Jatuh Hati Tanpa Memiliki
Tuan, pernah tidak kau berada pada satu waktu di mana kau tak ingin memandang siapapun lagi, selain seseorang yang telah berhasil mengambil alih seluruh perhatianmu? Entah perasaan ini bermula dari mana, aku sungguh tidah pernah tahu. Namun, kehadiranmulah yang aku tahu telah membawa pengaruh lebih dalam hidupku. Merenggutku untuk menjadikanmu pusat dalam degup dadaku.
Puan, hadirmu adalah rasa yang paling aku nantikan. Denganmu, kini aku kembali percaya pada renjana, yang membuat hari-hariku penuh dengan rencana. Dan rasa yang mengatasnamakan cinta itu kini tak ubahnya aku, kamu menjadi kata âsalingâ. Bersamamu, aku tidak ingin lagi berpaling, dan di pelukmu, aku ingin menjadikannya tempat untuk pulang dan bersanding melepas lelah.
Maksud hati memang sering tak tentu arah, tapi ketika hati sudah memilih, ia bisa menjadi sangat keras kepala untuk ingin menjadikanmu utuh sebagai pemiliknya. Tuan, ingin rasanya kugadaikan apapun agar semesta menyembuhkan segala luka di masa lalu, sebab kini hadirmu bukan hanya membawa badai kasmaran, pun juga mengoyakkan kembali luka yang masih terasa basah; sebab sosoknya.
Namun puan, haruskan di tengah badai kasmaran yang membawa kita untuk menjadi padu, kau berterus terang perihal sosoknya? Buat apa pula kau bercerita perihal lukamu? Lalu, haruskah kini aku percaya lagi pada cintamu? Aku kira di hidupmu, aku lah satu-satunya, namun ternyata dalam hatimu aku hanya salah satunya. Kau dengan tega masuk ke dalam ruang hati tanpa permisi, lalu sekarang kau ingin pergi dengan sesuka hati, ketika dia yang kau damba dulu kembali pada hidupmu lagi.
Di tepian nestapa, hasratku terbungkam sunyi. Sebab maksud hati, kini tak lagi bisa digapai nalar, bahkan pikiran pun tak jua bisa selaras. Tuan, kau masih satu-satunya yang paling aku damba saat ini, meski aku tau, kehadirannya adalah yang paling aku rindukan selain hadirmu. Tapi tenanglah, luka yang basah ini tetap tak membuat bangunan kokoh untuk mencintaimu, roboh begitu saja. Apalagi mengalihkan perasaanku padanya. Tentu saja tak mungkin terjadi.
Kau tahu pasti, hati itu bukan untuk dipilih, hati yang tidak memiliki kaki pun bisa pergi, ketika perasaannya tidak di hargai. Biarkan ku pergi ke belantara tersembunyi, jauh disana ke antah berantah. Dan jika aku hilang dan tak kembali, aku bukan tersesat tapi menemukan diri. Agar kau mengerti, bahwa pergi adalah cara terbaik untuk hati yang tidak baik-baik.
Jika jatuh hati ini adalah cara yang salah untuk bisa memilikimu, maka akan kurelakan segala hal termasuk kepergianmu. Jika definisi bahagia adalah melihat orang yang kita sayang bahagia, maka apapun itu aku mau melakukannya untukmu. Hati memang bukan mainan yang bisa dipilih seperti yang sering anak kecil lakukan di sebuah toko, namun bolehkah sekali lagi aku keras kepala? Bolehkah sekali lagi aku memperbaiki apa yang menjadi penyebab kau terluka? Agar hatiku dapat bersanding dengan hatimu? Sedang sejatinya bukan hanya kau saja yang menderita sebab telah jatuh dan mencinta terlalu dalam, aku pun begitu adanya; sama-sama terluka.
Memang benar adanya, cinta juga harus menerima masa lalu nya. Tetapi, sampai kapan kau hidup di masa lalu dengan semua pengulanganmu? Sedangkan disini, di hati yang selalu kau kecewakan, ada harapan yang akan menuntunmu di dalam kegelapan. Pulanglah puan kelana, akulah rumah yang akan membawamu kemana-mana.
Tuan, andai semua terasa mudah, ingin ku serahkan segala hatiku untukmu, menjadikanmu tempat di mana pelukmu layaknya rumah sebagai tempat pelipur lara, sebab sejatinya kita adalah rasa yang tepat dengan waktu yang terasa salah. Pada akhirnya, kita tak akan pernah mengerti. Jika tetap mempertahankan, kau dan aku hanya akan berakhir saling menyakiti. Kini, biarkan saja semua begini adanya, jatuh hati tanpa saling memiliki.
@ayuriskiyana x @ronibmaulana