Touring Bandung—7 Februari 2025.
Bermula dari ide, “bagaimana kalau kita touring saja ke Bandung? Biar dapat suasana dan pengalaman baru :D”
Nilai plusnya, saat di Bandung jadi bisa lebih leluasa kalau mau pergi ke berbagai tempat. Tentu, tidak bisa hanya sekadar 3-4 hari. Perlu 7 hari untuk bisa ‘puas’ dan cukup waktu pulih selepas berkendara jarak jauh.
“Anak, kita titipkan sama Mamah & Bapak. Biar naik mobil saja berempat. Kita berdua naik motor.”
Sebelum perjalanan dimulai, butuh beberapa hal untuk disiapkan.
1. Upgrade + tambahkan box bagasi dibelakang motor. Kami pakai brand Givi, padahal targetnya beli Shad. Cuman karena sedang ada diskon di toko aksesoris motor touringnya dan kapasitasnya lebih besar (yang mana akan berguna kedepannya) jadi kami pilih Givi.
2. Service rutin motor ke bengkel resmi, dicek semua kondisi/kesehatan motornya.
3. Ganti ban. Sebetulnya ini diluar rencana, tapi qadarullaah sempat dapat musibah ban bocor sebelum hari touring tiba, jadi sekalian upgrade ke ban yang lebih bagus dan tahan banting diberbagai medan jalan.
4. Beli jas hujan, cover sepatu. Supaya tenang dan aman meski kena hujan dijalan nanti.
5. Isi bensin full tank di SPBU swasta. Beda soalnya feel berkendara pakai bahan bakar negeri sama swasta (punten…).
6. Yang ngga kalah penting, persiapkan fisik! Tidur yang cukup, perbanyak peregangan dan olahraga tipis-tipis.
7. Bawa perbekalan seperti minuman (air mineral) dan camilan untuk dikonsumsi saat istirahat. Taruh di box motor :D siapkan juga cadangan masker untuk diperjalanan nanti.
8. Siapkan uang cash, jangan lupa bawa data penting kayak KTP di dompet dll.
9. Saat hari H tiba, dimalam sebelumnya siapkan makanan untuk sarapan sebelum berangkat. Supaya nanti tinggal dihangatkan saja di microwave.
Dan dimulailah perjalanan touring TNG - BDG. Kami berangkat pukul 05.10 WIB, dan tiba di Bandung sekitar pukul 13.30 WIB. Cukup lama karena kami berhenti beberapa kali untuk ke minimarket, ke toilet dan mampir makan siang dulu.
Rute yang kami lalui kurang lebih Alam Sutera - BSD - Parung - Puncak Bogor - Cianjur - Padalarang - Bandung.
Daerah yang paling berkesan buat kami sebetulnya adalah saat berada dijalanan menuju Puncak Bogor dan Puncaknya itu sendiri :D karena saat itu kondisi sedang hujan gerimis, berkabut tebal, dingin luar biasa hingga kami menggigil di atas motor haha.
Seru! Kami berkendara ditengah kabut sekaligus membelahnya melalui jalanan menanjak-menurun dan berbelok.
Bagian paling tidak menyenangkan adalah saat kami berada didaerah Cipatat dan Citatah. Karena jalanannya bergelombang, berkelok, menanjak dan menurun disertai keberadaan truk-truk transformer yang mengangkut batu dan tanah heuheu.
Kebayang seberapa banyak debu, asap, polusi dan kehatian-hatian yang harus kita hadirkan saat berkendara.
Yang membuat tidak terlalu lelah adalah karena kami bergantian jadi supir :D, beruntung nih punya isteri mantan rider juga wkwk. Aku ambil alih motornya ketika jalanan cenderung lurus terus, menanjak berkelok namun lancar, jalanan tidak macet, dan medannya mudah.
Bagian medan sulit seperti menurun dan berkelok-kelok, macet, banyak truk, itu biar suami yang handle.
Alhamdulillaah, sampai dengan selamat di Bandung.
Dititik ini, aku jadi berpikir bahwa hidup kita juga layaknya agenda touring ini.
Perjalanannya jauh, panjang, marathon dan bukan sprint. Butuh persiapan, butuh bekal dan butuh strategi supaya bisa selamat sampai tujuan.
Kita harus tahu kapasitas diri, tahu kapan harus istirahat, tahu kapan harus ngebut, kapan harus pelan-pelan, kapan harus isi amunisi.
Ketakutan saat melakukan perjalanan ini selalu ada. Takut juga bukan kita kalau tiba-tiba tidak selamat dijalan? Takut tiba-tiba meregang nyawa. Takut tiba-tiba perjalanan harus terhenti sementara karena musibah datang. Takut ada hal-hal yang jadi hambatan selama perjalanan.
Tapi, disinilah fungsinya doa. Doa yang jadi penguat langkah, kepercayaan bahwa ada ALLAH yang selalu ada melindungi.
Ikhtiar kita hadir dalam bentuk strategi, rencana dan eksekusi. Jangan asal-asalan ‘jalan gitu aja’. Apalagi kalau tanpa bekal dan persiapan. Terlebih kalau ngga punya tujuan pasti. Hidup ngga akan asik, bakal uring-uringan.
Kalau udah punya tujuan tapi rencananya ngasal, strateginya ngga dipikirkan, jangan heran kalau sampainya bisa jadi lama. Entah karena distraksi atau lupa arah.
Semoga kita semua ngga gitu ya :)
Perjalanan touring ini bikin aku merenung kembali soal hidup. Perenungan yang sudah lama ngga dirasakan karena jarang punya waktu sendiri lagi ketika di rumah.
Oleh karena itu, aku coba tuliskan sedikit jejak ingatan ini ke dalam postinganku. Supaya bisa di revisit suatu hari nanti.
Atau bahkan dibaca oleh anakku nanti ketika ia sudah cukup mampu membaca dan memahami isinya hehe.
Semoga pengalaman sederhana nan menyenangkan ini selalu hidup dalam ingatan.
Tangerang, 19 Februari 2026 | 21.33 WIB (2 Ramadan 1447 H)