SUDAH BER-ISBN ❗❗❗
CUMA 50K AJA❗❗❗
𓃗

bliss lane

pixel skylines
RMH

tannertan36

Kiana Khansmith

izzy's playlists!
todays bird
official daine visual archive
Noah Kahan
tumblr dot com

No title available
Keni
Game of Thrones Daily

Origami Around
No title available
Stranger Things

No title available
🪼

Andulka
seen from United States
seen from United States

seen from Canada
seen from Ecuador
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Australia

seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from Ecuador
seen from United States

seen from Malaysia

seen from China
seen from Belarus

seen from Poland

seen from Chile

seen from Malaysia
seen from Italy
@85kilometer
SUDAH BER-ISBN ❗❗❗
CUMA 50K AJA❗❗❗
Ganjil rasanya melihat seseorang meninggalkan tanggung jawab atas pilihannya sendiri, lalu berharap orang lain yang memungut seluruh akibatnya.
Setiap kali perkara itu kusingkap, kau menjawab dengan alasan yang nyaris tak bercela. Semua tertata, semua beralasan, hingga tak tersisa ruang bagi kemungkinan bahwa ada yang patut kau sesali.
Pernahkah kau bertanya apa yang sebenarnya ingin kusampaikan?
Aku tak sedang menagih maaf. Aku juga tak menyimpan murka. Aku hanya lelah mengulang luka yang sama kepada seseorang yang selalu merasa tak pernah melukai.
Barangkali karena itu orang sering keliru memaknai ketahanan. Mereka mengira setiap yang bertahan sedang menunjukkan kekuatan.
Maka sesekali aku membayangkan hal yang amat sederhana. Andaikan pernah terlintas dalam benakmu untuk bertanya bagaimana keadaan kami, bagaimana hari hari kami berjalan setelah semua itu. Bukan menerangkan bagaimana kami semestinya merasa, melainkan mendengar apa yang sungguh kami rasakan.
Orang sering berkata, hargailah selagi ada. Mungkin nasihat itu tak pernah sampai kepadamu. Mungkin pula kau tak pernah merasa perlu mencarinya. Sebab entah sejak kapan kau tampak begitu yakin bahwa kami akan selalu berada di tempat yang sama, menunggu dengan kesabaran tak bertepi.
Andaikan sekali saja kau datang tanpa alasan untuk dimenangkan. Andaikan sekali saja kau meminta maaf tanpa syarat yang mengiringinya. Andaikan sekali saja kau mendengar tanpa tergesa menyusun pembelaan. Mungkin kami tak perlu sampai pada titik; ketika memaafkanmu terasa semakin mirip dengan mengkhianati diri kami sendiri.
Adakah yang pernah sungguh-sungguh memeriksa apa yang sebenarnya dicintai?
Sebab ada kemungkinan yang enggan diakui, bahwa yang dijaga dengan sepenuh hati bukan sosok seseorang, melainkan keadaan batin kita sendiri tatkala bayangan itu hadir di tepi kesadaran.
✦✦✦
Ia yang tak terjamah menganugerahi kita sesuatu yang amat istimewa, keleluasan untuk mereka-reka. Kita merajut versinya dari kejauhan, dari serpihan yang tampak, dari suara yang sekilas kita cerna, dari gestur yang kita tatap berulang hingga kita meyakini diri mengenalnya. Padahal yang sungguh kita kenali hanyalah diri sendiri, yang sedang merindukan sesuatu yang belum pernah kita miliki.
✦✦✦
Inilah yang tak pernah diajarkan tentang cinta semacam ini. Bahwa jarak adalah pengarangnya. Bahwa jarak bukan sekat, melainkan bahan bakarnya. Tanpa jarak, tanpa kabut, tanpa kemungkinan yang tak pernah dituntaskan, segala rasa itu mungkin luruh dalam pertemuan pertama yang biasa saja.
✦✦✦
Maka pertanyaannya bukan apakah kita mencintai orangnya. Pertanyaannya ialah, sanggupkah kita mencintainya kala seluruh kabutnya sirna, kala ia tampak apa adanya, fana dan penuh celah seperti kita semua. Atau justru di situlah rasa itu memilih angkat sauh, berlayar mencari kejauhan baru untuk dijadikan peristirahatan.
