Filosofi Teras, Psychology of Money & Atomic Habits
Awal tahun kemarin aku secara impulsif membaca 3 buku sekaligus: Filosofi Teras, The Psychology of Money, Atomic Habits.
Sepertinya itu juga kali pertama aku beli buku lagi setelah dua tahun. Awalnya agak skeptis, tapi penasaran kenapa semuanya best seller, semacam ingin tau, apa yang sedang society 'ributkan', karena terlalu lama mengurung diri dalam gua, hehehe.
Setelah baca ketiganya, aku membuat benang merah sendiri. Intinya EQ itu sangat penting. Kecerdasan emosional. Kalau dulu kita apa-apa harus tes IQ, kayanya sekarang harus tes EQ juga. Sepertinya topik ini pernah mencuat beberapa tahun lalu, waktu setiap sekolah selalu ada sesi training ESQ, dimana inti utamanya untuk membangun karakter dari Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Entah saat ini masih ada atau tidak. Ketika IQ cenderung turun secara genetis dan tidak bisa diubah, justru ESQ bisa, jadi letak harapan kehidupan yang lebih baik dan berjangka panjang bisa difokuskan pada ESQ.
Mari kita kembali ke tiga buku best seller ini.
The Psychology of Money menekankan bahwa mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan IQ, justru lebih banyak berhubungangan dengan perilaku. Perilaku itu lebih sulit diajarkan bahkan kepada orang-orang yg sangat cerdas (IQ). Sering kita dengar, kalau mau tau sifat asli seseorang coba beri dia uang yang banyak. Sederhananya, jadilah manusia dengan regulasi emosi yang baik. Bukan kalau badmood sedikit langsung checkout shopee, atau pesan makanan yang sebenernya ngga perlu. Sederhana. Tapi begitu syulid. 😂
Atomic habits seperti menimpali The Psychology of Money. Perilaku bisa dibentuk. Kecerdasan emosi bisa diasah untuk membentuk perilaku yang baik dan sustain. Cara-caranya dijabarkan cukup detail di Atomic Habits. Konsisten adalah kunci. Ada seperangkat plan untuk mengarah kesana. Ciamik. Lagi-lagi. Sederhana, ngga ribet. tapi syulid untuk mereka yang mentalnya ngga siap. 😂
Lalu Filosofi Teras seperti makanan penutup yang segar dari 2 menu di atas, dimana stoisisme dibawa jadi lebih asik dan relatable. Ada dikotomi kendali dalam hidup kita yang sebenarnya ini juga disoundingkan oleh psikolog ketika kita konsultasi. Hal yang paling bisa kendalikan hanya diri kita sendiri. Respon orang, respon kakak/adik, perilaku suami/istri, cuaca, lalu lintas, tidak ada yang bisa kita kendalikan. Daripada membuang energi untuk emosi atas sesuatu yang sudah jelas-jelas di luar kendali, lebih baik kita memilih untuk mengendalikan respon diri kita. Ini kaitannya dengan seberapa jauh kita membuat plan, seberapa 'sempurna' rencana yang sudah dijalankan untuk menjadi lebih baik, seberapa konsistennya menjalankan 'atomic habits' tetap akan ada sesuatu di luar kendali kita. Hal-hal tidak terduga tetap akan terjadi dan kita bisa memilih respon yang lebih membangun. Ketika gagal, atau dalam kondisi yang kurang menguntungkan, kita bisa memilih-bukan terpaksa lho-untuk damai. Kalau terpaksa kan karena tidak punya pilihan. Tapi kalau kendali kita kembalikan ke diri kita sendiri, kita akan selalu punya pilihan. Tapi namanya juga manusia diberi pilihan damai atau perang itu sepertinya syulliidd begitu ya. 🤣
Jadi pada intinya, kecerdasan emosi (EQ) sangat dipertimbangkan untuk kelangsungan hidup yang lebih baik. kita berlomba-lomba membuat ranking, menentukan siapa yang IQ nya paling tinggi untuk memimpin, karena sekarang segalanya harus serba cepat dan tes IQ dan ranking adalah salahsatu jalan pintasnya, tapi lupa bagaimana IQ, EQ, dan juga SQ harusnya juga saling melengkapi, bagaimana mengasahnya supaya manusia-manusia semakin kuat untuk kehidupan saat ini yang semakin tidak makin (?).












