Kebaikan dunia dan akhirat ada pada lima hal yaitu kaya jiwa, menahan diri dari menyakiti, usaha yang halal, berpakaian ketakwaan, dan percaya kepada Allah dalam setiap keadaan.
Imam Syafi’i (via tantradiashari)
todays bird
$LAYYYTER
KIROKAZE

#extradirty
The Stonewall Inn

bliss lane
TVSTRANGERTHINGS

Discoholic 🪩
occasionally subtle
🩵 avery cochrane 🩵
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
cherry valley forever

pixel skylines
Sweet Seals For You, Always
almost home
Not today Justin
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

titsay
The Bowery Presents

Love Begins

seen from Argentina

seen from United States
seen from Chile
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore
seen from T1
seen from France
seen from Singapore

seen from United States

seen from India
@wiwiewiwie
Kebaikan dunia dan akhirat ada pada lima hal yaitu kaya jiwa, menahan diri dari menyakiti, usaha yang halal, berpakaian ketakwaan, dan percaya kepada Allah dalam setiap keadaan.
Imam Syafi’i (via tantradiashari)
Jangan Takut Dengan Lamanya Kesendirian #7 : Ujian Terbesar
Banyak orang (termasuk saya) mengeluhkan omongan orang lain yang nyinyir atau mencemooh sebab kita belum menikah di usia segini (26 ke atas lah, yang di bawah itu jangan ikutan galau). Ketika belum mengerti, buat saya dulu hal ini salah satu hal paling menyebalkan dalam hidup. Beberapa orang menilai ini ujian besar.
Setelah sedikit mengerti, meski omongan orang lain tetap menyakitkan, ternyata ini bukan ujian besar. Ujian besar, dan terbesar, adalah ujian tawakkal dan husnudzon pada Allah. Juga ujian keimanan agar tetap berada di jalan yang benar, dalam hal ini mungkin saya belum baik.
Berapa kali kita mengeluh, sudah berusaha dan muhasabah tapi selalu gagal menikah? Berapa kali kita mulai putus asa dan mengatakan mana ada yang mau sama kita? Semoga keluhan kita hanya berupa noktah untuk mempermanis ujian. Jangan sampai keluhan itu berjalan lebih dalam, menjadi hal yang melemahkan keyakinan kita bahwa setiap takdir Allah pasti baik. Pasti baik!
Ujian terberat dari setiap ujian (bukan hanya terlambat menikah, tapi juga sakit, kesulitan keuangan, musibah) adalah ketika harus bergelut dengan diri sendiri tentang apakah harus berbaik sangka atau berburuk sangka pada Allah Yang Menetapkan Segala Sesuatu.
Mungkin orang lain akan berkata, “barangkali kamu punya dosa yang harus ditebus di dunia.” Tidak perlu diberitahu, saya (mungkin kita?) sudah lebih tahu daripada orang lain. Kadang - kadang, perasaan berdosa itu menjadikan saya berburuk sangka bahwa Allah membenci saya.
Lama kelamaan, saya berbaik hati pada diri sendiri, belajar menerima bahwa ujian juga diberikan pada orang - orang yang sudah meminta ampun. Itu ujian, sesederhana itu. Kadang-kadang kita juga perlu berbaik sangka pada diri sendiri, untuk memperingan perjalanan yang beratnya sudah tak terkirakan. Untuk mempertahankan baik sangka pada Allah, bahwa Dia hanya ingin kita belajar bersabar dan bertahan.
Akhirnya, semalam, sekilas saja, saya tidak berani lama-lama. Saya bersyukur bahwa Allah memberikan ujian pada saya yang ketika saya telusuri, semuanya sedang memperbaiki sifat-sifat buruk saya. Pemarah, diuji dengan nyinyiran orang lain sehingga saya belajar menahan diri untuk tidak balik menyakiti meski sudah berniat jahat dalam hati. Buru - buru, diuji dengan lamanya penantian agar saya belajar sabar menunggu. Kurang bersyukur, diuji dengan banyak takdir yang meleset dengan rencana agar saya belajar mengambil hikmah kemudian belajar ridho pada ketetapan-Nya. Sombong, diuji dengan didahului banyak orang lain agar saya belajar rendah hati. Buruk sangka, ditunjukkan dengan kebaikan - kebaikan yang banyak sekali berada di sekitar saya sehingga saya tahu Allah tetap sayang. Allah selalu sayang, dengan ujian dan segala kemudahan yang Dia berikan.
