Wanita Sebagai Pewaris Peradaban
25 Oktober kemarin, almamater saya, ISLAH (Ikatan Silaturahmi Alumni Husnul Khotimah) sempat mengadakan acara sekolah ibu di Mesir, dengan mengundang pak Cahyadi Takariawan sebagai pematerinya. Beliau adalah seorang konsultan pernikahan dan keluarga. Materi yang beliau sampaikan sangat menginspirasi, oleh karena itu sayang sekali jika hanya segelintir orang yang mendapatkannya.
Tulisan ini saya buat, dengan menambahkan beberapa opini saya di banyak perkataan pak Cah untuk mewakili keseluruhan materi acara sekolah ibu. Sekedar sharing, semoga bisa diambil manfaatnya.
-------------------------------------
"Menjadi akhwat harus kuat dan pintar, kamu tidak hanya akan menjadi seorang pendamping, melainkan partner sesosok manusia lain untuk membangun peradaban. Sebagai seorang teman ibadah, teman mengokohkan diri pasanganmu yang akan menemukan garis finish bersama yaitu membangun generasi yang gemilang."
Sekolah ibu; layaknya sekolah kehidupan yang prosesnya memakan waktu setiap hari, namun berpotensi memberikan dampak besar bagi peradaban.
Berbicara dengan kata peradaban tentunya bukan hanya perjuangan menghasilkan bibit unggul untuk mengubah dunia setahun kedepan, melainkan sampai seratus tahun kedepan.
Ketika kita memakai konteks akhwat (agar beban dan tujuan akhirnya terasa lebih besar) sebagai pewaris peradaban, tentunya kita sudah harus selesai dengan urusan diri sendiri seperti beban-beban masa lalu, serta beberapa hal yang masih dirasa kurang dari pribadi.
Agar nantinya setelah menikah kita bisa memikirkan hal yang lebih besar seperti mendidik dan menciptakan generasi yang potensial dalam membangun peradaban islam.
Mengutip perkataan pak Cahyadi Takariawan, bahwa strong person itu lahir dari strong family, dan adanya strong family juga salah satunya karena peran seorang ibu yang sangat besar dan visioner.
Menjadi seorang calon ibu/ibu di masa kini, tentunya kita harus bisa menyelaraskan antara urusan rumah dan membangun peradaban. Anggapan seperti, "Ah, boro-boro ngurusin peradaban, mikirin besok masak apa aja udah pusing.", jika kita telaah dari fungsi seorang ibu, tentunya ini anggapan yang sangat tidak relevan. Sebab, mengurus rumah dan membangun peradaban adalah dua hal yang tidak saling meniadakan, melainkan saling selaras.
Oleh karena itu untuk tetap menjaga agar kedua hal ini selaras, dalam berumah tangga perlu adanya 3 lapis yang harus dipahami. Lapis pengetahuan, lapis kesadaran, dan lapis aplikasi. Pertama, seorang ibu harus mengetahui dengan benar visi dan misinya untuk membangun sebuah peradaban. Kedua, seorang ibu harus sadar bahwa pengetahuan harus dibarengi oleh kesadaran, bahwa ia tetaplah seorang ibu yang meski dengan tugas mengurus rumah, ia tidak bisa mengabaikan mendidik anaknya sendiri. Sebaliknya, walaupun ia memiliki keaktifan di luar rumah, ia juga harus sadar bahwa rumah tetaplah tempat ia pulang dan membangun peradaban. Ketiga, adalah aplikasi dari seluruh pengetahuan dan kesadaran yang ia miliki.
Menelaah dari sebab-sebab keluarga menjadi kuat, ada beberapa prinsip strong family yaitu diantaranya adalah hubungan suami istri yang kuat menjadi sentral dalam membangun keluarga. Anak-anak akan tumbuh optimal jika memiliki lingkungan dan keluarga yang bisa memberikan efek baik baginya.
Sebagai calon ibu, kita perlu mengerti bahwa ada beberapa fase dalam sebuah keluarga. Fase pertama, saat hanya berdua dengan suami. Fase yang sedang senang-senangnya, waktu hanya untuk berdua. Lalu datang fase kedua, saat sudah dikaruniai seorang anak. Fase inilah yang menuntut seorang ibu harus bijak dan pintar mengetahui perannya. Ia harus tetap sadar, meski telah menjadi seorang ibu, ia juga adalah seorang istri bagi suaminya. Sehingga ketika seorang ibu sudah paham peran, maka kewajiban sebagai seorang istri juga masih dia tunaikan dengan baik.
Fase ketiga adalah ketika anak sudah mulai memasuki sekolah. Disini diperlukan kerjasama yang baik antar ayah dan ibu, sebab waktu tidak lagi hanya milik berdua lagi, tetapi juga milik si buah hati. Fase keempat, fase yang banyak disalahpahami dan banyak ujiannya; ketika anak sudah mulai remaja. Disinilah diperlukan konsentrasi penuh dalam mendidik anak remaja. Salah satu yang harus diketahui para ayah dan ibu adalah ketika seorang anak remaja menolak sebuah perintah atau kebijakan yang telah ditetapkan, itu bukan berarti ia membangkang. Melainkan ia hanya menggerutu, oleh karena itu diperlukan konsentrasi besar dalam memahaminya.