Kisah cinta memiliki tiga akhir. Apakah cinta berusaha memberikan kebahagiaan setelah melewati kabut yang memberi jarak tentang dirinya? Atau cinta membiarkan kabut memberi jarak tentang dirinya sebagai ruang bebas berkhayal?
Atau ...
...
...
...
... ada kabut lain yang lebih menarik? Entah untuk dilewati atau sekadar ruang yang lebih liar untuk berimajinasi.
Kesedihan tak datang dengan sebutan. Ia tiba sebagai bobot yang mendadak menggantung di rongga dada, seakan suatu beban telah bersemayam di sana, dan baru kini kutahu tubuhku telah lama menanggungnya.
Kita gemar menamai rasa supaya terasa lebih kecil, agar dapat diletakkan di laci ingatan lalu dirapatkan. Namun ada rasa yang menolak dikurung, yang merembes melalui celah, yang meresap ke lekuk pandang saat mata terpaku pada langit-langit malam yang lengang.
Aku tak tahu apakah yang mengendap ini kesedihan, atau sekadar kelelahan yang sudah terlampau lama berpura-pura menjadi ketabahan. Keduanya terasa sama bila dibiarkan tanpa nama.
Yang paling menguras bukan pedihnya. Yang paling melelahkan ialah ketidakpastian yang berkepanjangan. Entah jiwa yang sedang berangsur pulih atau sekadar sedang tak merasakannya hari ini.
Minggu lalu, aku menemui pria ini di sebuah kafe. Awalnya aku mengira orang ini hanya kebetulan memilih duduk di sebelahku. Setelah tegukan pertama kopi hitamnya, ia menyebutkan nama lengkap seseorang, pelan diikuti lirikannya. Nama yang ia sebutkan adalah salah seorang perempuan di lingkar pertemanan SMA-ku.
Tak berhenti di sana, aku merinding saat ia menatapku sambil menyebutkan nama lengkapku. Aku mencoba berkelit. Sayangnya, ia telah mengantongi beberapa data diriku.
"Anda ini siapa? Ada urusan apa dengan saya?”
Pengakuannya sebagai suami dari perempuan lingkar pertemananku membuat diriku ketakutan.
“Tunggu, tolong dengarkan. Kau tak perlu takut.”
Aku yang tengah bersiap membawa kabur barang-barangku pun kembali duduk.
“Aku sudah tahu kau tengah berselingkuh dengan istriku. Kau adalah orang pertama selingkuhannya. Ada empat orang lainnya yang juga selingkuhannya. Tolong, lanjutkan saja. Agar aku tetap bisa mengawasi hal-hal yang menjadikanmu menarik di mata istriku. Aku berusaha mengamati semua selingkuhan istriku. Ini kali pertama aku menemui salah satunya secara langsung. Karena mengamati saja tak cukup, aku ingin bertanya langsung tentang hal-hal yang membuatmu menarik untuk istriku, seperti caramu merawat diri, bekerja, dan lainnya. Tolong, jangan adukan ini padanya. Aku takut ia marah padaku jika dirimu menjauhinya.”
Sial. Ia tak pernah bilang kalau dia sudah bersuami.
Semeriah apapun perayaan ini dilangsungkan, sauh tetap luruh pada muara yang serupa. Bukan perayaan yang kudambakan, sebab tak ada yang perlu dirayakan dari seseorang yang kehadirannya menggantung di tepi percakapan; tak pernah menjadi inti.
✦
Telah lama kumengerti, betapa lekas namaku lenyap dari bibir orang-orang selepas pintu terkatup. Aku ini sekadar pelengkap bilangan, ornamen yang dibiarkan tergantung di sudut ruang agar dinding tak tampak sunyi.
✦
Telah lama kupahami bahwa kerendahan bukan sekadar keadaan, melainkan semacam musim yang diwariskan kepada mereka yang terlampau sering menanggalkan diri demi menghuni ruang orang lain. Kujejali relung diri dengan kepentingan yang bukan milikku, kukosongkan apa yang seyogianya terisi, hingga yang tersisa hanyalah tempurung tanpa bunyi di dalamnya. Dan dalam kekosongan itu, aku berlagak penuh.
✦
Tiada guna menyalakan pelita bagi langkah yang tak berniat singgah.
✦
Tiada guna menghamparkan permadani jika tapak yang melintas selalu bergegas menuju seberang.
✦
Aku sudah terbiasa menjadi antara, menjadi sela, menjadi jeda yang dipinjam agar kalimat orang lain terdengar lebih utuh.
