Menjemput Pernikahan Secara Syar'i
Terlalu banyak orang hari ini ingin sampai ke pernikahan, tapi melewati prosesnya tidak sesuai dengan yang Allah tetapkan. Padahal dalam Islam, batasan dengan lawan jenis itu jelas: menjaga pandangan, menutup aurat dengan sempurna, tidak berdua-duaan, dan tidak berkumpul tanpa uzur syar’i. Maka pembahasan ini bukan tentang bagaimana berinteraksi, tapi bagaimana menjemput pernikahan—sesuatu yang bukan sementara, tapi seumur hidup. Sehidup, sesurga.
Hal pertama yang harus dipahami: cinta itu bukan sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Ia datang dari Allah. Dalam Ar-Rum ayat 21, Allah menyebut pernikahan sebagai tanda kebesaran-Nya. Bukan sekadar dipasangkan, tapi dikaruniakan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta yang menggelora), dan rahmah (kasih sayang). Ini bukan hasil usaha manusia semata, tapi karunia. Maka tidak bisa dicari dengan cara yang keliru, apalagi disandarkan pada hal-hal yang sifatnya duniawi seperti harta atau rupa.
Banyak yang keliru memahami samawa. Ada yang mengira cinta hanya indah di awal, lalu akan pudar. Ada yang berpikir pernikahan akan harmonis jika dua-duanya mapan atau sama-sama menarik secara fisik. Tapi realitanya, tidak sedikit yang memenuhi itu semua justru tetap berakhir tanpa ketenangan. Karena samawa bukan sesuatu yang bisa dibuat, tapi diberikan oleh Allah.
Itulah kenapa proses menuju pernikahan tidak bisa sembarangan. Samawa adalah hak prerogatif Allah, dan untuk menjemputnya, seluruh proses harus dijalani sesuai Al-Qur’an dan sunnah: dari awal mencari, menuju akad, walimah, hingga kehidupan setelahnya. Ketika prosesnya dijaga, maka berbagai anggapan seperti “cinta hanya bertahan di awal” atau “pernikahan lama pasti membosankan” tidak berlaku. Justru sebaliknya, semakin lama pernikahan, semakin matang dan kuat rasa cinta. Ujian bukan memisahkan, tapi menguatkan.
Contohnya adalah Rasulullah dan Khadijah. Di tengah beratnya ujian awal dakwah, hubungan mereka tidak merenggang, justru semakin kokoh dalam saling menolong dan menanggung beban. Di situlah sakinah, mawaddah, dan rahmah benar-benar hidup.
Kalau kita lihat berbagai masalah rumah tangga hari ini, banyak yang tampak seperti masalah dunia—ekonomi, perselingkuhan, komunikasi—padahal akar utamanya seringkali adalah masalah syariat. Misalnya ekonomi: sering dianggap sebagai penyebab utama konflik, padahal yang lebih dalam adalah soal qonaah—apakah bisa menerima, bersyukur, dan rida atau tidak. Atau soal usaha: apakah sudah bermujahadah atau masih bermalas-malasan.
Perselingkuhan pun bukan sekadar “fitnah zaman”, tapi berawal dari tidak menjaga pandangan. Ketidakharmonisan bukan karena kurang teori “love language”, tapi karena tidak mengamalkan apa yang sudah diajarkan Rasul sejak 1.400 tahun lalu: mengekspresikan cinta, berkata baik, menjaga komunikasi. Banyak hal yang hari ini dinormalisasi sebagai “wajar dalam pernikahan lama”, padahal tidak pernah diajarkan demikian dalam Islam.
Kesimpulannya sederhana: ketika Al-Qur’an dan sunnah dijadikan landasan, maka sakinah, mawaddah, dan rahmah itu nyata.
