Setiap orang punya caranya sendiri untuk bertahan. Ada yang diam, menarik diri, menyimpan semuanya sendirian. Ada yang menuangkan apa yang terasa terlalu berat untuk diucapkan. Keduanya bukan tanda kelemahan, keduanya adalah bagian dari coping mechanism, cara seseorang mencoba tetap waras di tengah tekanan yang tidak semua orang sanggup menanggung sendirian.
Memang mudah sekali membaca situasi orang lain dari luar, yang susah adalah mengakui bahwa kita bahkan tidak tahu separuh ceritanya. Kita hanya melihat satu frame dari film yang panjang. Tidak tahu babak sebelumnya, tidak tahu luka yang sudah lebih dulu ada sebelum kejadian itu. Tapi kesimpulan sudah terlanjur keluar, penilaian sudah terlanjur dibentuk.
Orang yang mengeluhkan apa yang dihadapinya belum tentu tidak melakukan apa-apa. Orang yang diam dan terlihat sedang berpikir belum tentu benar-benar sedang berpikir. Begitu pula sebaliknya. Kita sering lupa itu.
Jangan pernah mendasari sebuah keputusan berdasarkan 'kayaknya'. Meskipun ilmu dan kemampuan manusia terbatas, sehingga manusia tidak tahu risiko dan konsekuensi keseluruhan apa yang didapatkan, selama masih ada kesempatan untuk 'memastikan', tetap harus diusahakan.
Kita bukan bermaksud untuk meragukan takdir yang kita akan peroleh nantinya, namun kita juga tidak berpangku tangan menunggu nasib tanpa mengupayakan sesuatu yang kita anggap baik. Bahwa hasilnya berbeda, itu hal lain, yang terpenting dari itu adalah bagaimana kita membangun proses dalam mengawali dan menjalaninya.
“Takdir yang baik” itu harus diupayakan, dengan mengerahkan ilmu, pertimbangan, dan ikhtiar terbaik. Karena sejatinya, manusia hanya dituntut untuk berusaha sebaik mungkin, bukan untuk menjamin hasil. Allah-lah yang menetapkan akhir dari setiap perkara, namun usaha kita adalah wujud kesungguhan dalam menghormati karunia akal, waktu, dan kesempatan yang telah Dia titipkan.
Pada akhirnya, bukan semata hasil yang akan berbicara, melainkan nilai dari perjalanan itu sendiri.
"Apakah kita sungguh-sungguh mencari yang halal, yang tepat, yang bermanfaat bagi diri dan orang lain?" "Apakah kita menempuhnya dengan hati yang bersandar kepada-Nya, sambil tetap rendah hati menerima apa pun ketentuan yang ditetapkan?"
Dengan begitu, keputusan yang kita ambil bukan sekadar “kayaknya”, melainkan buah dari usaha serius yang diiringi doa dan tawakal. Di sanalah letak kemuliaan, kita berikhtiar dengan sepenuh jiwa, dan berlapang dada menerima ketetapan-Nya.
Karena keindahan sejati, hanya dimengerti oleh mereka yang mau mendaki.
Bukan sekadar lambang keabadian,
ia adalah doa yang tumbuh dalam kesabaran.
Bahwa hidup bukan tentang cepat mekar,
tapi tentang setia meski musim tak pernah ramah.
Ia adalah peringatan,
bahwa yang abadi tak lahir dari kemudahan,
tetapi dari keteguhan melawan segala yang ingin mematahkan.
Seperti jiwa yang bertahan di jalan sunyi,
ia tak tumbuh di taman yang ramai,
melainkan di lereng sepi yang menguji setiap langkah.
Dan ketika seseorang menemukannya, ia bukan sekadar bunga.
Ia adalah kisah tentang bagaimana kesetiaan pada diri dan tujuan dapat membuat kita tetap indah meski dunia di sekitar tak memberi banyak alasan untuk bertahan.
Aku menyadari jika jalan berliku yang kutempuh sekarang ini juga disebabkan oleh kurangnya usahaku, aku belum mengoptimalkan segala hal yang aku miliki. Perjuanganku untuk mengalahkan kemalasan, keengganan, dan berbagai hambatan diri yang harus kudobrak agar semuanya bisa diikhtiarkan semaksimal mungkin.
Aku tahu perjalanan berliku ini tidak semata karena kebingunganku, tapi juga karena ikhtiarku yang masih setengah-setengah. Aku ingin menemui diriku sendiri versi beberapa tahun yang lalu. Aku ingin melihat semangat dan daya juangnya.
Aku mungkin telah terlalu lama terlena oleh kemudahan, sehingga rasanya seperti kurang berjuang. Aku memahami jika perubahan ini, berangkat dari diriku sendiri. Dia sendiri mengatakan dalam firmannya, Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu berupaya mengubah keadaannya sendiri.
