Langit-langit Resinda
taylor price
No title available
The Stonewall Inn
Lint Roller? I Barely Know Her
Cosimo Galluzzi

titsay
Keni
No title available
art blog(derogatory)

Product Placement

bliss lane

@theartofmadeline
YOU ARE THE REASON
we're not kids anymore.
Claire Keane
Sade Olutola
Jules of Nature

No title available
Monterey Bay Aquarium
𓃗

seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from Tunisia
seen from United States

seen from Jordan

seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Iraq
seen from Jordan
@zackysoewondo
Langit-langit Resinda
Just thinking about people making year-end summaries of their accomplishments and also about reasons to keep yourself alive through the next year. Sorry, it’s a bit of a sappy comic.
[ patreon | commissions | eevachu.com ] do not remove comment
Skripsweet
HeyYo!
Jadi, pada tanggal 16 Maret 2017 yang lalu akhirnya aku resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Setelah 3,5 jam diuji aku pun dinyatakan lulus sidang skripsi. Seketika itu juga, beban 3 tahun 6 bulan 15 hari terbayarkan dengan hasil yang memuaskan. Aku lulus dengan ipk 3,96 dan nilai 88 untuk hasil absolut sidang. Dan bagiku mencapai hari itu, bukan melalui proses yang mudah.
Keep reading
“Make this opportunity to growing up”
Yay setelah berjuang lama mencari donasi. Akhirnya dapat kabar baik via WhatsApp di H-1 sebelum acara :’)
“Menikah Bukan sekedar pesta yang riuh oleh kerabat, relasi penting, bukan ajang pamer tamu kehormatan, panggung megah, dekorasi wah atau pesta yang meriah Menikah Bukan sekadar membentuk tim kerja untuk menghasilkan uang untuk membeli segala jenis harta yang melimpah. Bukan sekedar sarana belajar memasak, menjahit bagi istri dan sarana belajar membetulkan peralatan listrik bagi suami. Menikah Bukan sekedar menyamakan hobi dan kegemaran sehingga sampai ada adagium humor: Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng. Kalau sama-sama suka seafood berarti masa depan cerah (That simple?!) Menikah bukan sekedar itu. Menikah berbeda dengan perumpamaan sepasang sandal, yang hanya punya aspek kiri dan kanan. Menikah adalah penyatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. So, Menikah adalah Menyatukan dua isi kepala, dua ide, dua impian menjadi sesuatu yang besar - Bermakna - tak hanya untuk kita,pasangan dan keluarga namun juga untuk orang lain di sekitar. Menikah adalah Memutuskan berlabuh di satu pantai, ketika ratusan kapal pesiar gemerlap memanggil-manggil. Menikah adalah Cara meraih sempurnanya agama, hingga menikah dikatakan sempurna menjalani setengah dien Menikah adalah Keberanian untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Memupuk toleransi tingkat tinggi dan memaklumi pasangan apa adanya. Menikah membutuhkan kelapangan hati untuk melebur kata ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’. Menikah adalah Proses pendewasaan seseorang untuk lebih berani mengambil sikap dan memutuskan bahkan untuk urusan terkecil sekalipun. Kerjasama hebat untuk bergerak, bersinergi untuk mendapatkan tiket surgaNya. Menikah adalah Universitas kehidupan dimana cobaan materi, hati, iman adalah ujiannya. Menikah adalah Belajar memaafkan dan belajar berkata “baiklah, itu salahku, akan kucoba memperbaikinya” . Belajar berkomunikasi dua arah, dimana kita tidak berbicara : ”Kamu harus mengerti keinginanku!’, namun harus berani bicara “aku memahami kamu, aku memahami apa yang kamu mau dan cita2kan, mari bersama membangunnya” Menikah Mengajari kita begitu banyak tentang hidup, tentang bagaimana mencintai Allah dengan sempurna melalui kecintaan kita pada pasangan.”
