Mendekap tapi tak Bertaut
Kadang, kita tidak paham bagaimana indahnya hati yang jatuh. Sesuatu yang harus disyukuri adalah ketika kita masih bisa jatuh 'lagi' setelah remuk redam. Kadang, kita bersikap seolah penerimaan bagi hati yang luka itu adalah obat terbaik.
Namun sesungguhnya, ada hal-hal yang lebih pantas dijadikan obat, yaitu senyum dan sapa. Tak perlu saling tahu, cukup anggukkan kepala. Hal itu mewakili hati yang saling menghormati, hormat akan keputusan masing-masing pribadi untuk tetap diam meskipun mengagumi dari jauh. Cukup tahu. Cukup paham. Karena terbuka kadang bisa menghancurkan istana yang terbangun susah payah.
Aku tak akan mungkin menjadi bagian dalam riuh rendah sekelilingmu. Tahukah kau bahwa hadirmu nyaris seperti magnet bagi ribuan biji besi seantero jagat raya? kau dan pundakmu itu milik banyak orang, aku tak mau -mungkin lebih pada tak sanggup- dianugerahi berkat memilikinya. Biarlah aku dalam diamku, yang selalu menelisik dalam untaian napasmu. Bukankah kita saling tahu bukan? bahwa kita saling ingin mendekap namun tak mampu bertaut?.
Aku dan masa laluku. Kamu dan masalalumu. Kita memang tak lagi hidup di masa lalu. Namun timbunan kenangan rongsok itu kadang menghalangi jalanku yang sudah terjal oleh popularitasmu. Aku sering terseok-seok lalu terjerembab, kadang tersandung hingga berdarah-darah, namun kau datang bagai obat penghilang sakitku. Namun, tolong ceritakan padaku untuk tetap bertahan saat sakit tersebut menusukku berulang kali? Aku hanya jadi bebanmu, mengertilah itu.
Tak perlu seluruh dunia tahu bahwa pernah ada waktu dimana kita saling âjatuhâ dalam pusaran kagum yang sama dan lekas diakhiri oleh kesadaran diriku yang sampai sekarang masih kau pertanyakan, juga kau maki sesering aku memintanya.
âKita sahabat, ya?â kataku dengan suara rendah.
âTaik!â suaramu naik satu oktaf.
âKamu nggak ngertiâ aku masih tak ingin kalah.
âApanya yang gak aku ngerti dari kamu? Donât talk too much, darlâ ini sifatmu. Kalimat dari mulutmu itu berbisa. Sekelas racun pada es kopi Vietnam kali lalu.
âUnderstand me. What about a friend?â aku juga bisa. Mungkin tidak seracun mulutmu.
âF*ck them. I donât care!â nah, ini kebiasaanmu. Aku hafal betul.
âDengerin gue. Sekali ajaâ mungkin kau akan lunak dengan kelembutan.
âItu permintaan paling annoying sejagad raya. Asu! terserahlah, gue budegâ ternyata tidak. Kau keras kepala. Dan mulutmu, benar-benar minta kuhantam sekali dua kali agar sedikit bersih.
âHobi. Nista banget tiap kali ngomong gitu muluâ kali ini aku kesal. Kesal karena kau tak juga mengiyakan. Kesal dengan racaumu. Kau berteriak. Dan memaki. Sial! siapa yang kau maki tadi? perempuan-perempuan itu? kau ingin menghabisiku, hah?
âApaan? gak di cut juga yang penting sayang kan?â aku diam. Tak sanggup berbicara. Kau benar. Umpatanmu itu memang menyebalkan. Namun aku menyayangi si empunya âkata-kata nistaâ itu.
Selalu saja berakhir dengan aku yang tersenyum tipis. Kita masih menggantung dengan tanya yang selalu kau dengungkan tanpa kentara âAku rela digantung. Terserahnya kamu. Aku nunggu kokâ
Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu kapan kau mau mengerti.