Kicauan Twitter: Informasi yang Tidak Penting
Ruang publik atau public sphere menurut Habermas adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada seluruh realitas kehidupan sosial yang memungkinkan masyarakat untuk bertukar pikiran, berdiskusi serta membangun opini publik secara bersama. Ruang publik tidak hanya diasosiasikan pada keberadaan ruang sosial secara fisik, namun juga menyangkut institusi sosial beserta saluran komunikasi yang memungkinkan publik untuk dapat menyalurkan opini atau pendapatnya secara bebas tanpa tekanan dari negara.
Pemahaman ruang publik dapat diartikan juga sebagai penciptaan ruang sosial di antara negara (state) dan masyarakat (civil society), di dalamnya setiap warga negara dapat terlibat dalam pertukaran pikiran dan berdiskusi bersama untuk membicarakan urusan publik tanpa harus berada dalam kontrol dan intervensi negara maupun kekuatan ekonomi.
Penempatan ruang publik di media seharusnya diposisikan steril dan netral dari berbagai tekanan yang mempengaruhinya agar dapat menjalankan fungsi ruang publiknya secara ideal. Namun dalam kenyataannya hal itu tidak dipraktikan dengan baik apalagi di Indonesia.
Contoh kasus:
Pada tahun 2013 lalu melalui twitternya Farhat Abbas menghina Ahmad Dhani tak becus dalam mengasuh anak-anaknya. Farhat juga berkomentar sinis soal Dhani yang mengaku bangkrut akibat harus menanggung korban kecelakaan. Namun Ahmad Dani tidak meladeni hal-hal seperti itu. Tersulut emosinya, Al dan El pun menantang Farhat untuk naik ke ring tinju. Gerah dengan ocehan Farhat Abbas, dua putra Dhani, Al dan El geram. Dua putra Dhani yang sudah lama menekuni ilmu bela diri itu mengaku siap pasang badan melawan Farhat begitu mengetahui sang ayah dimaki Al dan El menantang Farhat Abbas untuk duel di atas ring tinju karena kesal ayah mereka dihina.
Kasus di atas termasuk dalam jenis masalah ruang publik yakni, trivialiasi. Banyak pemberitaan yang muncul yang memberitakan kasus tersebut dari mulai di televisi, media cetak, media baru (internet), dan bahkan menjadi topik perbincangan yang populer di media sosial. Padahal kasus tersebut sangat tidak penting dan tidak layak untuk diinformasikan di ruang publik kepada khalayak banyak. Kasus Farhat dengan anak-anak Dhani ini sebenarnya masalah pribadi yang bisa diselesaikan dengan cepat dan tenang tanpa harus di-blow up ke media. Terlebih mereka juga merupakan public figure yang mencari sensasi agar lebih terkenal. Media yang menjadikan kasus ini sebagai headline berita nampaknya masih kurang paham kegunaan dari ruang publik.
Tak heran bila kasus trivialisasi ini sudah sering terjadi di Indonesia. Kasus-kasus sepele dan tidak penting justru malah mendapat ruang yang lebih untuk diberikan kepada khalayak ketimbang kasus-kasus yang informatif. Hal ini menyebabkan khalayak akan bingung dengan terpaan informasi yang diterimanya.
Sumber:
http://www.tribunnews.com/topics/farhat-abbas-vs-anak-ahmad-dhani















