#56 Kepada aku;
Kamu tahu, buatku manusia hakikatnya adalah abu-abu. Seperti dunia dan seisinya yang tidak pernah punya kepastian; karena sesungguhnya semua yang sementara tak akan memberikan rasa aman. Menurutku, tidak ada yang mutlak hitam dan putih; karena dalam setiap putih akan selalu ada hitam dan sebaliknya--seperti selalu akan ada terang dalam gelap dan gelap dalam terang. Maka, kamu harus tahu kalau manusia itu abu-abu; jangan terlalu percaya pada siapapun termasuk dirimu sendiri.
Kamu tahu, kamu akan dibenci orang lain. Mungkin karena bukan salahmu, atau mungkin memang karena salahmu. Tapi dunia tidak mengenal tunggu; jadi sebisa mungkin teruslah berjalan meski lambat-- karena satu dua langkah maju tetaplah kemajuan. Salah adalah biasa, maka kalau terjadi terima saja. Besok kamu bisa coba lagi, kalau belum benar, masih ada hari esok lagi untuk mencoba. Lalu lagi, sampai menjadi benar dan lebih baik.
Kamu tahu; berhati-hatilah. Kalau kamu pikir kamu punya musuh, maka berpikirlah lagi kebenarannya. Dalam perang, musuhmu terlihat jelas membawa busur dan pedang. Tapi untukmu, kamu tidak akan pernah tahu. Karena dia menjelma jadi malaikat, jadi iblis, jadi keluarga, jadi teman, jadi pohon di jalan, jadi pagar depan rumah, jadi kata-kata, jadi suara, jadi air mata dan senyum--jadi apa yang tidak pernah kamu bayangkan.
Kamu tahu; di umurku yang baru seumur jagung aku baru sadar kalau semesta tidak pernah setega itu membuatmu terpuruk sejauh enam kaki di bawah tanah. Dan dunia tidak bisa mengalahkan kamu, bukan juga manusia yang akan mengalahkan kamu. Tapi suara-suara di kepalamu yang akan menggerogoti kamu dari dalam, kalau kamu tidak hati-hati. Salah pijak sedikit maka kamu akan runtuh merata dengan tanah.
Kamu tahu; dengar dengan seksama suara-suara dari dalam, lalu pilahlah mana yang nyata dan mana yang delusi. Jangan menelan mentah-mentah apa yang kamu lihat, karena bisa saja membuat kamu terjerat. Sayangilah dirimu-- kalau belum bisa, setidaknya coba saja. Terakhir, jangan biarkan kamu kalah oleh suara-suara yang terus bersenandung itu.
Selamat malam untuk kamu, semoga hari ini suara-suara itu meredam sedikit.
Semoga, hari ini kamu lebih mencintai dirimu sendiri.
.
.
.
.
Jakarta, 17 Maret 2021
12:29 A.M










