Assalamu'alaykum wr wb. Kak, saya seneng baca Q&A kakak dan saya jadi terbesit juga ingin bertanya. Saya mhs semester 13, skripsi masih Bab 1 dan mandek sampai sekarang. Saya ingin berhenti kuliah. Alasannya, karena saya saya trauma pergi ke kampus bertemu dengan orang-orang dan teringat kejadian tertentu yang membuat saya down, dan karena saya sudah tidak ada niat serta kemauan untuk menyelesaikan kuliah. Kalo dari saya sendiri, saya sudah bulat dengan keputusan ini. Bagaimana menurut kakak?
Waalaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh Anon
maaf agak panjang ya anon, insyaallah dengan membaca ini 2 menit , bisa menjadi sebuah pandangan terhadap sikap yang harus kamu lakukan terkait skripsimu.
KAMU MAU MENYERAH DALAM SKRIPSI? SAMA, SAYA JUGA PERNAH.
Wahai anon, bukan cuman dirimu yang pernah merasa seperti itu, saya juga merasakan hal seperti ini. Dan banyak alasan yang membuat saya juga sempat ingin berhenti kuliah.
Yang pertama, dari awal kuliah, saya sudah salah jurusan. Dulu, saya milih jurusan pertama FTTM ITB, pilihan ketiga adalah FITB ITB, dan saya asal milih saja di pilihan keduanya. Saya memilih SITH karena namanya keren. Dan setelah masuk, ternyata jurusannya adalah biologi. Dan biologi, adalah mata pelajaran yang sangat tidak kuasai, bahkan semasa SMA, itu adalah mata pelajaran yang selalu tidak lulus KKM, dari kelas 1 hingga kelas 3 akhir.
Lalu, ketika pemilihan dosen pembimbing, akhirnya saya terlempar. Saya ingin melakukan penelitian tentang pengaruh pakan ikan yang terbuat dari serangga. Alih-alih mendapatkan dosen yang paham tentang pertumbuhan ikan, saya terlempar dan mendapatkan dosen ahli serangga. Dan ketika saya ajukan kepada dosbing saya, beliau menolak, karena tidak memahami ikan. Dan saya? Saya malah tidak memahami serangga. Saya tidak tahu mau TA apa.
Lalu, karena salah dosbing, saya jadi sempat enggan mengerjakan TA. Saya banyak menunda-nunda. Dan salah satu alasan menunda saya, adalah karena saya mendapatkan pekerjaan pada tingkat akhir, yakni diterima di sebuah perusahaan gas sebagai penyelenggara training. Kalau mau diadu gaji, bahkan gaji saya jauh diatas rata-rata seorang lulusan S1. Hal ini juga yang menjadikan saya agak malas meneruskan TA, dengan dalih “Untuk apa lulus kuliah? Kan kuliah cari uang. Sedangkan saya sudah bisa menghasilkan uang.”
Setelah 1 tahun menjalani kehidupan yang menyenangkan tersebut, ada sebuah kejadian yang membuat saya tersentuh. Salah seorang saudara saya yang juga sedang berkuliah, dia tiba-tiba mengundurkan diri dari kuliahnya, tanpa memberitahu orangtuanya.
Alasannya sederhana, dia tidak kuat menghadapi kuliahnya. Dia bilang kuliah terlalu berat baginya. Namun, setelah saya tanya lagi, ternyata kesalahannya terjadi pada dirinya sendiri.
Ia seringkali bermain games hingga larut pagi, jika tidak, ia seringkali menonton film-film yang ia download sehingga menjelang subuh. Karena perilakunya tersebut, ia seringkali melewatkan subuhnya, dan juga melewatkan kuliah paginya jam 7. Karena itu, ia berdalih bahwa ia tidak sanggup menghadapi kuliahnya.
Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menciptakan kondisi yang sulit tersebut? Apakah lingkungannya, atau sebetulnya kesalahan sendiri?
Dan setelah itu, orangtua dari saudara saya, selalu menyesali perbuatan tersebut. Karena uang kuliah yang sudah dikeluarkan selama ini, hanya menjadi uang yang tidak bermanfaat bagi keluarga, hanya hilang dan menjadi biaya pembangunan untuk kampus tersebut.
Uang mungkin bisa diganti, tapi rasa percaya dari orangtua, itu yang agak sulit diganti. Uang mungkin bisa diganti, tapi waktu yang sudah digunakan, itu yang tak bisa dibeli. Uang mungkin bisa dicari, tapi rasa kecewa dari orangtua, tidak bisa diperbaiki.
Maka setelah kejadian itu, saya langsung merenungi satu hal.
Akhirnya, setelah 1 tahun saya tidak mengontak dosbing saya, saya memberanika diri menghubungi dosen saya. Menceritakan kisah saya, dan memohon bantuan agar dibimbing dengan baik. *fyi, dosen saya itu dosen yang killer dan super tegas.
2 kali saya melakukan penelitian besar, dan 2 kali pula saya harus ganti judul. Banyak hal yang bagi saya begitu berat. Mulai dari belajar dasar ilmu serangga, membaca penelitian, melakukan penelitian, belum lagi rekan-rekan saya yang sudah lulus sehingga saya banyak bergaul dengan adik kelas yang kadang membuat saya malu, belum lagi harus mengurus ribuan kecoak dengan baunya yang menyengat sebagai bahan penelitian saya.
