Perjalanan
Setiap perjalanan akan selalu tidak pernah mudah. Ada banyak pengorbanan yang dilakukan. Ada banyak harta yang dicurahkan. Ada banyak kejadian-kejadian yang diluar ekspektasi terjadi begitu saja seolah berusaha membuatmu ragu apakah akan melanjutkan. Bahkan tak sedikit air mata yang tumpah kala mencoba merefleksikan. Terlebih jika itu perjalanan memenuhi panggilanNya. Padahal sadar atau tidak kita sebenarnya setiap waktu sedang berjalan menujuNya. Detik demi detik, hari demi hari yang kita lalui akan selalu masuk dalam catatan amal. Betapa sering kita tanpa sadar mengisi catatan itu justru dengan kesia-siaan. Betapa banyak dosa-dosa yang keluar begitu saja tanpa ada perasaan bersalah mendalam. Lantas jika saja bukan karena Ke-Maha-annya dalam segala hal, barangkali kita tak layak mendapat surgaNya. Jangankan surga, sekedar ampunan, bahkan hembusan nafas yang Dia berikan setiap detiknya pun kita tak pernah layak menerimanya. Hanya karena keMaha Luasan Rahman dan Rahim-Nya lah kita masih diberikan kehidupan. Hanya karena ke Maha Besaran sifat pemaaf-Nya lah kita masih diberi kesempatan untuk meminta ampunan. Maka benarlah doa yang pernah dipanjatkan Imam Al-Ghazali: “Wahai Tuhanku, ketika aku memujiMu, sesungguhnya aku sedang mencela diriku sendiri”. Seakan menunjukkan bahwa kita adalah benar-benar makhluk yang hina dan tidak ada apa-apanya dibanding segala keMaha PerkasaanNya.
Perjalanan manusia, tak pernah kita tahu kapan kita mencapai ujungnya. Tapi kita punya kesempatan untuk memilih ujung mana yang akan kita masuki. Apakah itu khusnul khotimah, atau nauzubillah, su'ul khotimah.