Diri ini menyadari, semuanya perlu aku mulai. Tidak nanti, tapi saat ini.
(c)kurniawangunadi
Ada daya yang tak bersumber dari gemerlap atau tepuk tangan—melainkan dari niat yang hening, dari laku baik yang ditujukan pada jiwa yang tepat. Tak selalu karena kedekatan, tak perlu alasan besar. Cukup karena pernah tahu getirnya sakit yang tak terurus, sepi yang tak terjamah.
Merawat yang lemah, menemani yang genting, kadang bukan bentuk kedermawanan, tapi gema dari luka lama yang belum benar-benar padam. Dan anehnya, tak ada letih yang tinggal. Justru ada lapang yang pelan-pelan meneduhkan. Seolah tubuh dan batin menemukan kembali nadanya—ritme hidup yang tak sekadar sibuk, tapi juga berbelas kasih.
Kebaikan yang seperti ini tak menggelegar. Ia hadir seperti gerimis yang menyusup tanah—tak kentara, tapi menyuburkan. Ada sejenis lega yang lahir bukan dari balasan, tapi dari rasa cukup karena telah melakukan sesuatu yang tak sia-sia. Karena sejatinya, manusia tak selalu butuh dikenal atau dipuji—cukup bisa merasa bahwa keberadaannya tak sia-sia.
Mungkin, di titik-titik sunyi itulah hidup menemukan maknanya:
Saat memberi menjadi jalan pulang bagi jiwa sendiri, dan kehadiran menjadi penawar, meski tak disadari siapa pun. Sebab hidup yang bernilai bukan dihitung dari seberapa tinggi berhasil dicapai, tapi seberapa dalam bisa memahami sesama.
Dan barangkali, itulah bentuk paling hening dari kematangan: ketika kebaikan tak lagi dilakukan untuk terlihat benar, tapi karena hati memang tak sanggup membiarkan sesama terus terluka sendirian.
Mungkin telah banyak aksi yang kami lakukan, tapi barangkali sangking sibuknya beraksi terlupalah oleh kami tuk merefleksikan diri. Disinilah tempat kami untuk sekedar kembali bercermin, bertanya kepada diri "Sudahkah hadir keikhalsan dalam diri ini?"
"Di Ruang-Ruang Dauroh, Kami Menata Hati"
Bisa jadi memang awalnya aksi kami karena ilahi, namun siapa yang tahu dipertengahan jalan ada saja godaan yang mengiringi, yang membuat hati tak lagi sepenuhnya condong kepada sang illahi. Disinilah tempat kami meluruskan niat dan menata hati
"Di Ruang-Ruang Dauroh, Disinilah Tempat Kami Kembali"
Yaa, bagi kami, tak ada tempat kembali yang menenangkan selain di ruang-ruang Dauroh. Disinilah tempat kami Recharge energi iman dan hati, untuk kembali beraksi di ruang-ruang kontribusi.
dalam sebuah buku yang pernah kubaca, seorang terapis bilang begini,
"Perubahan dan kehilangan selalu berjalan bersama. kita tidak bisa mengalami perubahan tanpa kehilangan, dan itulah sebabnya, kita sering mengatakan ingin berubah tapi segalanya tetap sama."
mendengar hal itu, kini aku paham mengapa ada banyak sekali hal yang ingin kita ubah dari diri sendiri, tapi kita tak pernah cukup berani dan sanggup untuk melakukan perubahan. karena deep down..., kita belum siap dnegan kehilangan beberapa bagian dari diri kita, yang membuat kita merasa cukup nyaman, tapi kenyamanan tersebut gak akan membawa pertumbuhan baik bagi hidup kita ke depannya.
dan sering kali, tanpa kita sadari, zona nyaman kita tersebut merupakan bentuk pertahanan diri kita atas berbagai luka yang tidak cukup kuat untuk kita terima dengan tangan terbuka.
di waktu yang berbeda, Marissa Anita menganggap bahwa depresi hadir sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang harus diubah dalam hidup kita. depresi hadir sebagai alarm yang meneriakkan bahwa ada sesuatu yang salah dari kebiasaan atau kehidupan kita saat ini, sehingga membuat kita sangat tidak nyaman. sesuatu yang sudah kita tau adalah sesuatu yang salah, tapi kita tetap membohongi diri kita sendiri bahwa hal tersebut bukanlah apa-apa atau sesuatu yang harus dirisaukan.
sebagai pengidap depresi sejak SMP (atas diagnosa dari dokter) keluar dari depresi adalah perjuangan hidup dan mati. tidak mudah untuk dilakukan karena depresi sudah terasa seperti ketidaknyaman yang telah dibiasakan sejak lama. sudah terasa familiar karena terllau sering diabaikan sehingga menjadi bagian dari diri sendiri yang sulit untuk dipisahkan. ibaratnya tetap meminum racun meskipun diri sendiri tau itu gak baik dan akan membunuh, tapi tetap gak bisa dihentikan gitu saja karena racun tersebut sudah menjadi bagian dari hidup dalam waktu yang lama.
perubahan hidup selalu datang dari keberanian: keberanian untuk melepaskan dan memulai semuanya dari awal.
namun, yang jadi persoalan ialah, seberapa banyak energi yang masih tersimpan untuk kembali mengulang? karena rasanya menyerah lebih mudah daripada bertahan.