Sungguh, ujian terberat dari sebuah musibah adalah bagaimana mempertahankan tawakkal dan baik sangka pada Yang Menetapkan Musibah. Semoga segala kesulitan menjadi besi yang menempa hati kita semakin kuat, semakin tawakkal, semakin bertauhid, semakin lapang dada, semakin menikmati setiap takdir, semakin mudah bahagia, semakin bersabar menghadapi orang lain yang tak peduli pada hati kita yang sedang diuji.
ZINA YANG MENJADI GAYA HIDUP
By. Ario Muhammad
“Bagaimana kamu yakin bakalan puas berhubungan seksual dengan calon Istrimu kalau gak pernah nge-seks sebelum menikah?”
Pertanyaan ini meluncur santai dari salah satu sahabat saya dari Jepang beberapa waktu lalu saat kami sedang makan siang bersama karena dia sangat tahu, seks bebas tak lazim bagi orang Indonesia.
“Saya tidak pernah berhubungan badan dengan yang lain. So how can I make a comparison?” saya membalasnya tenang.
Sejujurnya saya kaget mendapatkan pertanyaan dari dia seperti ini. Tidak pernah terbayangkan dalam otak saya bahwa hal ini akan menjadi masalah bagi seseorang jika dia tidak bisa menikmati kehidupan seksnya, maka pernikahannya tidaklah bahagia.
Kekagetan saya ini juga menjadi pertanda bahwa latar belakang yang berbeda, gaya hidup yang berbeda, nilai-nilai kebenaran yang berbeda ternyata juga melahirkan cara pandang yang berbeda.
Saya muslim, lahir di negeri mayoritas muslim dengan kultur islam yang kuat. Teman saya di Jepang tentu saja berbeda. Agama bukan lagi bagian dari hidup, seks bebas bukanlah aib apalagi dosa bagi mereka. Gonta ganti pasangan tidaklah masalah karena memang begitulah kehidupan mereka. Saya tidak bisa memaksa pemahaman saya seperti ini dalam sehari agar bisa diikuti olehnya. Begitu juga sebaliknya. Wajar jika dia keheranan soal kepuasan berhubungan seks kepada saya. Karena baginya, ini bagian terpenting dari sebuah hubungan resmi bernama PERNIKAHAN.
Dan zina adalah lifestyle di negeri-negeri barat dan tanpa agama. Karena memang mereka tumbuh dengan kultur seperti itu. Agama bukan lagi menjadi pelindung dan pengontrol atas nafsu manusia. Selama suka sama suka, bukanlah sesuatu yang terlarang bagi mereka. Entah itu lelaki sama lelaki, perempuan sama perempuan, semua sama saja. Tak ada masalah sama sekali.
Tak berapa jauh dari kampus University of Bristol, Inggris tempat saya dan Istri mengenyam pendidikan S3, ada club malam untuk Gay, di tempat-tempat umum sudah biasa orang berciuman mesra walau batas-batasnya tetap terjaga dan tidak sembarangan. Karena memang norma mereka dengan kita berbeda. Nilai yang mereka anut dengan kita berbeda. Di UK, pasangan lesbian bisa memiliki anak dari sperma sumbangan. Begitu juga dengan pasangan Gay, mereka juga melakukan hal yang sama. Maka alasan kepunahan manusia terbantahkanlah dengan cara mereka seperti ini. Kehidupan mentalnya bagaimana? tentu tidak akan sempurna sesuatu yang tidak pada fitrahnya, tapi teman saya Fissilmi Hamida ini pernah memiliki landlord (tuan rumah) pasangan lesbi yang punya skill parenting jauuuh lebih baik di banding orang tua-orang tua muslim yang pernah ditemuinya.
Lalu dengan “nyamannya” kondisi di negara barat yang menjadikan zina sebagai lifestyle, LGBT sebagai sesuatu yang lumrah, haruskan di Indonesiapun terjadi seperti itu?
Saya tidak ingin membahas soal penyebaran penyakit akibat dari perilaku zina ini. Karena informasinya sudah banyak beredar dan sudah jelas penyebabnya. Untuk itulah program-program seks sehat digalakkan di negara-negara maju yang kemudian juga disarankan oleh para aktivis YANG ANTI DIURUSI RANJANG-nya mengkampanyekan hal yang sama.