✦
Cukup sudah. Ini bukan ratapan. Hanya sekadar pengakuan yang terlambat kusampaikan pada diri sendiri, bahwa aku bukan permulaan, dan nyaris tak pernah menjadi muara bagi siapa pun.
Beginilah upayaku bertahan, aku menanti dan membiarkan waktu mengikis segala yang tersisa. Ketabahanku tak sungguh-sungguh berpijak dalam keberadaan. Aku memang menyimpan harap, namun harap itu sendirian, terasing dari kehendak. Terlebih ketika aku berserah dan merelakan. Apa yang kuanggap menetap selalu berujung pada sesuatu yang jauh melampaui jangkauan. Terlebih saat semesta menghendaki lain.
Aku pernah mengerahkan segenap keyakinan bahwa sesuatu itu kekal, tapi ia sirna.
Aku pernah meragukan kekekalannya, ia tetap sirna.
Aku pernah menggenggam erat, dan ia sirna.
Aku pernah melepas cengkeraman itu perlahan, dan ia sirna.
Aku pernah terlampau lekat, dan ia sirna.
Aku pernah menyelami hingga relung terdalam, dan ia sirna.
Aku pernah terlampau hadir, dan ia sirna.
Aku pernah menarik diri jauh ke dalam sunyi, dan ia sirna.
Aku pernah berdiri di persimpangan antara pasrah dan upaya, antara bersuara dan membisu, tapi ia tetap memilih sirna.
Sebijak atau setolol apa pun aku merombak caraku berdiri di hadapan sesuatu, ia tetap akan sirna; dan ia akan selalu berakhir menjadi ketiadaan yang tak sudi memohon ampun.
Ia mendayung bukan menuju tepian, melainkan menjauhi tata peta. Langit di atas kepalanya kosong sebagaimana lumrahnya langit; namun di bawah lambung perahunya, air menyimpan konstelasi yang tak pernah ada di atas. Bukan pantulan. Ia terlalu jernih untuk sekadar meniru. Maka ke manakah haluan hendak disauhkan, bila kompas hanya mengenal utara yang telah direkayasa jari-jari yang berkepentingan?
Manusia menamai ini: mencari.
Padahal yang berlangsung ialah sesuatu yang lebih tua dari pencarian itu sendiri, semacam ingatan ragawi akan sebuah daratan yang tak pernah benar-benar dipijak, namun senantiasa dirindukan seperti seseorang merindukan bahasa pertamanya, bahasa sebelum kata, sebelum nama, sebelum ada yang memutuskan bahwa sesuatu harus disebut ada.
Barangkali tersesat bukan suatu kemalangan. Barangkali ia adalah satu-satunya cara semesta mengizinkanmu melihat konstelasi yang tak akan pernah kau temukan bila kau tiba tepat waktu.
Kututurkan perihal mendung. Perihal segumpal kelabu yang bersarang di kubah cakrawala, angkuh dan murung, namun tak kunjung meruwat bumi dengan curahnya.
✦
Aku pernah iri kepada hujan. Kepada kemampuannya menuntaskan apa yang dimulainya, mencurahkan diri tanpa tawar-menawar, membasahi tanah tanpa bertanya apakah tanah itu layak menerima.
✦
Mendung yang kulafazkan ini lain rupanya. Ia bergelayut di atas sungai-sungai yang dahaga, melayang di atas ladang yang menganga, namun memilih bertapa dalam kesunyian. Betapa ganjil langit yang sarat namun enggan tumpah. Pedihnya bukan pada kekeringan yang ditinggalkan, melainkan pada harap yang terus dipiara di telapak tangan terbuka. Tiap fajar orang-orang mencium bau petrichor khayalan, mencecap kabut lembab yang belum juga turun.
✦
Mendung mengajarkan perihal, bahwa kehadiran pun bisa menjadi ketiadaan, bahwa naungan pun menjadi beban. Tapi aku rasa mendung itu juga lelah. Ia menanggung lautan dalam wujud uap, menggendong samudra ke ketinggian yang membuat tulang-tulangnya gemetar. Mungkin ia tidak lupa hujan. Mungkin ia sekadar belum menemukan bumi yang cukup lapang untuk menampung seluruh beratnya beban.
✦ ✦ ✦
Mungkin kita terlalu lama menjadi mendung, namun terlalu takut menumpahkan hujan. Oleh karena setiap tanah yang ditemui selalu mencela. Apakah sudah kau temui tanahmu?