Di atas lautan yang tenang, matahari menua perlahan, menyinari dek kapal yang melaju pelan menembus batas cakrawala. Cahaya keemasan memantul di permukaan air, seolah mengajak untuk merenung tentang perjalanan, tentang arah, dan tentang kita, manusia.
Kita hidup di zaman yang serba terhubung, namun begitu sering merasa terasing. Kita saling melihat, tapi jarang benar-benar memandang. Saling menyapa, tapi tak sungguh mendengar. Dalam hiruk-pikuk interaksi yang dipoles oleh layar dan kata-kata singkat, kemanusiaan terkikis pelan.
Kapal ini seperti hidup kita—besar, kokoh, dan berjalan terus. Namun di balik kekokohannya, ia menyimpan kesendirian, hanya ditemani lautan luas dan langit yang tak pernah menjawab. Begitulah kita: menyusuri waktu, penuh interaksi namun sering hampa makna, paradoks manusia yang tak lagi memanusiakan.
Mungkin, dalam hening senja seperti ini, kita bisa belajar dari laut. Untuk diam, untuk mendengar lebih banyak, dan untuk sekali lagi menjadi manusia yang benar-benar hadir untuk sesama.
Gumregah artinya bangkit dan tarbiyah adalah dakwah yang menitikberatkan agenda pembinaan menuju ketakwaan dan potensi terbaiknya.
Maka slogan Gumregah Tarbiyah adalah bentuk ikhtiar untuk membangkitkan kembali agenda pembinaan agar lebih dinamis dan muntijah untuk masa depan dakwah.
Sebelum itu, kita perlu mengingat kembali apa itu dakwah ammah dan dakwah khos.
Tak bisa dipungkiri, kajian-kajian anak muda hari ini begitu kreatif lagi mengasyikan. Ini baik agar dakwah tetap relevan dengan mad'u sekaligus menjadi ajang fastabiqul khairat antar harokah dakwah. Dakwah model ini masuk kategori dakwah ammah.
Sedangkan kalau kita berbicara tentang keberlanjutan dakwah, perlu adanya 'penggerak' dakwah yang memiliki pemahaman dan kemauan bergerak. Membentuk kader dakwah tak cukup dengan kajian-kajian klasikal saja, perlu adanya sistem pembinaan yang berkesinambungan dan rutin.
Kita mengenalnya dengan halaqah/mentoring/MK Khos. Dakwah seperti ini masuk kategori dakwah khos (khusus).
Sebagai awalan, bisa nonton video ini dulu :
Gumregah Tarbiyah ini adalah semangat Para Asatidz untuk menghidupkan kembali semangat membina di momentum Hari Kebangkitan Nasional Mei lalu.
Ada beberapa hal penting yang bisa saya tangkap :
1. Perubahan Zaman
Perubahan zaman tak boleh menjadi kambing hitam dari perubahan karakter manusia. Kita harus beradaptasi.
Menyikapi perubahan itu harus dibangun dengan pemahaman yang dalam, dimulai dari komunikasi generasi agar tak muncul pernyataan seperti :
"Generasi hari ini tak semilitan dulu"
"Generasi lama itu kolot, tak tahu kondisi lapangan"
Pernyataan seperti itu hanya memunculkan friksi generasi dan dakwah tidak menjadi muntijah.
Lebih lengkapnya baca disini :
Akan ada masanya, akan ada masanya ketika kita menjadi seorang junior memandang para senior itu begitu kolot sekali dan ketika di posisi seb
2. Perkuat Literasi
Memang literasi (membaca buku dan menulis) adalah harga mati. Dengan terbiasa melakukan itu, analisis dakwah menjadi bijak, memunculkan keresahan bergerak, dan kita tidak gumunan atau fomo untuk menyesuaikan metode dakwah.
3. Agar Semangat Membina
Di buku Gumregah Tarbiyah, Ust. Cahyadi Takariawan menjelaskan 2 hal penting agar kita semangat membina : Kemauan dan Skill.
Soal skill itu bisa dibangun dari dauroh tematik atau pelatihan eksternal. Tapi kalau tidak dibarengi dengan kemauan ya sama saja.