Tapi ingat para orang tua dimanapun!
Terutama kamu yang masih percaya dengan Allah dan syariat-Nya.
Kita sedang memandang wajah anak-anak kita di masa depan. Tentang ketakutan kita akan bahaya pornografi, tentang ketakutan kita akan perilaku seks menyimpang yang begitu mudah tertular, kita sedang khawatir ibu-ibu RT yang kemudian harus tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) karena suaminya sering “jajan” di luar, kita sedang resah karena pelakor yang menghancurkan rumah tangga orang dengan dalih suka sama suka, kita sedang benci dengan maraknya tindakan seks bebas di kalangan remaja.
Ini bukan soal PMS yang bisa diatasi, ini bukan menjunjung tinggi hak asasi seseorang karena atas dasar pilihannyalah dia berzina. Kita sedang mencoba untuk saling menasihati sebagai sesama muslim. Karena agama ini nasihat [1].
Kita sedang ingin mengingatkan saudara kita diseberang rumah atau mungkin saudara kandung kita bahwa masih ada Iman yang harus kita pegang, masih ada kekuatan ruhiyah yang bisa kita perjuangkan agar jauh dari tindakan tak senonoh seperti ini.
Ini bukan hanya tentang kekhawatiran akan masa depan anak-anak kita, keluarga terdekat kita, ketakutan ini jauuuuh lebih panjang dari itu. Yang kita takut adalah saat kita sakratul maut nanti. Saat kita menghadap Allah nanti. Tidak ada kekhawatiran yang mendera begitu hebatnya selain melihat saudara muslim kita sendiri terjebak dalam pusaran maksiat seperti ini. Untuk itu kita memberi nasihat, untuk itulah kita berjuang hingga ke parlemen dan undang-undang.
Ini bukan karena saya lebih baik dan anda lebih buruk dari saya, tapi tentang saling membuka lebar-lebar tentang mana yang salah dan mana yang benar. Tentang kembali ke kultur kita sebagai seorang muslim, seseorang yang masih percaya bahwa ada aturan Allah yang harus kita ikuti, ada rambu-rambu yang harus kita jaga.
Anda mau anak-anak SMA terbiasa hamil lalu cuti melahirkan dan kembali sekolah lagi? ini terjadi di negeri Inggris yang menjadikan zina sebagai lifestyle.
Anda mau suka sesama jenis adalah hal lumrah yang tak perlu dikhawatirkan dan sudah dimulai sejak anak-anak anda remaja? ini terjadi di negara yang tak mau lagi percaya akan Tuhan.
Anda mau jika agama yang menjadi penyelamat hidup kita kelak hanya menjadi atribut tak berguna yang hanya menjadi sumber pengekang kehidupan manusia?
Kalau anda mau silahkan. Tapi tidak dengan kami yang masih ingin nafas islam itu bernyawa di tubuh dan jiwa generasi-generasi kami.
Kami masih ingin lantunan qur'an itu merdua disetiap maghribh maupun subuh di rumah kami dan anak-anak kami kelak.
Kami masih ingin semangat menuntut ilmu di sekolah selalu teriring dengan keinginan yang kuat untuk mendekat kepada Allah.
Kami masih ingin itu terjadi sekalipun kami mati. Untuk itulah kami berjuang menjaga ketahan keluarga agar tetap memiliki nafas Allah dan Rasul-Nya dari rumah-rumah setiap keluarga muslim.
Jika anda tak suka, jangan menuduh kami tak mau memperjuangkan hakmu yang kamu atur sesukamu. Kami sedang khawatir keindahan berislam itu hilang dan luntur dari akar keluarga kami. Untuk itulah kami bersuara.
Saya tidak pernah menyesal terlahir sebagai muslim dan dianggap “terkekang” dengan aturan-aturan agama.
Karena dengan itulah jiwa kami bisa lapang, dengan mengingat-Nya lah hati kami tenang. Kami tak perlu pusing memikirkan akhir pekan harus mabuk berapa lama seperti teman saya dari Romania, kami tak perlu berfikir berapa banyak uang yang harus kami keluarkan hanya untuk MENCARI KEBAHAGIAAN persis seperti rekanku dari Italia yang kebingungan mencari destinasi liburan, kami tak perlu bingung memikirkan apakah calon pasangan kita memuaskan di ranjang atau tidak karena tak pernah mencobanya sebelum menikah, kami tak perlu sibuk bekerja hingga meninggal seperti orang Jepang hanya untuk memuaskan dahaga dunia.