Kujumpa engkau sedang menimbang batu garam dengan selaput netra kirimu. Awang, batu itu tak pernah rampung ditimbang; kelak ia luruh menjadi asin di punggung lidah semesta, dan semesta bungkam, sebab ia tahu bahwa bungkam ialah satu-satunya dengung tanpa selubung.
✦
Pernah kukirim padamu sebuah konsep tentang kiri. Bukan kiri arah, bukan pula kiri ideologi, melainkan kiri yang berseberangan dengan segala sesuatu yang benar, termasuk berseberangan dengan dirinya sendiri. Engkau membalasnya dengan diam sehampa kabut, dan kabut itu bergulir di lereng nalar, melindas tiap asumsi yang kukira kukuh.
✦ ┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈ ✦
“Sebab cinta kita, Awang, ialah paradoks yang beranak paradoks sampai keduanya lupa asal muasalnya sendiri.”
✦ ┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈ ✦
Kau pernah bertanya, “apakah seekor burung yang melintas di atas padang tandus turut merasa dahaga?”
✦
Kurenungi tiga musim lamanya, lalu kusimpulkan bahwa pertanyaan itu sendiri adalah bayang-bayang dari pertanyaan lain yang jauh lebih dahaga, pertanyaan yang bahkan tak mampu merumuskan dirinya dalam diksi apapun, termasuk dalam diam.
✦
Saban fajar kuhitung ruas angin yang tersangkut pada jerejak jendela. Mereka bergetar, Awang, bukan sebab dingin, melainkan sebab menyadari sesuatu yang tak bernama tengah melintas, dan kelintas itu meninggalkan retak tipis pada wadah-wadah eksistensi kita yang dikira utuh.
✦
Percayalah, bahkan dalam ketidakhadiranmu di rawa pengetahuan, kau tetap menjadi dalil paling ganjil yang tak sanggup kusanggah. Bukan sebab engkau benar. Melainkan sebab kekeliruanmu terlampau jelita untuk dipatahkan.
— Awang, yang hanyut di sela wujud dan lengang, malam ke tiga ratus enam puluh satu.
Rumor Jeruk
(versi pendek)
Aku hanya pria paruh baya bugar sebatang kara. Orang menganggapku gila. Pasalnya, aku gemar berlarian sepanjang blok sebelum matahari terbit serta berpesta malam. Dana pensiun seorang guru sudah cukup memenuhi kepuasanku.
Sejak kecil, kulihat semua orang gemar memakan apel. Konon, banyak khasiat terkandung di dalamnya. Aku juga gemar sekali memakannya. Namun, selera makanku hilang semenjak istriku tiada, termasuk pada buah itu. Entah mengapa kebahagiaanku juga redup. Aku mencoba menata rumah barangkali dapat merapikan pikiran yang kusut. Beberapa saat, kutemui catatan di sela-sela kasur.
Hindari apel. Makan jeruk dan tanam lavender. Teruslah bergerak.
Aneh, mengingat bahwa istriku meninggal beberapa hari setelah memakan jeruk. Kebalikan dari apel, jeruk rumornya buruk. Kebetulan, rumor itu menimpa istriku. Tidak mungkin buah membunuhku. Lagi pula, jelas sekali tulisan tangan ini hasil guratan istriku. Jikapun terbunuh, aku tak keberatan melakukan untuknya. Tak sengaja, kutemui dua kantong benih di atas lemari. Masing-masing bertuliskan jeruk dan lavender. Tanpa berpikir panjang, kutanam saja mereka.
Lima tahun setelah hari itu, aku belum mati. Namun, hasratku mati suri. Ia terbangun setelah tidur panjangnya sejak aku kecil. Kini, aku menggila. Setelah praktik dari catatan terakhir istriku, hatiku memutuskan melakukan banyak hal suka-suka. Karena ia adalah penawar tanpa mati oleh apel suci pengendali hati.
Rumor Jeruk
Ketika sore tiba, orang yang melewati pekaranganku selalu meninggalkan tatapan sinis. Mereka menyebutku “Tuan Tanaman”. Karena ciri khas rumahku yang halamannya dipenuhi oleh pohon jeruk serta bunga lavender. Sore adalah waktu yang tepat bagiku untuk melakukan berbagai aktivitas rumah sepulang dari berfoya-foya di luar sana.
