“Mau kemana?” kamu bertanya, sambil menahan lenganku supaya tidak pergi. Aku tidak bisa apa-apa kecuali membiarkanmu menarik tanganku ke arahmu. Pelan-pelan kamu mengusap punggung tanganku dan membawanya mendekati bibirmu, kecupanmu yang seharusnya menghangatkan malah terasa begitu dingin. Apa karena kamu itu kekasih orang?
Rasanya hambar sekali. Semakin dewasa mengapa sulit sekali untuk jatuh cinta dan terbawa perasaan. Logikaku mengambil kendali. Di satu sisi aku tidak tega harus meninggalkanmu, tapi kamu jauh lebih tega karena tidak mampu membuat keputusan sendiri.
“Aku mau kamu gak nikah sama dia”, pintaku tegas di tengah-tengah cumbu rayumu untuk kita menghabiskan waktu berdua lebih lama. Kamu mikir gak sih kalau kamu itu salah? Kenapa kamu jalan denganku disaat sudah punya komitmen dengan gadis lain? Kenapa kamu terus mengejarku padahal sudah tau kalau aku tidak mencintaimu? Kamu benar-benar membuatku menjadi seperti orang jahat karena melayani permainan yang kamu tawarkan.
“Gak bisa Dee, aku gak mungkin tiba-tiba putusin dia gitu aja, bisa jadi masalah besar untuk keluargaku”, dia menarik napas dalam. Telapan tangan besarnya merangkul pundakku, menarik supaya mendekat, kemudian mendekapku dengan kedua lengannya. “Kamu harus percaya sama aku, hatiku semuanya ke kamu, meski aku bakal jadi suami orang, jadi jangan kemana-mana, aku bakal cari cara supaya bisa pisah sama dia, tapi sabar, gak bisa kalau sekarang.”
Kedua tanganku mengepal kemudian masuk diantara tubuh kami, aku mendorong dadanya paksa, melepas rangkulannya yang posesif. “Aku gak cinta sama kamu. Dari awal aku gak pernah cinta sama kamu, Adrian.”
Hhh...kamu menghela nafas lagi, membuang pandangan keluar jendela, lalu tiba-tiba menyalakan mesin mobil.
Kita saling diam. Aku sibuk menenangkan dan menyembunyikan ketakutanku dan kamu sibuk menambah laju kecepatan.
“Kamu mau bawa aku kemana, Adrian?”
Kamu tidak menjawab, dan mobil malah semakin cepat melajunya.
“Adrian, kalau kamu mau bunuh diri, bunuh diri saja sendiri, jangan ajak aku!”
Kamu tidak bergeming namun mobil pelan-pelan berhenti.
Aku melepas sabuk pengaman, “kelakuan kamu yang kaya gini yang bikin aku gak pernah bisa cinta sama kamu!” bilangku tegas lalu membanting pintu.
Aku berlari, terus berlari, takut kamu berhasil mengejarku. Aku harus pergi dari kamu. Aku gak peduli secinta apa kamu padaku, aku gak peduli. Aku hanya mau keluar dari ikatan toxic ini.
Aku benci karena kamu telah mendekatiku disaat kamu memiliki calon istri, aku benci kamu karena kamu membujukku untuk mencoba jalan denganmu padahal aku tau itu salah, aku membencimu karena meski aku mencoba sekeras yang aku bisa kamu tetap tidak bisa membuat aku ada rasa cinta untukmu, aku membencimu atas waktu 3 bulan yang sia-sia.
Aku membenci diriku sendiri yang sulit untuk terbawa perasaaan dan membuatku bosan. Bahkan aku menuliskanmu di tumblr tanpa ada emosi sedikitpun. Tidak sedih, tidak bahagia, tidak ada rasa apa-apa, selain bosan dan ingin segera pulang dari kantor. Sangat bosan.
(A. Dakara | Jakarta, 18 Agustus 2021)