Untuk itu setiap orang tua dimanapun, keluarga adalah kunci dan fondasi paling awal menantang “keras"nya dunia. Jika Agama hilang dari keluarga kita, maka bersiaplah menerima gaya hidup baru yang semakin menjauhkanmu dari Tuhan.
Bagi kalian yang senang semakin jauh dari Tuhan, silahkan. Tapi bagi kami, keberadaan Allah di hati adalah segalanya. Bagi kami, menjaga anak dan keluarga kami dari api neraka lebih kami takutkan dibanding mengikuti mau manusia yang selalu berujung pada nafsu belaka.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [at-Tahrîm/66:6]
Salam musim dingin dari Bristol, Inggris.
[1] Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
Serem yaa 😭
Bila kamu belum menikah. Tetaplah rendah hati dan sabar. Doamu tak diabaikan Allah.
unknown (via nakindonesia)
:’)
Wajib seorang hamba menerima segala ketentuan hukum Allah, baik yang sifatnya ringan ataupun berat. فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّـهِ “Maka jika mereka tidak memperkenankan seruanmu, maka ketahuilah itu artinya mereka hanya mengikuti hawa nafsu. Dan siapakan yang lebih sesat dari orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan meninggalkan petunjuk Allah” (QS: al Qashash: 50)
@alnajdi1 - Dr Muhammad al Hamuud an Najdi, Doktor dalam bidang akidah, Imam dan Khotib di Masjid Shobaah An Naashir.
25/11/2016
(via twitulama)
Hal terbaik yang bisa kamu percaya dari takdir adalah ia selalu yang terbaik untukmu dan selalu ada ruang untuk memperjuangkan takdir yang baik. Hal yang sering terlupa terkait takdir kita adalah kita sulit/butuh waktu untuk memahami maksudNya, dan kita jarang berprasangka baik.
Kurniawan Gunadi
Tidak Terlihat Dekat dengan Siapapun
Diskusi QuarterLifeCrisis beberapa hari yang lalu masih seputar dunia jodoh. Mungkin bagi teman-teman yang belum mengalami, atau sudah melewati, obrolan semacam ini bisa dianggap membosankan. Tapi bagi yang sedang mengalami, mendiskusikannya dan berusaha mencari jawaban yang menenangkan adalah sebuah proses penting untuk melewati fase tersebut. Salah satunya dengan curhat.
Salah satu teman kami berkesah, setiap kali pulang atau orang tuanya menelpon, sering ditanya sudah punya pacar atau belum (karena orang tuanya tidak tahu kalau anaknya tidak mau pacaran), atau dengan candaan guyonan dari teman-teman yang lain tentang seputar tersebut. Orang tuanya pun seringkali bertanya, kapan rencana menikah? Sudah ada calonnya belum? Atau dalam kalimat-kalimat tidak langsung seperti, “Wah ini undangan ke rumah banyak banget dari teman-teman SD mu, mereka sudah menikah ya, kayak masih kecil kok udah mau nikah aja.” dan lain-lain.
Sementara teman kami ini, ia sama sekali tidak terlihat dekat dengan siapapun. Sama sekali. Bahkan ketika kami tanya, “Emang nggak ada cowok yang lagi pdkt gitu?” Jawabnya, “Enggak ada”. Juga pertanyaan lain yang sejenis,”Nah, lagi deket sama siapa gitu? Meski dia nggak pdkt?” Jawabnya masih sama, “Enggak ada”.
Dan karena ketidak-adaan inilah yang mungkin juga membuat orangtuanya bertanya-tanya, kok anaknya nggak pernah cerita suka sama siapa, atau lagi dekat sama siapa, atau ada yang pdkt dan gimana? Sementara teman-teman sebaya lainnya bahkan sudah ada yang maju melamar, meski pada akhirnya belum juga menikah.
Usianya sudah cukup matang (dalam standar orang tuanya) untuk masuk ke fase berikutnya. Juga mungkin karena melihat anaknya yang santai-santai aja, cenderung biasa-biasa aja dalam menanggapi hal tsb. Semakin membuat orangtuanya cemas.