Aku hanya pria paruh baya yang seorang diri. Tanpa seorang istri atau anak. Di usiaku yang tak lagi muda, orang-orang hanya bisa memandangi kebugaran yang sudah kubangun lima tahun lalu semenjak kepergian istriku. Di sisi lain, orang juga menganggapku gila. Pasalnya, aku gemar berlarian sepanjang blok sebelum matahari terbit serta berpesta malam. Aku tak berharap anakku berkunjung. Karena dana pensiun seorang guru sudah cukup memenuhi kepuasanku.
Sejak kecil, setiap hari aku seringkali melihat orang gemar memakan apel. Tak mengenal usia. Yang muda hingga tua memakannya. Orang bilang rasanya segar dengan asam-manis yang pas. Bagus untuk pencernaan. Konon, kandungannya bahkan baik untuk orang yang ingin menurunkan berat badan.
Aku juga gemar sekali memakannya. Tetapi itu dulu. Semenjak istriku tiada, selera makanku hilang. Minatku pada buah itu juga hilang. Entah mengapa kebahagiaanku juga redup. Aku mencoba menata rumah barangkali dapat merapikan pikiran yang kusut. Hingga kutemukan catatan di sela-sela kasur.
Hindari apel. Makan jeruk dan tanam lavender. Teruslah bergerak.
Bulu kudukku sempat merinding. Teringat bahwa istriku meninggal beberapa hari setelah memakan jeruk terjadi seperti sebuah kebetulan. Mengingat jeruk memiliki rumor yang sangat buruk. Dan rumor itu menimpa orang terdekatku sendiri. Itu hanya kebetulan. Tidak mungkin sebuah buah membunuhku. Lagi pula, jelas sekali tulisan tangan ini hasil guratan istriku. Jika ini satu-satunya wasiatnya, meski ia membunuhku, aku tak keberatan.
Pusinglah aku mencari di mana jeruk dan lavender bisa ditemui. Kulanjutkan saja bersih-bersih. Ketika kunaiki kursi sebagai pijakan untuk membersihkan atas lemari, kutemui dua kantong benih. Masing-masing bertuliskan jeruk dan lavender. Tanpa berpikir panjang, kutanam saja mereka.
Lima tahun setelah hari itu, aku belum mati. Namun, hasratku mati suri. Ia terbangun setelah tidur panjangnya sejak aku kecil. Kini, aku menggila. Setelah praktik dari catatan terakhir istriku, hatiku memutuskan melakukan banyak hal suka-suka. Karena ia adalah penawar tanpa mati oleh apel suci pengendali hati.
🙌🙌🙌SUDAH TIBA❗❗❗
Buku kita "Dilarang Memetik Buah Pohon Sendiri" sudah tersedia!
Bisa kalian pesan melalui link di bawah ini!
CUMA 50.000 SAJA!!!
Blurb:
Apa yang kau lakukan ketika tanganmu yang menanam kini dianggap tangan pencuri? Buku ini berisi cerita dari sekumpulan orang yang dianggap pencuri di tanah miliknya sendiri. Ia menggeledah dapur-dapur rumah yang sudut-sudutnya sengaja ditutup rapi. Kisah yang tak pernah ingin diakui namun selalu terjadi. Seperti sosok penyelundup di rumah sendiri. Orang pusing yang terasing. Suara mengakar dari orang yang sudah tertanam di tanah. Namanya dipanggil dengan penuh harapan. Konon, musibah datang dari amarah para tetua. Tantangannya lebih besar dari legenda-legenda gunung. Mitos keramat menjadi pengikat paling manjur. Kasih suci yang tersingkir oleh ikatan darah meski telah mati. Sudah terlalu lama derita ini dianggap tak pernah ada. Saatnya lantang mengakui mereka benar-benar nyata.
"Senja, selalu senja, ia hadir layaknya takdir yang bisa ditangguhkan. Perangai cakrawala di ufuk barat seakan mengajarkan manusia tentang kepastian, tentang sesuatu yang tak perlu diperjuangkan tetapi selalu bertandang, menjemput hari yang renta dengan binar jingga yang lusuh. Orang kerap melupakan keberadaannya sebab sudah dianggap lumrah, namun keganjilan segera menguak bila senja mendadak absen, walau hanya sekali saja. Demikianlah tabiat manusia yang meremehkan keajegan, lalu terguncang begitu keteraturan itu tergelincir walau sesaat."
~ Dilarang Memetik Buah Pohon Sendiri (Rio & Olivia)
Coming soon