— duniapustaka.com
Inspired by Olympus Mju-II
Ikhtiar
Paling enak tuh ikhtiar zahir maksimal yang dilandasi dengan ikhtiar hati untuk berusaha maksimal yakin bahwa Allah pasti memberi yang terbaik. Kalo ga dapat apa yang diusahakan, woles aja. Bukan males mencoba lagi, tapi lebih tenang menghadapi, sebab yakin Allah yang mengatur semua ini. Setiap yang diberi ataupun yang tidak terpenuhi, Allah pasti memberi kebaikan dan menghindarkan kita dari keburukan.
Contoh sederhana aja, ngejar dosen. Menurut gw, ga perlu lah ngontak dosen terus-terusan hanya karena dia belum membalas pesan kita. Pertama, ga sopan, kalau mau ngontak lagi carilah bahasa atau alasan yang ga terkesan memburu-buru. Manners namanya ma fren, kata seorang bangsawan cantik dari Yogyakarta. Kedua, dosen itu dalam genggaman Allah. Kalau tidak bisa ngontak beliau atau siapapun yang kita ingin kontak, kontak aja Allah minta pertolongan.
Jadi ambisius itu bagus, tapi jadi ngeyel itu bikin capek. Kalau Allah ga masukkin kamu ke kampus yang kamu mau dan meletakkan kamu di suatu tempat lain, yakinlah disitu ada kebaikan yang diletakkan Allah untukmu. Kalau ga ketrima kerja di suatu tempat, pastilah rejekimu ada di tempat lain yang lebih baik bagimu. Kalau kita ga jadi nikah sama seseorang, yakinlah bahwa ada keburukan yang dihindarkan Allah bagi kita atau dia. Menikah sama yang membuat kita jadi buruk itu berat, biar yang lain saja, kita jangan.
Gw lupa kata siapa ya, apa kata Mas Anuanu berdasarkan entah ustadz siapa? Pokoknya kata seseorang aja ya.
Katanya, “ikhtiar tuh belum maksimal kalo kita belum punya kerelaan jika apa yang kita ikhtiarkan tidak kita dapatkan.”
Coba lagi, coba terus, tapi ketika hati ini sudah punya kerelaan dan kepasrahan ke Allah, ikhtiar akan dibimbing secara efisien dan menuju yang Allah suka, begitu kata Aa Gym. Kalau kata Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Jadi ikhtiar bagus, niat lurus.
“Hatimu seperti rumah tak berpintu, kau persilakan siapa saja untuk masuk. Sedangkan aku seperti jam dinding di rumahmu, kau melihatku ketika kau ingin membunuh waktu.”
— (via mbeeer)
Penghinaan terbesar bagi lelaki adalah diragukan masa depannya, karena itu artinya dia sudah tak layak lagi dipertahankan. Tapi lelaki sejati tak akan hancur oleh hinaan. Justru dia akan semakin giat bekerja untuk menjawab keraguan dengan bukti nyata.
— Taufik Aulia
Sifat Asli?
Mari bicara soal sifat asli seseorang. Menurutmu, bagaimana sih sebenarnya sifat asli seseorang itu? Tentu, kita tahu beberapa jenis sifat yang umum diketahui. Satu yang umum dan sangat mudah digunakan adalah sifat ‘baik’, yang standarnya bawah dan atasnya entah dimana, tapi seringkali kita menyebut sifat seseorang dengan kata tersebut karena memang paling mudah.
Lalu, bagaimana sih sebenarnya kita tahu sifat seseorang? Tentu dengan berkenalan dong ya, lalu setelahnya kita menjalani hubungan dengan dia entah itu cuma sekedar teman, kolega, relasi, sampai yang bawa-bawa hati (?) Nah, dari sana, tentu kita akan tahu bagaimana bentuk konsistensi sifat seseorang.
Namun, yang menarik, kita juga menyimpan satu pertanyaan yang kelak jadi berdampak seperti domino, yaitu “bagaimana sih sifat asli dari seseorang itu?”
Sifat asli? Wait a minute.
Buat yang mencoba paham, seringkah kamu mendengar paradigma seperti
“Emmm, ternyata, setelah beberapa tahun gue barengan ama dia, gue baru tau sifat aslinya gimana..”
“Iya itu, gue putus ama dia, ya karena setelah sekian lama akhirnya gue tau sifat asli dia itu ternyata kaya gitu…”