Fase kelima, selanjutnya ketika anak sudah menikah. Diperlukan pemahaman juga ketika melepaskan anak yang ingin menikah, senagai ayah/ibu, ketika sudah memiliki visi misi membangun peradaban, maka mereka akan siap kapanpun untuk melepas anaknya. Sebab, nilai-nilai baik sudah tertanam di pribadi anaknya tersebut. Fase keenam, adalah ketika seluruh anak sudah menikah dan kembali menghabiskan waktu berdua sebagai kakek dan nenek. Fase terakhir, adalah fase dimana salah satu dari pasangan sudah kembali lebih awal menuju Tuhan. Seluruh fase ini, perlu dipahami dan dimengerti dengan baik, perlu disiapkan visi misi membangun keluarga, agar siap kapanpun dengan perubahan yang terjadi.
Selain fase-fase keluarga yang sangat penting untuk dipahami, ada 4 hal yang harus dihindari dalam kehidupan berumah tangga, yaitu saling mengritik, saling mencela, saling menyalahkan, dan membangun benteng. Ketika sudah memiliki 4 hal ini, perlu adanya kesadaran dan kedewasaan yang dibangun. Ketika tidak bisa mengembalikkan ke kondisi semula yang harmonis, ada baiknya jika meminta saran dari anggota keluarga/bahkan teman yang dirasa memiliki kekuatan dalam menjalin komunikasi.
Memahami pasangan, memahami mertua, memahamkan orang tua sendiri tentang bagaimana kehidupan rumah tangga yang nantinya akan dijalani, seperti apa visi misinya, apa saja tujuan dan targetnya tentu tidak serta merta bisa dibangun dalam waktu yang cepat. Perlu pemahaman yang dalam untuk bisa berkomunikasi dengan semua pihak keluarga, terkhusus pasangan sendiri. Atas sebab ini, kita perlu memahami apa itu 'Bahasa Cinta' dalam keluarga.
Bahasa Cinta adalah cara mudah berkomunikasi, cara simpel memahami satu sama lain agar bisa meminimalisir hal yang tidak menyenangkan terjadi. Ada 5 bahasa cinta, diantaranya adalah affirmasi/kata-kata, pelayanan, quality time, hadiah, dan sentuhan fisik.
Jika kita bisa memahami apa bahasa cinta pasangan kita, maka tidak akan ada anggapan, "Suamiku/istiku tidak romantis.", tapi ketika kita sudah paham, maka kita akan menjadi sosok paling romantis di hidup pasangan kita.
Seorang suami yang bahasa cintanya adalah pelayanan, ia tidak nyaman ketika sepulang dari kerja istrinya belum menyiapkan apa-apa untuk dimakan. Namun, suami yang bahasa cintanya adalah quality time, ada/tidak adanya makanan di atas meja tidak akan berpengaruh. Sebab, suami dengan bahasa cinta quality time sudah sangat bahagia apabila istrinya menemaninya kemanapun dia pergi. Berada disampingnya, sebagai istrinya sudah sangat cukup bagi suami dengan bahasa cinta quality time.
Lain halnya dengan suami yang bahasa cintanya hadiah. Seorang istri harus sering memberikan hadiah, karena menurut suaminya itulah hal paling romantis dalam suatu hubungan. Sehingga, hadiah menjadi momen untuk menambah tangki cinta suami yang memiliki bahasa cinta hadiah. Seorang suami yang bahasa cintanya adalah kata-kata, ia sangat senang jika diberikan puisi-puisi indah dan gombal dari istrinya. Ia tidak butuh hadiah, pelayanan dan quality time karena yang paling dianggapnya penting adalah kata-kata dan rayuan istrinya. Versi lain lagi, ketika suami memiliki bahasa cinta sentuhan fisik, maka dia akan sangat senang saat sepulang kerja ia bisa merasakan istrinya ada disampingnya, menggait tanggannya, dan menyandarkan bahu padanya.
Begitupun sama halnya bahasa cinta yang dimiliki oleh seorang istri yang harus dipahami oleh suaminya. Jika bahasa cinta pasangan sudah kita ketahui, maka akan lebih mudah untuk berkomunikasi. Tentunya bahasa cinta ini juga bisa diaplikasikan ketika ingin berkomunikasi dengan orang tua, mertua, dan lain-lain.
Dari pemaparan-pemaparan terkait edukasi menjadi seorang ibu yang ideal dan bisa mewarisi peradaban, begitu pentingnya kita terus belajar sedari muda akan hal-hal yang bisa menjadi bekal rumah tangga nantinya. Oleh karena itu, sekolah ibu sama sekali bukan hanya untuk mereka yang sudah menikah, melainkan sangat bermanfaat jika diikuti oleh mereka yang belum menikah. Agar bisa banyak mengevaluasi diri sendiri sebelum nantinya menjadi manusia dengan dua peran; seorang istri dan seorang ibu.
Selamat belajar, para calon ibu pewaris peradaban!
Oleh: Faramuthya Syifaussyauqiyya
Sumber: pak Cahyadi Takariawan
Kairo, 28 Oktober 2019 || 1.48 am