Terlepas dari semua itu, terlepas dari sikap cueknya dan kesan biasa-biasanya ini. Teman kami bercerita kepada kami, kalau pada akhirnya dia juga berpikir. Berpikir tentang kenapa dia tidak terlihat dekat dengan siapapun? Enggak ada yang pdkt sama dia, apa enggak ada yang tertarik? Menurut kami, aneh kalau tidak ada yang tertarik dengan perempuan semandiri dan semanis dia.
Sampai pada akhirnya, diskusi panjang tanpa solusi itu berakhir dengan sebuah konklusi, barangkali itu adalah cara Allah menjaganya (terutama setelah ia berhijrah dan memutuskan untuk enggak pacaran), barangkali itu adalah bentuk perlindungan, menyingkirkan laki-laki yang mau mendekatinya tapi tidak dalam levelnya. Dan tentu saja sudah bisa kami tebak, dengan salah satu sifat tegas yang dia miliki, laki-laki kalau cuma mau pdkt untuk pacaran pasti sudah ditendangnya jauh-jauh.
Dan akhirnya, hal terbaik yang bisa manusia lakukan atas apa yang terjadi dalam hidupnya adalah bersyukur. Bersyukur sebab ia tidak terlihat dekat dengan siapapun, bahkan tidak ada yang mencie-ciekan dirinya dengan siapapun. Seperti itulah caraNya menjaga kehormatannya, izzah-nya
Yogyakarta, 17 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
nggak ada yang bilang lemah, itu semua malah kekuatan mu. menjadi berbeda dari yang tidak baik itu baik. jagalah segalanya, agar dahaga yang dirasa akan menjadi nikmat berbuka yang istimewa pada waktunya.
Cerpen : Cantik, Hanya Untuk Dilihat.
Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman lama terlibat dalam sebuah diskusi. Mungkin karena tidak lama ngobrol ngalor ngidul. Diskusi kami membahas banyak hal. Salah satu hal yang kami ingat adalah tentang fenomena orang-orang yang begitu ingin menampilkan sisi-sisi pribadi dari hidupnya.
Rela menjadikan privasinya sebagai sesuatu yang umum. Rela memperlihatkan detail-detail dirinya secara total dan menjadi sesuatu yang umum. Pembahasan ini sebenarnya tentang kasus krisisnya tentang pasangan hidup ditengah-tengah kariernya yang menurutku sudah cukup. Juga usianya yang menurutku lebih dari cukup untuk masuk ke jenjang tanggungjawab yang berbeda. Dan saya sudah menikah, mungkin sebabnya pembahasan itu menjadi lebih realistis. Tidak seperti dulu, beberapa tahun yang lalu.
Salah satu katanya itu menarik, “Kalau melihat perempuan-perempuan yang hilir mudik di instagram itu, cantik-cantik sih emang, captionnya pun luar biasa bijak. Tapi buatku, mereka itu hanya untuk dilihat, tidak sampai membuatku ingin menikah dengannya.”ujarnya
Tentu jawaban ini bisa didebat, tapi aku tidak ingin mendebatnya. Apalagi itu hanya timbul dari asumsinya, tidak mengenal dengan baik dan personal siapa perempuan-perempuan yang hilir mudik di media sosialnya itu. Tapi aku lebih tertarik, sebab mengapa hal itu muncul di pikirannya.
“Entahlah. Mungkin karena gue anak ekonomi kali ya, tapi mungkin ini enggak ada hubungannya. Kalau kita berpikir secara ekonomi, ketika kita mau menjual sesuatu, katakanlah promosi. Kita akan menampilkan yang terbaik yang bisa kita jual kepada calon pembeli. Kalau kita tidak punya ini, kita punya itu. Kalau semua itu ditarik ke sisi manusia. Kita bisa melihat secara langsung, kalau kita tidak memiliki kecerdasan yang cukup, kita akan menawarkan tenaga atau kekuatan kita. Kalau kita tidak punya kekuatan juga kecerdasan, kita mungkin bisa menawarkan hal yang lain. Sampai ada yang paling ekstrem seperti menawarkan tubuhnya, organnya, bahkan bayinya untuk dijual.”
Aku berusaha menyimak, cara berpikirnya memang sedikit menarik.
“Di media sosial itu, orang tidak punya berusaha menampilkan agar menjadi punya. Manipulatif. Berusaha tampil secara fisik menarik. Entah dari tubuh, gaya hidup, makanan yang dimakan, tempat bepergiannya, dan sebagainya.”