Sering dengar?
‘Sifat asli’ yang kita sering katakan itu bukankah lebih menjurus pada asumsi sifat buruk seseorang? kata-kata “Ternyata dia itu asli nya kaya gini ya, kaya gitu ya,” bukankah membuat kita jadi cenderung skeptis?
Agak aneh memang, karena hampir sekian lama kita seakan ‘tertipu’ pada sifat dan sikap seseorang itu sebelumnya, mengingat hari ini kita lalu menghadapi sisi lain dari seseorang itu yang barangkali tidak kita sukai dan setujui, lalu dengan mudahnya kita melabelinya dengan “ternyata, itu sifat aslinya,” …
Bukankah itu terlalu naif? Kalau begitu, jangan-jangan kita memang sengaja menjadikan ‘sifat asli’ itu sebagai pembenaran saja atas perbedaan sifat seseorang yang tak dapat kita sangkal setelahnya? Juga, jangan-jangan kita terlalu cepat menilai seseorang dari beberapa sifat buruknya, lalu dengan mudahnya kita melupakan keseluruhan sifat baiknya dengan melabeli juga dengan kata-kata “huh, ternyata dia aslinya kaya begitu ya..” ?
___
Menurut saya, terserah menurutmu, bahwa semua sifat manusia itu sebenarnya asli.
Ketika seseorang jujur, itu asli.
Ketika seseorang berbohong, itu asli.
Ketika seseorang menjadi ceria, pendiam, humoris, sensitif, penyendiri, dan lain sebagainya… itu asli.
Memiliki sifat baik dan buruk, itu asli.
Bagian sifat mana yang tak dapat kita lepaskan dari sifat keseluruhan dari manusia? Karena pada suatu waktu, kita dapat menjadi orang jujur sekaligus pendusta dalam satu tubuh, dalam satu pikiran. Itu asli, itu memang sifat manusia. Bukankah begitu?
Saya hendak mencoba meluruskan saja bahwa ‘sifat asli’ seseorang itu sebenarnya bermacam-macam, bukan hanya berfokus pada sifat buruk saja yang selama ini tak sadar kita yakini. Bahkan nyatanya bisa dibalik, bahwa barangkali ada seseorang yang hari ini tidak kita sukai, tapi dimasa depan ia lalu berbuat baik dan dengan mudahnya kita katakan, “dia tuh dulu ngeselin, tapi aslinya dia baik kok…” Nah, bukankah itu menjadi standar ganda?
__
Lalu apa yang menjadi masalah dari situ? Bahwa barangkali hanya satu hal penting yang sering kita lewatkan, yaitu manusia pasti dan senantiasa berubah. Berbagai jumlah sifat manusia yang dimiliki tentu saja akan terlihat berbeda di waktu yang berbeda pula. Bisa jadi seseorang hari ini terlihat pendiam, tapi besok menjadi ceria luar biasa. Lalu bagaimana kita menentukan sifat aslinya?
Mungkin tidak bisa, karena kita mesti pahami bahwa manusia senantiasa berubah. Entah kemana arah berubahnya, kita tidak tahu persis. Bisa jadi permanen, bisa jadi temporer, tapi manusia memang selalu punya pilihan untuk menggunakan berbagai sikap dan sifat yang ia mau.
Beberapa sikap seseorang yang berubah itu tentu saja membuat kita akan menyangkal, bahkan menghindari. Coba ingat-ingat lagi alasan kamu putus dengan mantan pacar tempo hari, bahwa sebenarnya bukan karena ‘ketahuan sifat aslinya’ tetapi karena kamu melihat ia berubah, tetapi kamu tidak siap dan juga tidak sepakat dengan perubahan sifatnya setelah sekian lama. Bukankah begitu? Padahal kita sama-sama tahu, siapapun bisa menjadi baik sekaligus jahat, siapapun bisa berlaku jujur sekaligus berbohong, siapapun bisa jadi setia lalu berubah untuk mendua.
Manusia memang aslinya seperti itu, kan? Barangkali, memang karena kita saja yang tidak siap pada perubahan seseorang… hingga akhirnya kita sendiri yang ikut berubah dalam memandang perubahan itu.
Atas perubahan seseorang itu, kita dapat memilih beradaptasi atau tidak sama sekali. Beberapa sifat buruk seseorang tentu bisa kita maafkan, atau justru kita biarkan (?) di lain sisi juga dapat kita sangkal dan jauhi sama sekali. Terserah kita untuk menyikapi.