"Cerita-cerita itu kau wariskan ke hadapanku sebagai simpanan yang dititipkan turun-temurun. Aku mendengarnya sampai menoreh dalam ingatan. Tetapi yang kulakukan hanyalah menunduk, menyuap ikan kecil, dan menelan perlahan."
~ Dilarang Memetik Buah Pohon Sendiri (Rio & Olivia)
Coming soon
PENGUMUMAN❗❗❗
Halo untuk semua pembaca setia laman ini👋
Memang tak banyak, bahkan segelintir, tapi itu tak masalah.
Terima kasih sudah mengikuti tulisan-tulisan kami di laman ini.
Kami ada sedikit pengumuman🙌
Kami akan menerbitkan buku antologi cerpen dengan judul "Dilarang Memetik Buah Pohon Sendiri".
Sedikit cerita, buku ini sempat tertolak, bahkan akademisi bisa tidak nyaman membacanya.
Syukurnya, kami coba ikut sebuah event yang diadakan penerbit, semacam sayembara terbit gratis dan syukurnya tulisan kami diterima.
Ini buku pertama kami. Tentu kami tidak berhenti di sini. Kami telah menyiapkan rencana-rencana untuk konten dan buku-buku selanjutnya.
Buku ini masih dalam proses penerbitan, seperti ini sampulnya:
Isinya tentang apa?
Kurang lebih, isinya dapat tergambar di blurb ini:
"Apa yang kau lakukan ketika tanganmu yang menanam kini dianggap tangan pencuri? Buku ini berisi cerita dari sekumpulan orang yang dianggap pencuri di tanah miliknya sendiri. Ia menggeledah dapur-dapur rumah yang sudut-sudutnya sengaja ditutup rapi. Kisah yang tak pernah ingin diakui namun selalu terjadi. Seperti sosok penyelundup di rumah sendiri. Orang pusing yang terasing. Suara mengakar dari orang yang sudah tertanam di tanah. Namanya dipanggil dengan penuh harapan. Konon, musibah datang dari amarah para tetua. Tantangannya lebih besar dari legenda-legenda gunung. Mitos keramat menjadi pengikat paling manjur. Kasih suci yang tersingkir oleh ikatan darah meski telah mati. Sudah terlalu lama derita ini dianggap tak pernah ada. Saatnya lantang mengakui mereka benar-benar nyata."
Nantikan perkembangan buku kita ya🙌
Mencoba Memilih Cobaan
Pernahkah dirimu mendengar kalimat “Makan tuh cinta!”? Mungkin tak persis seperti itu. Aku mengerti dengan jelas bahwa tak sanggup bertahan hidup hanya dengan perasaan. Kurasa, perlu ada revisi dari kata-kata itu. Mengingat, manusia juga bisa terbunuh oleh cinta, dalam artian begitu berharganya sebuah cinta. Seperti saat seseorang mengakhiri hidupnya karena cinta yang telah remuk. Tak ada lagi baginya harapan hidup. Manusia juga berusaha hidup oleh karena dorongan cinta. Seperti seseorang yang memilih tetap hidup demi kekasihnya.
Istriku pernah bertanya, “Jika sanggup memilih cobaan, antara cobaan di antara kita atau cobaan dengan orang di luar kita, mana yang Suamiku pilih?” Tentu, aku memilih cobaan dengan orang di luar kita. Begitu juga pilihan istriku. Kita sama. Aku rasa, semua orang juga mendambakan hal yang sama. Meski pernah kudengar ada orang yang lebih memilih dijodohkan. Dengan harapan, lebih baik ribut dengan pasangannya daripada ribut keluarga besarnya.
Kurasa, masalah seintim ini tak bisa dianggap lewat begitu saja. Kenyataannya, semua mendambakan keintiman itu. Dan semua hadir di sini oleh karena keintiman itu. Aku sepakat dengan istriku. Bahwa manusia akan melakukan segala cara untuk memenuhi kepuasan perasaannya. Bahkan dengan dalih keilmuan. Tak heran jika quotes, buku self improvement, dan hal-hal semacam itu begitu laku di pasaran. Karena perasaan tiap kita berarti. Dan orang terlalu malu menganggapnya berarti. Oleh karena perasaan menandakan lemah. Meski semua orang menjaga hatinya agar tak sakit-sakitan. Mungkin aku salah. Mungkin ada orang yang menganggap lebih penting hubungan dengan orang lain daripada hubungan pribadi. Lalu muncul aku, orang yang menjaga hubungan denganmu, Istriku, yang dipikirannya hanya tentang perasaanmu.