beberapa hari yang lalu, seorang teman perempuan yang prestasi akademisnya luar biasa menghubungi saya. katanya, ia sedang bimbang antara menikah atau melanjutkan sekolah (S2)–kebimbangan yang pernah saya alami, sebelum saya menikah.
saat itu, ayah saya mendukung saya menikah, karena ayah menilai bahwa menyegerakan itu baik dan saya tidak tergesa-gesa, sudah cukup dewasa. apalagi sudah ada yang melamar, tidak baik nantinya jika ditunda lama-lama. di lain sisi, ibu mendukung saya untuk sekolah, karena ibu mengalami sendiri betapa setelah menikah, rencana dan masa depan seorang perempuan haruslah luwes. kalau saya masih tetap pada cita-cita saya (untuk menjadi dosen saat itu), saya mau tak mau harus sekolah terlebih dahulu.
saya akhirnya memilih untuk menikah dan menyerahkan sisanya kepada Allah. untuk melegakan ibu (dan diri sendiri), saat menuju menikah, saya pun mencoba ikut seleksi beasiswa dan menjadikannya bentuk istikhoroh saya. cukup jarang terjadi bahwa saya gagal setelah benar-benar berupaya. tapi saat itu, saya tidak berhasil memperoleh beasiswa. saya tidak melihatnya sebagai sebuah kegagalan. cukuplah saya menjadi paham di mana Allah ingin saya melakukan pengabdian.
dalam proses menuju menikah, saya banyak berproses dengan diri sendiri. saya belajar memahamkan diri bahwa cita-cita bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah jalan. rasanya, terlalu sempit apabila saya mengukur nilai diri dari label profesi, bukan dari kebaikan yang bisa saya lakukan dan berikan. tugas manusia adalah beribadah, menjadi bermanfaat adalah tujuannya. cita-cita adalah jalannya–dan jalan itu, ada beragam sekali.
setelah menikah, keinginan saya untuk bersekolah tidak pernah hilang. tapi ada yang sangat berbeda. kalau dulu saya ingin sekolah karena itu prasyarat untuk cita-cita saya, sekaligus agar kekinian seperti kebanyakan orang, setelah menikah saya ingin sekolah karena saya ingin bisa optimal bermanfaat bagi sesama, karena saya ingin menjadi gelas kosong terus-menerus–agar tidak jumawa dan mau bertumbuh.
tidak sekali dua kali mas yunus mendapati saya mencari-cari informasi tentang sekolah. kalau S2 di surabaya, bisa belajar apa ya? biayanya berapa ya? kira-kira bisa dapat uang sekian banyak dari mana ya? beasiswa yang bisa menyokong apa ya? kalau S2 di jakarta bagaimana? kalau di bogor? beberapa kali, mas yunus mendapati browser di laptop kami penuh dengan informasi mengenai sekolah-sekolah.
“kica, kamu pingin banget sekolah ya?” tanya mas yunus kemudian.
“iseng aja mas cari-cari tau,” kata saya, “nanti kalau udah settle semuanya, mungkin aku sekolah.”
singkat cerita, saat ini kami punya mbak yuna, sehingga masa depan dan rencana hidup kami harus selalu ditata ulang. yap, di sanalah seninya. masa depan harus selalu direncanakan, tetapi tidak berarti rencananya selalu berhasil hanya dalam satu kali perencanaan. saya dan mbak yuna tinggal di bogor, menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja. mas yunus di surabaya, bersekolah (dan mengabdi pada masyarakat). ini jauh berbeda dari rencana semula.
sampai sebuah kesempatan untuk sekolah datang lagi kepada saya, tanpa saya mencari-cari. tiba-tiba saya mendapat dukungan luar biasa dari ayah dan ibu–juga dari mas yunus. karena sekolah ini adalah untuk pengembangan perusahaan kami, saya diberi beasiswa. semuanya datang tanpa disangka-sangka, begitu cepat seperti nikmat-nikmat Allah lainnya.
jika Allah mengizinkan, saya akan bersekolah lagi mulai bulan Juli nanti. ini bukan sekolah dengan gelar–sekolah inkubasi ini hanya dilaksanakan seminggu sekali. tugas akhirnya bukan skripsi tesis apalagi disertasi, melainkan aplikasi-aplikasi (yang tentu akan dibuat keroyokan bersama teman-teman IDS). saya sekolah sendiri, tapi satu kantor kami akan turut belajar.
saya bersyukur sekali karena Allah membuat saya paham tentang ilmu yang bermanfaat. bahwa hakikat sekolah berada pada ilmunya bukan pada gelarnya. dan bahwa, Allah akan selalu membukakan jalan selama kita tidak putus berusaha dan berdoa.
kepada teman saya yang sedang bimbang–dan kepada teman-teman yang sedang sama bimbangnya, saya ingin berpesan:
pertama, tenanglah dulu. saat tenang, kita dapat lebih bijak membuat keputusan. utamakan ridho kedua orang tua dan (calon) pasangan dalam setiap keputusan tersebut.
kedua, pahamkan diri sendiri. saat kita telah memahami esensi dari apa yang kita cita-citakan, apa yang menjadi tujuan kita, insyaAllah kita benar-benar tau mana keputusan yang sungguh cita-cita kita, mana yang hanya terbawa suasana.
ketiga, teruslah berdoa dan berbuat baik. saya, sekali lagi mengalami betapa kebaikan itu seperti air yang menguap–tak terlihat, tak terasa. tetapi balasannya, seperti hujan yang jatuh turun ke bumi. akan datang pada waktu terbaiknya, begitu nyata, dan akan menumbuhkan kebaikan-kebaikan lain.
tentang sekolah ini, saya begitu terharu dengan mas yunus yang memberikan dukungan penuh. meskipun itu berarti bahwa kami akan LDR-an lebih lama lagi (daripada rencana semula). meskipun itu berarti ada hal-hal baru lain yang akan dikorbankan.