Cerpen : Kalausaja Kamu Bersedia Bersabar Tiga Tahun Lagi
Waktu kita merajut rencana, kita masih terlalu muda untuk bertanggungjawab mewujudkannya. Mereka melihat kita masih seperti anak-anak yang tidak mengerti apa-apa. Waktu kita membangun perasaan, kita masih terlalu besar egonya, sehingga pondasinya kalah oleh hujan yang sedikit. Hujan kekhawatiran.
Sampai kemudian kita berpisah jalan. Kukatakan kepadamu berkali-kali, sembari mengingatkan diri sendiri. Kalaulah memang tujuan kita untuk mencari keridhaanNya, seharusnya dengan siapapun perjalanan ini tidak menjadi masalah, kan?
Kata-kata bijak yang keluar dari hati yang mengingkari kalimat tersebut. Berpura-pura kuat dan bisa menerima bahwa kenyataan tidak selalu sama dengan harapan. Tak berapa lama, jalan kita terpisah semakin jauh. Padahal hanya berjarak beberapa waktu.
Kalaulah kamu bersedia bersabar tiga tahun saja, tanpa kita berucap untuk saling menunggu. Aku bersedia mengisi waktu dengan apapun untuk menunggu. Seharusnya, aku mengatakan itu di persimpangan sebelum ini, tapi kata-kata itu tercekat, kalah oleh nasihat ayah yang terngiang-ngiang di kepalaku.
Waktu kamu memilih jalanmu, aku menangis sejadinya, diam-diam.
Kalaulah saja kamu bersedia bersabar tiga tahun lagi, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini.
___________________________________________________
Lima tahun berlalu, jalan kita sudah jauh berbeda.
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena kamu pernah menjadi bagian dari proses pendewasaan, tanpa kehadiranmu aku tidak akan pernah mengalami masalah itu, juga tidak akan pernah menemukan pemahaman terbaik yang ku miliki saat ini.
Kalau saja kamu bersedia bersabar tiga tahun saja, aku tidak tahu apakah jalan ceritanya akan masih sama. Takdir, kita mengimaninya kan?
©kurniawangunadi