bagi mereka yang mempercayainya. Ungkapan itu membekas di sanubarinya. Tapi, lagi-lagi penolakan di pikirannya terus bergulat. Dia tidak yakin kalau dia adalah salah satunya. "Harapan tidak datang pada orang yang bahkan tak mempercayai dirinya sendiri." Kaca besar dihadapannya memantulkan refleksi tubuhnya yang terduduk lemah dengan berurai air mata. Dia merasa bodoh, payah dan kalah. Padahal, pertarungan yang sebenarnya bahkan belum dimulai. "Hey, makhluk dihadapanku, kenapa kau begitu tak berdaya? Tak mampukah kau berdiri untuk kesekian kalinya walau telah jatuh berulang kali?" Serunya lemah pada pantulan bayangannya sendiri di kaca besar itu. Tak lagi tampak tawa yang pernah bersemu indah di wajah pucatnya. Dia memutuskan mengunci hatinya dan membiarkan kuncinya hilang. Ditatapnya dalam-dalam bayangan tubuhnya sebelum akhirnya dia memejamkan matanya dan mengambil keputusan terakhir. Perjalanan yang ditempuhnya akan berlanjut atau berhenti. - widiby16
RUANG KOSONG
Ruang kosong setengah usang itu hanya berisikan barang-barang lamanya. Tampak seorang anak kecil berdiri di bibir pintu, sembari matanya menerawang memandangi langit-langit ruangan. Pria paruh baya itu tersenyum tipis membalas pandangan polos si anak perempuan.
“Kamu suka tempat ini?”
Anak itu hanya diam. Lalu, ia memasuki ruangan itu sambil tangannya meraba dinding kusam di samping tubuhnya.
“Om tinggal disini? Sendirian? Enggak takut?”
Mata lelaki paruh baya itu tiba-tiba melebar keheranan. Ia pun kembali tersenyum, kali ini sedikit terbahak.
“Aku pemilik ruangan ini, Nak. Aku sendirian sudah sejak lama dan untuk apa takut? Masih ada orang baik yang mau mengunjungi tempat ini, kan. Contohnya kamu.”
“Keluarga Om mana? Mereka suka kesini jengukin Om?”
Lagi-lagi lelaki paruh baya itu melebarkan matanya. Bukan senyuman yang menghiasi wajahnya kali ini, melainkan air mata. Ia sendiri tampak kaget dengan tetesan air yang mengalir di pipinya itu.
“Mereka tidak pernah kembali kemari. Terkadang, Om yang mengunjungi mereka. Mereka sudah bahagia.”
“Tapi, Om kok nangis? Om sedih ya mereka nggak kesini? Om nggak bisa ajakin mereka ngomong kayak sama aku gini, ya?”
Tertunduk. Lelaki itu kini terisak dalam. Ia kemudian merendahkan posisi tubuhnya perlahan.
Anak perempuan yang kini jaraknya hanya beberapa jengkal dari lelaki itu pun kian mendekat. Ditepuk-tepuknya pundak lelaki paruh baya itu dalam diam. Dibiarkan saja lelaki itu menumpahkan perasaannya.
“Terima kasih ya, Nak. Kamu mirip sekali dengan putriku waktu dia masih seumuranmu.”
Anak perempuan itu mengangguk pelan. Kemudian ia tersenyum pada lelaki di depannya itu.
“Kalau gitu aku boleh sering nengokin Om ya? Aku suka kok sama tempat ini.”
Senyuman lega diiringi anggukan lembut dari lelaki itu ditujukan pada anak perempuan yang masih berdiri di depannya. Dibiarkannya anak perempuan itu dengan riang menjelajahi ruangan kesayangannya itu.
Tempat dimana ia telah lama mematikan hatinya. Semenjak keluarganya berhenti berkunjung dan membiarkannya seorang diri.
- widiby16
Merengkuh Pagi
Di sekumpulan pasir waktu aku menari. Di ujung alpa kubersenandung. Sesuatu kurasa mencekik tenggorokan ini. Suara pun tak lagi terdengar melantun. Hanya sebilah asa yang terus berkuasa. Ingin beredebat hebat dengan realita. Aku ini apa? Tujuan apa yang kubawa? Tanya yang menggeliat bertabur di kepala. Daya ini berkabut, terasa limbung tertiup angin. Demikian gigih kusambut terang pengharapan. Menjadi sosok yang bukan bayangan. Raga dari Yang Maha Kuasa ini teruntuk diri. Kan kuletakkan pada poros yang semestinya. Hamparan manusia biarlah dengan asa dan daya mereka. Bak mencipta sebentuk goresan dengan beragam tinta warna. Perlahan, lukisan itu pasti kan terampungkan. Sekiranya hasrat tuk mengakhiri langkah tak pernah ada. Sekelebat ingin mungkin tersamar, namun hidup kian nyata. Meski perjalanan tujuan nampak fatamorgana, melaju nan gontai. Andai pun pucat, tak pula terhirau, tetap kurengkuh segenggam asa. Karena kupercaya, rangkaian pelangi akan terukir elok seusai hujan reda. Dan pagi esok hari akan lebih bijaksana. - widiby16
Jika diberi 2 pilihan, mana yang akan mbak widi pilih? 1. Nggak suka tapi masa depan terjamin atau 2. Suka tapi entah bagaimana masa depan
Waa gomeen! Baru liat messeji.. 😣Ano, kl ak pribadi tetep milih yg ak suka. Mungkin ngejalaninnya berat dan cahayanya bakal redup tp gpp, asal optimis, konsisten, berusaha dan berdoa terus. In shaa Allah yakin pasti ada jalannya kok.Kl sesuatu yg terpaksa, terjamin mungkin terjamin, tp menurutku ngelakuin sesuatu yg ga disuka itu rasanya ada kekosongan dalam hati yg susah dijabarin. Ato malah nantinya dateng penyesalan karena ga ngelakuin sesuai apa yg disuka.Yah, ikutin sesuai kata hati sarah aja, pikirin baik2, pilihan yg mau sarah ambil itu lebih banyak manfaatnya ato mudharatnya. Biar ga nyesel di belakang hari :)