Ya, ini berat, ini berat, tapi memang hal ini terjadi juga karena kelalaian saya pribadi di masa lalu, maka saya harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan ini. Selalu, ketika down, saya membuat motivasi sendiri agar terus semangat, dan bagi saya, membawa orangtua saya bisa masuk ke gedung Sabuga (tempat wisuda anak ITB), melihat anaknya dipanggil menggunakan toga, adalah motivasi terbesar untuk menyelesaikan Skripsi ini.
Saya pun minta cuti pada tempat saya kerja untuk bisa menjalani TA saya. Untungnya, mereka mau mengizinkan hal tersebut. Hal yang unik adalah, ketika bos saya bertanya “Mau cuti sampe kapan?”, lalu saya jawab “Sampai lulus”, dan bos saya tertawa sambil berkata “Yaudah, cepetan. Jangan lama-lama”.
Ya, memang berat, tidak mudah, sepintar apapun orangnya, mengerjakan skripsi itu sulit, seperti memindahkan gunung besar. Bisa dikerjakan, tapi harus dijalani secara perlahan. Kenapa sulit? Karena di skripsi lah, kita belajar untuk menyelesaikan permasalahan kita sendiri.
Tapi luar biasanya, ketika kita niat mengerjakan skripsi, maka akan datang kemudahan juga yang tidak kita duga. Mulai dari, teman-teman saya yang sudah lulus, sering bertanya dan membantu memberikan penjelasan, selain itu dosen bimbing saya juga memberikan jurnal-jurnal yang mudah dipahami, dan banyak kejadian lainnya.
Dan akhirnya, setelah 1,5 tahun saya mengerjakan TA, dan berbagai kasus yang ada (dan sempat menghebohkan 1 fakultas dengan kaburnya ratusan kecoak dari kandang), akhirnya saya menyelesaikan skripsi saya.
JANGAN MENYERAH, KAU SUDAH MELIHAT GARIS FINISH
Wahai anon, dan juga seluruh jagat tumblr yang kini sedang dilanda kegalauan karena skripsi, saran saya adalah selesaikan skripsimu secepat mungkin. Ini bukan masalah menunda skripsi adalah menunda hari nikah, atau menunda skripsi menunda hari resepsi, bukan, bukan tentang itu. Jauh lebih bermakna, skripsi adalah sebuah pertanyaan kecil yang jawabannya berdampak besar bagi hidup, “Mampukah kamu melewati ujian ini?”
ketika kamu datang dengan berbagai alasan, ada banyak orang yang datang dengan ratusan alasan namun akhirnya menyelesaikannya. Ketika kamu datang dengan ratusan alasan, ada banyak orang yang datang dengan ribuan alasan namun akhirnya menyelesaikannya.
Selesaikan, selesaikan skripsimu, jangan merasa “ah gapapa”, karena ketika kamu masuk jurusanmu, tempat kuliahmu sekarang, ada 1 orang yang berhasil kamu singkirkan, dan bisa jadi ketika mereka gagal masuk, mereka sedih dan tidak bisa dihibur dengan kata-kata “ah gapapa”.
Kini kamu tingkat akhir, sudah sedikit lagi, kamu sudah melihat garis finish, sudah nampak garis membentang yang harus kamu lewati, yang jika kamu melewatinya kamu bisa tidur-tiduran, kamu bisa beristirahat, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, tinggal sedikit lagi. Namun memang, jalan ini lebih menanjak dari biasanya, tapi itu tidak jadi masalah, karena garis finish sudah di depan mata. Lari lagi sedikit lagi, agar teman-temanmu bisa bahagia, agar keluargamu bisa bahagia, dan yang terpenting agar kamu bisa bahagia.
Jangan, jangan pernah berfikir mundur ketika kamu sudah dekat dengan garis finish. Jika kamu berfikir untuk mundur, coba fikirkan kembali “Kenapa aku ikut berlari selama dan sepanjang ini di jalan ini sejak awal?”
Jangan jadikan Bill Gates, Mark Zuckenberg, dan berbagai tokoh lainnya, sebagai alasan untuk keluar dari kuliahmu. Mereka keluar, karena mereka mengerjakan mimpi-mimpi yang besar. Sedangkan kita, banyak yang keluar, hanya karena tidak bisa menghadapi permasalahan skripsi tersebut.
Apakah skripsi saya sempurna? Tidak. Tapi, skripsi saya, selesai. Dan skripsi yang selesai, jauh lebih baik dari skripsi yang sempurna.
Saya, dengan berbagai alasan, bisa menyelesaikan skripsi. Maka, begitu juga dengan semua orang yang ada di dunia ini. Pasti bisa, kamu juga.
Semangat anon, mari kerjakan skripsi mu. Jika kamu punya waktu untuk mengeluhkan skripsi mu, maka kamu juga punya waktu untuk mengerjakan skripsi mu.
Teruntuk seluruh jagat tumblr yang sedang dilanda galau skripsi.
ada yang mau share pengalaman juga? Silahkan guys.