Tulisan ini dibuat karena dari lama telah memendam pemikiran ini. Ditambah lagi dengan terpancingnya saya membaca tulisan mbak avina. Yap... makin berniat buat nulis.
Manusia adalah makhluk sosial yang setiap detik kehidupannya tak pernah luput dari hubungan dengan orang lain. Entah itu hubungan yang menguntungkan atau justru merugikan.
Sejak kita di dalam kandungan, secara tidak langsung kita sudah mengenal kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Bahkan hingga kita meninggal. Ya masa kita mau urus jenazah kita sendirian, ga mungkin dong :(
Setiap hari, setiap bulan, setiap tahun kita bertumbuh dan makin mengenal lingkungan kita. Ternyata, lingkungan itu menyeramkan sekali. Bagaimana tidak? Setiap orang selalu memiliki penilaian yang selalu dipukul rata untuk semua orang. Ya mungkin sama halnya dengan tulisanku ini yang bisa dibilang terlalu mengusik kehidupan orang. Yay or Nay? Let’s see...
Nah sejak di tahap “kapan menikah” ini, orang-orang sekitar sudah mulai mengusik kehidupan kita. Rese ya? Banget! Padahal menikah itu bukanlah suatu kepastian dalam hidup tetapi kematianlah kepastian dalam hidup. Ya begitulah orang indonesia. Perempuan menikah harus dibawah 30 tahun, beginilah begitulah. Well, kita harus menghargai pilihan setiap orang atas pilihan hidupnya, kita hanya bisa mengingatkan tetapi tidak untuk memaksa mereka mengikuti aturan dan pilihan hidup kita. Biarkan mereka menikmati hidupnya asalkan mereka tidak lupa bahwa menikah itu adalah ibadah. Menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, so jangan main-main dan jangan dipaksakan.
Setiap orang, ah tidak semua orang, mendambakan suatu pernikahan. Melihat semakin berkembangnya teknologi dan pemikiran-pemikiran yang modern, orang justru lebih banyak yang takut untuk menikah. Takut dalam berbagai hal, contohnya takut dalam hal financial, takut beban hidup makin banyak, takut rumah tangga menjadi hancur, takut tidak ada kecocokan, dan lain sebagainya. Wajar kok, wajar banget.
But, imho, takutnya jangan berlebihan. Dalam islam, menikah itu termasuk salah satu ibadah dan sunnah rasul. Ketika menikah, banyak pahala ibadah yang akan dihitung berkali-kali lipat jumlahnya dibanding kita masih single. Selain itu, siapa yang mengikuti sunnah rasul maka ia mencintai Rasulullah. Masih takut? Wajar kok. Apalagi menikah dan berumah tangga itu hal sakral yang dilakukan sekali seumur hidup. Trus gimana menyikapi rasa takut buat menikah? BELAJAR. Kita bisa dan yakin akan suatu hal karena kita sudah belajar dan punya ilmunya. Kalau sudah punya ilmunya maka keyakinan itu akan hadir tanpa rasa takut tetapi lebih ke berharap sama ridho Allah atas setiap langkah perjalanan hidup yang dilalui. So, menikah itu bukan hal perlu ditakuti, tapi cobalah untuk dipelajari. Menikah itu bukan hal yang harus dilakukan dengan cepet-cepet grasak grusuk supaya gak diomongin orang, tetapi enjoy your life slowly but sure and still studying about marriage.
Next level is marriage’s life. Kehidupan pernikahan yang rumit bagi sebagian orang, em hampir setiap orang. Gimana gak rumit, setiap hari akan terus menghadapi dan melihat orang baru yang sama. Meskipun sudah sepaham dan sekufu, menurutku masih banyak hal-hal yang harus saling disesuaikan satu sama lain. Hey, berumah tangga ga semudah dan seindah foto-foto artis di instagram 🤭 tapi kurang tau sih gimana kehidupan rumah tangga orang-orang yang sudah saling kenal bahkan sudah berpacaran bertahun-tahun. Sorry, i didn’t choose that way.
Setelah menikah, kita perlu beradaptasi oleh banyak hal, baik terhadap pasangan maupun terhadap diri sendiri. Tak perlu bohong, pasti ada hal-hal yang kamu baru tau, oh ternyata pasanganku begini toh. Nah, hal-hal yang baru diketahui kayak gini, sebaiknya bukan jadi permasalahan serius dalam rumah tangga. Terimalah kekurangan pasanganmu, karena kamu pun punya kekurangan pastinya, dan lengkapilah kekurangan pasanganmu dengan kelebihan yang kamu miliki. Ingatlah kelebihan pasanganmu, pasti ada. Pernikahan itu bukan mengingat-ingat kekurangan pasangan, dijamin kehidupan rumah tangga jadi gak nyaman banget, bawaannya berantem terus karena saling menuntut harus ini dan itu (semacam pengalaman banget ya 🤭 )
Pasangan yang sering cek-cok hal-hal sepele, terkadang karena tidak sepaham dan sekufu dalam suatu hal. Contoh sepele, si istri rajin ibadah sunnah, si suami kadang capek trus terlewat ibadah sunnahnya. Lantas hal seperti itu bikin hati si istri sebel dan berantem deh. Trus si suami capeknya sering tuh, nah berantemnya sering dong ☹️ kan sedih.. makanya, dalam memilih pasangan ketika akan menikah itu gak main-main. Menikah itu BUKAN URUSAN CINTA doaaang... tapi menikah itu urusan dunia akhirat, dimana keluarga itu menggapai ridho Allah dan membentuk keluarga sakinah mawadah warahmah di dunia dan akhirat. Bukan cuma i love you, aku punya rumah mobil dan lain-lain, duh...hidup di dunia itu gak kekal 🤦♀️
Maka, persiapan menikah itu ya BELAJAR agar bisa mendapatkan pasangan dunia akhirat. Kenapa? Karena akan sangat mempengaruhi kehidupanmu setelah menikah.