Lalu bagaimana proses menuju pernikahan tanpa pacaran? Bukan berarti asal dipasangkan. Dalam Islam tetap ada proses saling mengenal. Rasulullah sendiri menganjurkan untuk melihat calon pasangan dan memastikan kecocokan. Hari ini dikenal dengan istilah taaruf—bukan sekadar istilah, tapi esensinya adalah proses mengenal yang memang diarahkan ke pernikahan, dan harus tetap dalam batas syariat. Bukan pacaran yang dibungkus nama taaruf.
Dalam proses ini, kita juga punya hak untuk memilih. Al-Qur’an dalam An-Nur ayat 26 memberi gambaran bahwa yang baik untuk yang baik. Maka ikhtiar utama adalah memperbaiki diri. Jodoh memang takdir, tapi memilih juga bagian dari takdir. Ketika seseorang menjaga takwa dan kesucian dirinya, maka Allah yang akan memilihkan pasangan yang sepadan.
Dari sekian banyak kriteria, Rasulullah menekankan satu hal utama: agama. Bukan hanya tahu halal haram, tapi juga akidah dan akhlaknya. Karena tidak semua terlihat dalam proses singkat, maka boleh mencari referensi dari orang terdekatnya. Ini penting, apalagi di era taaruf online, di mana “pendamping” sering hanya formalitas, padahal seharusnya juga menjadi sumber validasi.
Namun pada akhirnya, hanya Allah yang benar-benar mengetahui hati seseorang. Maka istikharah menjadi kunci—dengan syarat hati dijaga melalui amal saleh. Karena petunjuk Allah hadir di hati yang bersih.
Ketika realita tidak sesuai ekspektasi, itu tidak membatalkan kebenaran Al-Qur’an. Sekufu dalam takwa bukan selalu terlihat di permukaan. Bisa jadi ada kebaikan yang tersembunyi. Atau bisa juga awalnya baik, tapi rusak di tengah jalan karena kemaksiatan yang tidak ditinggalkan—seperti riba, yang dampaknya bisa merusak banyak aspek kehidupan.
Karena itu, jika sudah siap secara kejiwaan, tidak perlu menunggu sempurna. Segerakan, tapi bukan terburu-buru. Setelah menikah, perjuangan tidak berhenti—justru dimulai. Karena di akhirat, masing-masing bertanggung jawab sendiri. Maka perlu terus meminta kepada Allah agar pernikahan dijaga.
Dalam kehidupan setelah menikah, salah satu kekhawatiran terbesar adalah soal nafkah. Islam tidak menetapkan angka pasti, tapi menekankan kemampuan dan kelayakan. Suami berusaha memberi yang terbaik, istri belajar qonaah. Sebelum menikah boleh memilih, tapi setelah menikah yang diutamakan adalah menerima dan mensyukuri.
Istri juga boleh membantu secara finansial, selama tidak melalaikan kewajiban utama dan tetap menjaga adab, termasuk tidak menyakiti perasaan suami. Karena dalam Islam, perkataan yang baik lebih utama daripada pemberian yang menyakitkan.
Tentang rezeki, termasuk anak, Allah yang menjamin. Bukan berarti tanpa usaha, tapi usaha yang diiringi tawakal. Tidak ada standar pasti dalam perencanaan, karena pada akhirnya Allah yang mencukupkan.
Dan bagi yang belum bertemu jodoh, penting untuk memahami bahwa menikah adalah rezeki dan hak prerogatif Allah. Ia bukan ukuran kemuliaan. Seperti haji—ada yang sudah berusaha tapi belum tercapai hingga akhir hayat, dan itu tidak mengurangi nilai di sisi Allah.
Maka masa penantian bukan waktu yang sia-sia. Justru di situlah kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan takwa. Karena menikah memang ibadah, tapi bukan satu-satunya jalan menuju surga. Masih banyak pintu lain yang Allah bukakan.
Jadi, ketika jodoh belum datang, itu bukan alasan untuk berhenti bertumbuh. Tetap jaga diri, tetap perbaiki iman, dan tetap berjalan menuju rida Allah. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukan sekadar menikah—tapi sampai ke surga-Nya.