Bagaimana mau melawan kerasnya dunia, kalau sama pikiran sendiri saja aku sudah kalah?

seen from United States

seen from Colombia
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from China

seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from Canada
seen from China

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from Canada
seen from Venezuela
seen from Saudi Arabia

seen from Australia
Bagaimana mau melawan kerasnya dunia, kalau sama pikiran sendiri saja aku sudah kalah?
NO BUT YOU DONT UNDERSTAND THE RELATIONSHIP BETWEEN KALAH RICA AND FEM BROSCA AND CASTELESS WOMEN IN JENERAL.
Rica is a woman in dust town. And kalah is a woman in dust town too. The women of dusttown are all doomed but there’s only one thing that can save them from squalor. It’s expected that women try to pay back the debt they incurred by being born girls when their mothers begged the ancestors for boys.
And there’s fem brosca. And Jarvia. And the women who for one reason or another do not hunt for noblemen. But can you imagine how that must be like?????????? How that must feel? Abandoning the only path that could get you and your family out of the dust,???
And the carta is full of men. Who look at you the way men of Orzammar have been taught to look at you. Oh my GOD. And brosca has to protect rica from the lechers in the carta while rica protects HER from the Noble lechers. Neither of them can be saved. NONE of them can be saved
Rica. Oh my god rica. Can you IMAGINE. Training yourself to be the perfect fertile wife for a man who can only see you for what he might bring forth from you?????? So that you can protect your little sister from having to do that???? The hours spent studying language and etiquette and poetry and history???
Then there’s KALAH. The mother of two girls. Too old and drunk for a rich man to look her way. When she says fem brosca was born with one coin to barter, she means it. It’s all she’s ever been told. By her mother, and her mother before her.
ITS a CYCle. A circle Of abuse and trauma and misogyny and pain fjgsfnjgjkngsnjkgf
I am screaming. My eyes are wide and I am shaking you by the shoulders. I am made undone by this. Are you?
Laju diksimu buatku meronta-ronta
Atau aku yang tak pernah bisa apa-apa?
Atau aku yang kalah hebat?
Atau aku yang terlanjur gagap?
Atau mungkin dirimu yang salah telak?
Atau kebenaran pada yakinku dipaksamu menjadi keliru yang mutlak?
Buat yang Penting Jangan Kosong Dua
Buat diri yang capresnnya kalah.
Tapi aku sama sekali kali ga menyesal kalau pilihanku ga menang. Ini bukan hanya sekadar menang atau kalah. Tapi juga tentang memberikan hak suara.
Suara kita itu berharga.
Kita udah melakukan tugas kita sebagai warga negara dengan menjalankan demokrasi. Ada yang menang, ada yang kalah. Setidaknya kita sudah berbuat untuk Indonesia.
Kalau kalah, ya udah jalannya memang begitu. Yang penting kita udah ikhtiar, kan. Hal-hal diluar kuasa kita, biarlah Allah yang memiliki rencana yang terbaik. Kek, ya udah, dinikmati aja siapa presiden yang terpilih. Kalau ga beres tinggal kita teruskan ikhtiar dengan cara kita masing2 yang bisa dilakukan; gugat, kritik, aksi, menulis opini, apapun lainnya.
Kita sedang memilih calon presiden dengan opsi2 terbaik menurut kita. Kita sama-sama tahu, 3 paslon yang ada ngga ada yang bener-bener ideal. Masing-masing punya plus minusnya seperti ramai di media sosial, di pembicaraan antar tetangga, di pasar, di kantor, di jalan, di mana-mana. Tiap kita sudah menganalisis kecenderungan yang paling sedikit mudhorotnya. Tentu tiap kepala perhitungannya berbeda, toleransi plus-minus paslon masing-masing orang berbeda. Ga ada pasangan yang pas, ideal, sempurna. 50:50 umumnya. Jadi kita sudah berusaha, berpikir dan memilih sebaik-baiknya buat Indonesia. Ga ada yang sia-sia. Ya memang begini namanya demokrasi.
Yang penting kita memilih dengan penuh kesadaran. Menimbang segala konsekuensi dan kapabilitas mereka. Bukan memilih hanya karena sekadar ikut-ikutan, hanya karena trending/viral, atau hanya karena hal-hal receh diluar substansi.
Jadi kita pun ga tahu, yang memenangkan pesta demokrasi nanti akan mewujudkan realita yang seperti apa. Ga menutup kemungkinan, bisa juga, kan, yang bukan pilihan kita ternyata kerjanya bagus dan baik. Toh, kita belum lihat kerja nyatanya. Masih bisa kita bantu usahakan dengan doa 😁
Jangan terlalu kaku sama pilihan kita, ingat ini politik. Kita bela setengah mati pakai hati, pakai emosi, eh, dilain waktu mereka bisa jadi bersatu, berkoalisi, dengan retorika alasan yang meyakinkan. Padahal mah ada aja target kedudukan, jabatan, uang, atau lingkaran jaringan, atau memang buat kebaikan(?) Hmmm, sok baik sangka. Politik gaesss, jangan kagetan hah hoh hah hoh. Kita di bawah baku hantam, mereka yang di atas lobi2, bagi2, simbiosis mutualisme, bisa jadi.
Jadi, santai aja. Yang menang biarlah menang. Yang kalah jangan patah hati. Tetap awasi sebagai warga negara yang berdemokrasi. Jangan apatis. Jangan diambil hati apalagi emosi sama rekan sendiri. Besok sudah kerja kembali untuk menghidupi diri.
14/2/24
UK 1985
Kukatakan pada diriku, untuk terbiasa merayakan kegagalan.
Bertepuk tangan atas kekalahan dan menyalami kesalahan sebagai bentuk penerimaan diri. Barangkali lupa, ada sesuatu di luar nalar dan kendali kita yang harus diterima dengan lapang dada.
Engga apa-apa kalau sekarang kalah dan salah. Kita coba lagi di waktu berikutnya ya. Kalau mau istirahat juga boleh. Tapi selalu ingat untuk memulai kembali. Aku tunggu disini.
- Sastrasa