@miftahulfk
23 Mei 2018
Bersembunyi di Tumblr. Tempat istirahat dari gemerlap instagram.
- tumblr adalah malam, tepat ketika mata ingin terpejam. Tumblr adalah ketika sekitar mulai sepi, lampu kamar sudah mati, tapi isi kepala mulai riuh sendiri. Berdebat kusir dengan hati. Tempat keluarnya penyesalan dan pengharapan. Tempat buncahan hati yang terpendam selama hari terang. Tempat aku, sebenar-benarnya aku. Tenggelam dalam tulisan.
Tempat cerita kita dilihat, dibaca, dan dimaknai. Bukan semata-mata untuk dinilai :)
Tempat untuk bersembunyi dan me “time” bagi para introvert :’)
Tempat pulang yang menyenangkan :)
Bang, kalau milih suami kriteria nya harus yang gi mana ya yang harus di utamakan?
Ada empat kriteria dan masing-masing kita beri nilai:Fisiknya baik (0)Nasabnya baik (0)Hartanya baik (0)Agamanya baik (1)Perhatikan, jadikan agama yang baik sebagai syarat paling depan supaya nilainya jadi yang paling tinggi: 1000. Karena kalau agama kamu taro paling belakang, nilainya cuma jadi: 0001.
Eh ini beneran buat nyari suami kan? Karena kalau buat nyari pacar, rumus ini ga berlaku.
Karena sesulit apapun sebuah pilihan, komitmen akan membuatnya lebih mudah. Karena sesalah apapun sebuah keputusan, tanggung jawab akan membuatnya lebih baik. Karena seberat apapun sebuah konsekuensi, tekad yang kuat akan membuatnya lebih ringan. Karena serumit apapun persoalan hidup, kebijaksanaan akan membuatnya lebih sederhana. Karena sebesar apapun tantangan hidup, keberanian akan membuatnya lebih kecil. Karena sebanyak apapun masalah yang dihadapi, kedewasaan akan membantu banyak, berlalu dengan indah.
Diorama, Nazrul Anwar
Maaf
Maaf, bolehkah sesekali aku ingin dicemburui olehmu. Agar aku juga bisa merasa bahwa ternyata kamu takut untuk kehilanganku juga. Kalau kamu tak mau. Tak apa.
Maaf, bolehkah aku tahu bagaimana cara terbaik untuk menyita perhatianmu. Selalu ada keresahan yang datang setiap kali aku memikirkannya. Bukan aku yang selalu ada di situ. Entah siapa. Mungkin, nama-nama orang lainlah yang memenuhi telepon genggammu. Mungkin, harimu lebih banyak diisi oleh suara-suara manis yang bukan milikku. Kalau kamu tak mau. Tak apa.
Maaf, bolehkah kamu tidak perlu khawatir tentang masalah kesetiaan. Tenang. Kamu boleh percaya denganku. Seluruh kode pass social media dan telepon genggamku pun akan aku beri jika kamu tanya. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Karena kesetiaan adalah hal yang aku harapkan darimu juga. Kalau kamu tak mau. Tak apa.
Maaf, bolehkah aku sedikit menjadi pencemburu. Bukan berarti kamu tidak boleh berteman dengan laki-laki, boleh, silahkan. Karena aku juga memiliki beberapa teman wanita. Asal, sebaiknya mereka kenalkan dulu padaku, ya? Agar menumbuhkan kepercayaanku juga. Kalau kamu tak mau. Tak apa.
Maaf, maukah kamu membantuku? Bila suatu saat nanti aku sudah sampai pada sebuah titik terendahku dalam memperjuangkanmu. Dan pada saat itu pula, aku sudah siap untuk berhenti. Maukah kamu membantuku bangkit dari semua itu dan kembali menyemangatiku untuk tidak berhenti memperjuangkanmu. Kalau kamu tak mau. Tak apa.
Maaf, bolehkah aku memberi tahu; aku peduli padamu, kehadiranmu telah menutup ruang duka dalam hatiku, bersamamu kata bosan menjadi tidak masuk akal sama sekali. Namun di saat yang bersamaan, aku bingung dan takut, karena pada setiap malam sebelum aku terlelap, selalu ada pertanyaan yang berulang:
.
.
bagaimana caranya aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama?