Enggak apa-apa. Silahkan sesenggukan dipojokan kamar nggak apa-apa. Sudah sejauh ini melangkah. Kamu kini hanya perlu tau satu hal, bahwa proses lebih berharga daripada hasil. Bukankah kamu sudah tahu bahwa dunia kini memang seganas itu? Kamu sekarang sudah kuat, kan? Kamu sekarang sudah paham betul kan cara menghadapinya? Setidaknya kamu sekarang sudah tak banyak ngerepotin orang lain lagi. Sudah mau belajar mandiri dan berani. Sudah mau mencoba berdiri diatas kaki sendiri. Sebab katanya mau tak mau, menjadi kuat adalah tanggung jawab pribadi.
Bersyukurlah. Ini bisa menjadi cerita hebat dan menarik untuk anak-anakmu kelak. Maka ketika mereka kamu ceritakan tentang hal-hal seperti ini, mereka akan dengan bangga menjadikanmu sebagai guru besarnya. Sebagai teladan terdekatnya. Sebagai cahaya didalam hatinya. Bahwa kamu adalah perempuan hebat dan kuat untuk mereka.
Ini tentang sebuah apresiasi untukmu. Agar kamu tak mudah lagi untuk mengeluh dan menyerah. Agar kamu tidak pesimis lagi dalam mencoba suatu hal. Agar kamu tau bahwa kamu superhebat. Agar kamu bisa lebih mudah memperbaiki masa lalumu yang sering sekali kamu permasalahkan. Dan kamu besar-besarkan. Agar kamu memiliki banyak alasan bersyukur dan mengikhlaskan. Menerima dan melepaskan.
Terimakasih. Terimakasih karena kamu sudah bersedia mencoba berkali-kali dalam banyak hal. Terimakasih sudah memutuskan bangun lagi dari jatuh. Terimakasih sudah mencoba bangkit dari rasa hampir menyerah. Terimakasih sudah menghapus kata lelah untuk menghadapi semuanya. Pada setiap waktu, setiap detik, setiap keadaan dan setiap musim. Ah, ternyata kamu sekuat itu bukan?
Terimakasih sudah mau belajar sejak taman kanak-kanak hingga diperguruan tinggi. Terimakasih sudah mau menjalaninya dengan sabar. Meski terkadang masih suka ngeluh, sesekali putus asa. Tapi kamu hebat, setidaknya hingga kini kamu tidak menyerah. Kamu masih ingin terus belajar.
Terimakasih sudah mau nurut orang tua dengan belajar ilmu statistika. Dengan belajar ilmu yang menurutmu bukan passionmu. Sudah mau memahami bahwa perkataan, saran dan nasihat dari seorang ibu adalah yang utama. Meski kadang juga masih bertanya-tanya, kenapa harus belajar ini dan itu?
Terimakasih sudah berusaha ta’dzim, hormat dan berakhlak baik kepada mamah bapak, kepada guru-guru, kyai, ustadz dan ustadzah. Kepada orang-orang yang lebih tua darimu. Terimakasih sudah mau belajar menyayangi kakak, menyayangi adik, menyayangi sepupu-sepupumu. Walaupun terkadang masih suka ngerepotin.
Terimakasih sudah mau mencoba berteman dan berbuat baik kepada teman. Semoga kamu hanya akan selalu mengingat kebaikan-kebaikannya dan cepat melupakan keburukan-keburukannya dimatamu—kepadamu.
Terimakasih sudah mau nurut sama Allah, sudah menjadikan Rosul sebagai panutan meski belum sepenuhnya, tapi setidaknya sepenuhnya kamu telah mencoba. Terimakasih sudah mau belajar hidup sederhana dipondok pesantren, semoga kamu selalu istiqomah dan tidak tenggelam dalam kehidupan yang serba mewah dizaman milenial seperti ini. Terus dan seterusnya.
Terimakasih sudah mau mencoba menyelami, menghadapi kemudian memaknai lingkungan yang serba heterogen seperti ini. Dimana warna abu-abu selalu ada setiap saat. Dimana baik dan buruk bisa saja berkumpul dalam satu badan. Meski kadang merasa tidak cocok, merasa risih, merasa takut dan merasa tidak mampu, setidaknya kamu masih bertahan sampai sekarang, bukan?
Terimakasih telah memutuskan keputusan yang paling besar di dunia ini. Terimakasih sudah dengan mantap dan yakin telah menceburkan diri ke dalam dunia Al-Qur’an. Terimakasih untuk tetap bertahan hingga kini. Meski kamu tau bahwa menghafal itu konsekuensinya sangat berat jika tidak diperjuangkan hanya karena Dia. Meski jalannya terjal, curam dan berbatu. Tapi kamu yakin, jalannya pasti lurus. Semoga kamu tetap bisa bertahan sampai 30 juz. Semoga teman-teman seperjuanganmupun bisa bertahan sampai selesai juga. Dan bisa menjaganya dengan baik sampai nafas tak dikandung badan lagi.
Terimakasih sudah mau makan apapun asal halal. Tidak memilih-milih. Ah, dunia memang restoran terbaik dengan menu apapun! Tapi jangan banyak-banyak makan, ya. Nanti hatinya mati. Jadi ilmunya susah masuk.
Terimakasih sudah bersyukur dilahirkan ditengah keluarga yang sederhana dengan caranya sendiri seperti ini. Meski kadang tak cocok dengan keputusan mamah, tak cocok dengan keputusan bapak. Tapi dengan kamu yang mencoba meruntuhkan ego-ego diri, kamu telah berhasil patuh kepada keduanya. Katanya anak boleh mikir, tapi orang tua lebih berpengalaman.
Terimakasih sudah mau bermimpi, memperjuangkan mimpi-mimpi juga meladeni mimpi-mimpi. Diluar sana banyak yang tidak berani bermimpi, banyak yang sudah menyerah dulu sebelum mencoba. Ingat, kamu memiliki Tuhan yang hebat sejagad semesta. Yang menggenggam mimpi-mimpimu, lalu akan dilepaskan pada saat yang tertepat. Tugasmu hanya berdo’a, berjuang dan butuh sedikit menunggu lagi.
Terimakasih sudah mau membaca banyak buku. Meski kadang tidak sepenuhnya paham, setidaknya kamu sudah sepenuhnya mau memahami. Suatu saat kamu pasti akan dipahamkan oleh-Nya. Semoga hasil membaca-baca sekarang tak hanya sekedar menjadi bacaan, tetapi akan bermanfaat dikemudian.
Terimakasih sudah mau menulis. Menuliskan cita-cita. Menuliskan cinta. Menuliskan semuanya—menuliskan kehidupan. Semoga arah penamu yang berisi jatuh-bangun, semangat-menyerah, senang-sedih, kecewa-bahagia, dan pembijakan untuk diri sendiri bisa menjadi amal baik yang tak putus hingga ke negeri akhirat kelak.
Terimakasih sudah bersedia patah hati, bersedia menikam setiap rindu yang merasuk kedalam diri, bersedia menyimpan rasa-rasa aneh yang terkadang menganggu pikiran. Terimakasih sudah mempersiapkan diri menjadi perempuan yang lebih baik untuk untuk kelak ditemukan dengan yang tertepat diwaktu yang paling tepat.
Terimakasih sudah mencoba menjadi diri sendiri disaat yang lain memakai bermacam-macam topeng pada wajah mereka. Terimakasih sudah berusaha memaknai setiap kejadian, setiap peristiwa yang kamu alami dan mengambil hikmahnya. Karena tak semua orang diberi ilmu hikmah.
Terimakasih sekali lagi. Ah, kamu ternyata sehebat ini.
Sudah selesai sesenggukannya? Dihapus, ya, air matanya. Yuk ah, bangkit lagi! Ngaji lagi!
Sudah disuruh senyum sama Allaaaah. Senyuuuuum. :))