Setelah membahas pasangan yang bisa memimpin dan membawa kabahagiaan dunia akhirat, selanjutnya adalah perihal rezeki anak.
Well, zaman sekarang (atau mungkin sudah dari dulu kali ya), orang yang menikah itu harus punya anak. Bahkan lebih bagus lagi kalau gak lama menikah, langsung punya anak. (Gak jauh beda sama yg dibahas mba avina). Mindset orang indonesia masih seperti itu, masih lekat sekali. Padahal, rezeki anak adalah hak prerogatif Allah. Padahal, pengen punya anak adalah hak setiap pasangan. Padahal, mendidik dan mengurus anak itu tidak semudah foto-foto artis di instagram 🤭
Apakah omongan netizen itu membantu kita dalam biaya kehamilan, persalinan, sampai mereka lulus kuliah? Kalau netizen itu mau bantuin masalah biaya sih yeay banget seneng banget wkwk 🤭
Aku sih salut banget sama mereka yang setelah menikah langsung memutuskan untuk mempercepat memiliki momongan. It means, mereka adalah pasangan matang seluruh ilmu ke-rumah-tangga-an-nya, sehingga sudah langsung siap menerima amanah tahap selanjutnya. Keren. Setiap ayah dan ibu itu harus mampu mendidik anak dengan baik dengan ilmu yang bagus karena kalau mendidik tanpa ilmu, maka kita mau membentuk anak seperti apa?
Ajarkanlah ilmu agama yang matang kepada anak. Ketika ilmu agama sudah settle, kebiasaan-kebiasaan baik di rumah dan di luar rumah akan mudah terbentuk. Setelah itu, ilmu-ilmu non agama pun akan mudah diserap oleh si anak. Pertanyaannya, sudah siapkah kita membentuk anak seperti itu? Sudah siapkah ilmu kita? Nah ini... si penulis pun sampai saat ini masih up and down banget masalah beginian :( sedih...
Selain itu, rezeki anak adalah hak prerogatif Allah maka kita gak bisa menolak ketika Allah sudah berkata kun fayakun. Ada sebuah kisah nyata, pasangan suami istri, sudah memakai alat kontrasepsi bermacam-macam, tetap saja kebobolan karena sel telur dan sel sperma mereka sangat subur. Nah, kalau kayak gitu, ya sudah, terima dan syukuri nikmat dari Allah itu. Lantas, kalau merasa masih kurang ilmunya? Ya BELAJAR...
Mendidik anak itu alangkah baiknya adalah langsung dibentuk oleh ayah dan ibunya, bukan oleh eyangnya 🤭 makanya, si ayah dan ibu, ketika sudah memutuskan untuk menikah, harus terus menerus untuk belajar. Hidup itu adalah belajar, tarbiyah madal hayah, belajar sepanjang hidup kita. Nah, kalau kita sudah berbekal sejak sebelum menikah, kita melengkapi bab pembelajarannya gak perlu lari ngos-ngos-an kan 😊
Mendidik anak itu bukan membentuk anak sesuai dengan cita-cita kita yang belum tercapai ya 🤭 terkadang orangtua menjadi egois terhadap anak karena ingin anaknya menjadi sosok yang ideal dan sempurna di semua bidang. Apa yang dulu belum mampu kita raih, kita hempaskan ke anak kita. Apa yang kita dambakan, kita hempaskan ke anak kita. Anak itu bukan robot ataupun boneka kedua orangtuanya loh. Anak juga punya hati, impian, dan kebebasan tersendiri dalam hidupnya. Anak pun berhak menentukan pilihan hidupnya dan orangtua yang mengarahkan dan memberi saran, bukan justru memaksa dan otoriter. Banyak hal-hal yang ketika belum memiliki anak, kita memiliki konsep mendidik A B dan C. Namun, realitanya semuanya tidak terlaksana dengan baik. Keep calm mom and dad, mendidik anak itu tidak harus saklek kok, take it easy and sense of humour 😉
Jadilah orangtua bahagia agar anak juga menjadi sosok anak yang ceria dan bahagia 😊