Saya manggut-manggut.
“Dan terakhir, ketika ia tidak memiliki hal lain seperti kecerdasan atau kemampuan-kemampuan lainnya, ia akan menampilkan kecantikannya. Sebagai nilai jualnya.”
“Kesimpulannya apa?” tanyaku.
“Gue nyari yang cerdas, yang rendah hati, yang tahu adab dan menjaga diri. Dan yang seperti itu, gue tahu mereka nggak akan menawarkan dirinya melalui kecantikan diri. Dengan make up, pakaian paling anggun, sambil makan cantik di tempat hits. Karena mereka tahu dimana nilai jual mereka. Bukan di kecantikan.”
Saya manggut-manggut lagi. Dulu saya menemukan istri saya di organisasi, bukan di instagram sih.
“Dan yang seperti itu, mainannya tidak di dunia maya.” ujarnya mantab, sambil menyeruput es teh terakhirnya.
Yogyakarta, 19 September 2017 | ©kurniawangunadi
Keren sih. Yg punya cara pikir begini juga jarang sekali sekarang. 🖒🖒
Kalau kamu berhenti berdo'a, tandanya ada yang salah dengan dirimu, dengan isi kepalamu, dengan isi hatimu, dengan caramu berpikir, dan dengan caramu bermimpi. Mulailah curiga, jangan-jangan kamu sudah berhenti percaya.
— Taufik Aulia
Sunnah Dalam Berdoa
Diantara sunnah dalam berdoa adalah dengan mendahului doa dengan menyebut-nyebut asma dan sifat Allah, dengan puji-pujian…
Yang sadar tidak sadar, cara ini sebenarnya telah kita baca setiap hari 17 kali yakni dalam Al-fatihah, empat ayat pertama berisikan pujian, menyebut asma sifat Allah, dan ayat setelahnya baru berisikan doa.
Yang juga menariknya, cara ini tidak hanya dipakai oleh manusia, namun Malaikat juga memakai cara ini dalam berdoa, seperti dalam surat Ghafir ayat 7, Allah berfirman:
(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala
Mari mari perhatikan, doa di atas diawali dengan “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, barulah kemudian doa dipanjatkan
Ya sekian, mari memperbanyak doa :))
Allahu A'lam
(Tulisan setahun yang lalu, terimakasih facebook wkwk)
in your orbit.
ada saat dimana adanya kita adalah menjadi ujian untuk orang lain,
ada saat dimana adanya kita adalah menjadi cermin untuk orang lain,
ada saat dimana adanya kita adalah menjadi …..
maka setiap pertemuan dalam dunia nyata maupun maya adalah karena Ia yang mempertemukan dan tak ada yang sia sia.
menjadilah bermanfaat untuk semua dan jangan keluar dari koridorNya.
menjadilah bermanfaat untuk semua dengan cara yang baik, dengan cara yang santun.
pertemuan kita saat ini adalah hasil dari doa doa kita yang mungkin bertemu dalam orbit yang sama.
jika ujianmu berujung kecewa, mungkin engkau salah dalam menaruh harap dalam rupa.
jika ujianmu tak ada ujungnya, mungkin memang bukan dalam satu frekuensi yang sama.
in your orbit, 🙏
untuk sementara atau selamanya.
👌
Allah tidak akan menaruhmu di tempat yang kau tidak mampu, Allah lebih mengetahui bahwa dirimu tidak memiliki kekuatan untuk menjalaninya.
Muhammad Al-Bagir (via bringmetojannah)
Selalu ada alasan mengapa daun berjatuhan. Begitu pula dengan segala kesedihan. Sebab itu, karakter tidak ditentukan dari besarnya alasan. Namun, dari kemampuan mengendalikan kesedihan.
(via herricahyadi)
Dunya is like salt-water; whenever you increase in drinking it, you will also increase in thirst.
— ﷽ (@IslamicThinking) August 8, 2017
The Prophet ﷺ said:
❝The best charity is to give water to drink.❞
● Al-Albāni: ‘Hasan’ In Saheeh al-Jama, (No. 1113)
Tidak ada yang membuat kita begitu enggan beribadah melainkan karena telah bertumpuk-tumpuknya dosa. Dosa itu ibarat beban, jika banyak ia akan memberatkan manusia, semakin banyak beban akan semakin tertatih dalam melangkah, hingga begitu berat dalam beribadah
(via udashidiq)