Untuk menumbuhkan kemauan harus dibangun dengan literasi dan sehatnya kelompok pembinaan kita juga. Literasi untuk memunculkan keresahan, pembinaan kita sendiri sebagai sarana penguatan. Bagaimana mau membina kalau tidak dibina?
Kalau urusan kemauan sudah selesai, soal skill bisa learning by doing. Tinggal kapan kita mau memulai.
Ustadz Sholikin dalam buku Back To Tarbiyah menekankan mulailah dari lingkaran terkecil, satu, dua orang, tiga orang, namun produktif.
Kita tidak akan tahu dari sedikit orang itu jadi apa di masa depan. Kalau bingung mau menyampaikan apa, mulailah dengan nasihat para alim terdahulu, sirah nabawiyah, pengingat amal yaumi, atau cukup dengarkan keluh kesah mereka. Barangkali mereka hanya ingin didengar.
Dimulai saja, niatkan hati ikhlas, ingatkan untuk senantiasa dekat kepada Allah dan RasulNya.
Terakhir, mengutip dari kredo Gontor :
Metode itu lebih penting dari materi ajar, dan guru lebih penting dari metode, tetapi ruh (jiwa) seorang guru itu lebih penting dari guru itu sendiri.
Jadi, selamat membina, selamat membangun peradaban!
"Biar putus semua cinta, asalkan aku karam dalam cinta-Mu. Apa nikmat bahagia, jika tanpa ridha dan penerimaan-Mu."
Pada setiap yang ada dalam genggaman, sudah semestinya cukup diletakkan di tangan saja, tak perlu dibawa masuk jauh ke dalam hati. Sebab pada akhirnya, semua yang ada hanyalah titipan dari-Nya dan kapanpun Dia berkehendak, akan diambil lagi oleh-Nya. Tidak peduli bagaiamana kesiapan kita.
Kehilangan sering kali menyisakan lara, namun di balik luka itu, tersembunyi hikmah yang kadang tidak segera dengan mudah kita pahami. Ada kalanya kita kebingungan dalam mencari hikmah apa yang tersembunyi, merasa kehilangan arah dalam melangkah, seolah tabir yang besar menyelimuti pandangan mata.
Ketahuilah bahwa tabir itu adalah rasa tidak ikhlas yang hadir akibat terlalu erat kita menggenggam sesuatu yang bukan milik kita. Ketidakberdayaan untuk melepaskan itu menjadi penghalang antara diri kita dengan rasa tenang yang seharusnya hadir pada takdir yang telah ditetapkan dan diberikan oleh-Nya. Mau sesuai kehendak kita atau tidak.
Begitulah kehidupan yang terkadang menyisakan episode tidak menyenangkan, kehilangan, dan ujian dalam merelakan. Sukarnya menghadirkan keikhlasan adalah bagian dari perjalanan yang tidak perlu dinegasikan. Biarlah jika hati yang lemah dan kecil ini, tertatih dalam mengenalnya, belajar untuk merelakan dan menerima setiap takdir yang datang, hingga akhirnya kita temukan ketenangan di balik semua luka itu.
Bersabar dan nikmati saja prosesnya. Biarkan luka ini menjadi pelajaran penting di kehidupan selepasnya. Kelak seiring berlalunya waktu, kita akan paham bagaimana harusnya bersikap atas apa yang hanya dititipkan, dan berlapang dada, ikhlas menerima atas segala sesuatu yang tidak sesuai kehendak hati. Semoga.
Belakangan ku berdo'a ke Allah, meminta keteguhan hati, supaya terhindar dari maksiat dan istiqomah dalam ketaatan. Tapi yang ku rasa sekarang, Allah menjawab do'aku, bukan dengan menghindarkan diriku dari maksiat, tapi memberiku ujian² berupa agenda-agenda yang cukup padat setiap harinya, sehingga aku dapat fokus dan meminimalisir peluang maksiat.
Ada saat kita diterpa futur, sholat tak khusyu', qur'an tak tersentuh, dzikir tak terlantun, bahkan hati terasa seperti batu. Jika, ada gejala seperti itu bersegeralah kembali kepada-Nya.
Melihat trend "terbawa arus" yang lumayan banyak fyp di tiktok, sebenarnya membuatku kesal, geregetan, marah, sedih, dll. Bagaimana tidak, orang yang awalnya begitu baik, taat, soleh/ah bisa berubah 180°. Ada yang awalnya berhijab "terbawa arus" Jadi gak berhijab, bahkan ada yang awalnya hafidzh qur'an juga ikut trend ini.
Aku tidak menghawatirkan mereka yang ikut trend "terbawa arus" Itu, tapi aku justru khawatir dengan diriku sendiri. Karena setiap orang pasti ada peluang "terbawa arus", karena sangat mudah bagi Allah untuk menolak balik kab hati setiap orang. Oleh karena itu, aku selalu berdo'a:
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu