Sebentar lagi lebaran, beberapa hal dari kita ada yang enggan untuk mudik bukan karena tak ingin memperpanjang tali silaturahim. Melainkan enggan sebab ada perasaan khawatir kalau-kalau pulang ke kampung halaman bertemu sanak kerabat akan ada banyak pertanyaan yang mungkin diri kita sendiri juga bertanya perihal kapan.
Bagi beberapa orang bahkan sudah masuk ditahap takut dan sudah mulai parno perihal jawaban apa yang seharusnya musti mereka siapkan untuk menjawab pertanyaan yang mungkin bagi mereka yang bertanya hanya untuk sekadar basa basi semata. Sekali lagi terkadang tidak semua kepedulian itu baik bila sudah masuk ranah bertanya privasi terlalu dalam.
Kapan menikah? Kapan punya momongan? Kapan nambah momongan lagi? Kapan lanjut s2nya? Kapan lulus sekolahnya? Kapan kerjanya? Kapan mulai bisnisnya? Dan sederet pertanyaan kapan, dimana dan mengapa lainnya. Ditambah lagi dengan membandingkan pencapaian orang lain yang selangkah atau bahkan berlangkah-langkah lebih dulu dibandingkan diri kita pada hari ini.
Tenang ya, kalian nggak sendirian. Setiap fase, saya selalu melalui pertanyaan kapan lulus sekolahnya, lalu melalui fase kapan menikah, lalu kapan lanjut sekolah lagi, kenapa kok resign dan terakhir kapan punya momongan. Inget adek kelas kamu aja udah punya dua anaknya. Jangan nunda-nunda punya anak, inget umur yang nggak lagi muda. Kamu kecapean kerja, makanya belum punya anak. Ketika udah resign, pertanyaannya ganti jadi. Kamu kurang aktivitas/kurang bergerak kali yang kebanyakan marger. Dan segala pertanyaan yang terkadang out of the box ~
Sekali lagi, tenang ya. Kamu tidak sendirian. Dibelahan bumi manapun ada yang seperti kita saat ini. Yang Allaah uji dengan kondisi kita seperti kita saat namun ujiannya jauuuh lebih berat. Tenang ya, kita tidak sendirian.
Kita pada hari ini mungkin sedang berupaya semaksimal mungkin untuk menata hati. Tiada pernah lepas berdoa selama Ramadhan ini. Dimana segala doa yang dilangitkan tak akan pernah kembali dengan keadaan sia-sia. Artinya segala doa kebaikan pasti akan dikabulkan Allaah. Hanya saja ini semua butuh waktu. Kitapun pada hari ini selalu meminta kepada Allaah untuk dikuatkan hatinya, dan diberi ketenangan selalu.
Kita tidak bisa menghindari banyak pertanyaan orang lain yang diajukan kepada kita. Namun yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan respon diri atas perlakuan orang lain terhadap diri kita.
Doa kita sebelum mudik di penghujung Ramadhan ini, "Semoga Allaah menguatkan dan memberikan kesabaran yang lebih untuk kita. Dan semoga Allaah mengabulkan apa yang menjadi doa kita di bulan Ramadhan ini."
Tak mengapa ya, bila harus menunggu sedikit lebih lama. Tak mengapa ya, bila dalam menunggu banyak air mata yang kita tahan-tahan. Tak mengapa ya, bila Ramadhan ini belum jua terwujud. Sebab Allaah sedang mempersiapkan kita untuk mencari ilmu lebih banyak, membangun sabar yang lebih lama, dan ikhlas menerima setiap ketetapanNya. Karena akan ada masanya sesuatu yang kita tangisi pada hari ini, kelak akan sangat kita syukuri nantinya.
29 Ramadhan 1443 H menuliskan ini dari balik kaca jendela kamar..