setelah apa yang terjadi
rasanya tak berhak untuk terus mendesak
berdiri di sampingmu memang keinginanku
sejak saat itu, sejak kedua mata kita bertemu
ternyata bukan hanya keinginanku yang bertumbuh
jarak di antara kita pun turut ikut
belakangan aku tahu
detik membawamu pada muara
muara yang bukan aku
tentu aku dayuh
tetapi apalagi yang bisa ku buat
selain memecah harapku
demi Tuhan, aku rela
silahkan berbahagia
It sounds like me when the day you left me. You just couldnât remember how you left me. I cut my hair and have mine moved on. Iâve fought my self for being able to cut you off of my life, for my better life because of what youâve ruined.Â
Penjelasan bagi mereka hanya dianggap omong kosong yang tidak akan mengembalikan apa-apa. Mereka merasa semuanya sudah "jelas". Padahal kalau saja dia tahu, ada yang sedang menyelamatkan hatinya dari kehancuran yang meluluhlantakkan
Pelangi kadang mengiringi hujan, banjir pun
Bintang kadang mengiringi malam, gelap pun
Aku
Selalu mengiringi tawamu, tangis pun
Apa lagi yang dicari? Tak cukupkah?
Apa lagi yang dicari? Sempurnakah?
Benarkah adanya?
Patah hati itu rasanya seperti ada sesuatu yang direnggut dari dalam diri
Setelah ribuan purnama memupuk, menumbuhkan, dan menyuburkan rasa, ketika hati patah, rasa itu dengan sekejap hilang tak bersisa
Tertinggal penyesalan, kesedihan, serta sebuah pertanyaan, "Kenapa?"
Kembali akrab dengan sendu, rindu, dan cemburu ketika melihat sesuatu yang direnggut itu bahagia bersama yang baru
Tak rela, tak terima, merasa hina, karena belum bisa menjadi seorang yang dipilihnya untuk berlabuh
Pada akhirnya, di bagian konklusi, ia akan membentuk diri yang lebih menghargai dan tetap hati
Bukan maksud saya mengirimimu luka
Pun saya tak bermaksud membuatmu menunggu di luar sana
Saya pun butuh waktu
Tidak serta merta dihampiri rindu
Jika kamu mau sedikit saja kembali menunggu, saya pasti ada di ruang itu
Kembalilah, kau ku tunggu
âPenjelasanâ bagi mereka yang terlanjur terhambur rasanya hanya akan dianggap sebagai omong kosong yang tidak akan mengembalikan apapun. Yang dirasa sudah âjelasâ, belum tentu sejelas itu. Perlu dipahami bahwa segala sesuatu akan membawa hal yang baru, yang kamu pun tidak tahu, yang kamu pun bertanya-tanya, maksud dari kedatangannya.Â
Kalau saja kamu tahu, semua sudah berjalan pada waktunya masing-masing.
Kalau saja kamu tahu, segala yang batal pada akhirnya akan menyelamatkan.Â
Kalau saja kamu tahu, segala yang hancur pada akhirnya akan menyembuhkan.
Akhirnya kembali lagi kesini hehe (agak telat sih), karena baru tahu kalau Tumblr sudah tidak diblokir lagi dan kemudian teringat kalau banyak perjalanan yang belum didokumentasikan.
Setelah awal tahun 2017 kemarin pergi ke Yogya, hampir akhir tahun 2018, tepatnya bulan Oktober 2018, aku pergi ke Yogya lagi! Tentunya dengan teman, destinasi, dan pengalaman yang berbeda. Sama seperti perjalanan ke Yogya sebelumnya, perjalanan ditempuh dari Stasiun Malang ke Stasiun Tugu Yogyakarta naik KA Malioboro Ekspres (IDR 140k). Jangan lupa manfaatkan promo di platform travel digital kesayangan Anda karena waktu itu aku dapet diskon sekitar IDR30K per tiket (lupa mesennya dimana hahaaha). Sesampainya di Yogya, karena subuh, kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di Stasiun menunggu matahari terbit sambil menghubungi homestay tempat kami menginap. Karena homestay ternyata sudah buka, kami bisa check-in lebih awal.
Homestay tempat kami menginap adalah Nap Inap Home Stay. Dibooking via Agoda dan dapat harga sekitar IDR 80K/malam/orang. Lokasinya strategis, di daerah Prawirotaman. Meskipun masuk gang tapi gangnya cukup luas. Dekat dari Alun-Alun Kidul. Hostnya sangat baik. Kebetulan waktu itu kami datang sangat pagi, dan sudah diperbolehkan check-in terlebih dahulu karena ada kamar yang kosong. Saat itu kami datang bertiga sehingga diberikan Quadruple-Room yang bisa diisi hingga empat orang dengan kamar mandi di dalamnya (tapi toilet tetap di luar kamar). Tempat tidur cukup luas dan nyamanlah pokoknya kalo cuma buat tidur aja wkwk
Day 1
Setelah beberes dan istirahat sebentar. Kami ambil motor di Rental Motor TPI.Tapi maaf lupa harganya berapa. Tempatnya di dekat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tapi agak masuk gang dan agak susah juga sih ketemu tempatnya. Beres sewa motor, kami pergi ke daerah Gunung Kidul. Kemana lagi kalau bukan ke pantaiii. Karena menurut kami, wisata ke hutan sudah terlalu mainstream. Tujuan kami adalah Pantai Gesing. Pantai ini dipilih karena di dekat Pantai Gesing ada spot baru yang waktu itu lagi hits alias Teras Kaca Pantai Nguluran. Sampai di Pantai Gesing kira-kira sudah siang ya, sekitar jam 11. Pas dateng kaget sih karena ternyata pantai Gesing ini bukan pantai-pantai aesthetic, tapi tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan. Jadi waktu dateng disambut dengan bau-bau amis ikan. Uniknya, di sebelah kanan pantai ada bukit yang bisa kita naikin. Ada spot-spot foto ala-ala gitu tapi keliatan kurang terawat. Waktu dateng kesana sepi banget, Cuma ada kita bertiga. Mungkin Karena kita kesana waktu weekday juga jadi gak terlalu ramai. Akhirnya kita naik ke bukit itu dan dapat foto-foto ini dari atas bukit Pantai Gesing.
Setelah dari Pantai Gesing, kita pergi ke Pantai Nguluran, jaraknya mungkin sekitar 5-10 menit aja. Di Pantai Nguluran ini lebih ramai ya, karena ya spot hits tadi. Dikenakan juga tiket masuk kalo gasalah IDR 5K per orang. Tapi, ternyata, ke spot foto yang hits itu kena charge lagi dan harus antri. Berhubung pas itu kita kesana siang bolong dan panas banget, akhirnya kita cuma jalan-jalan di sekitar situ aja. FYI, dari situ sepertinya kita gabisa turun ke pantai, jadi cuma lihat pantai dari atas tebing aja.
Pulang dari Pantai kita langsung makan siang karena lapar sekaliL Tujuan makan siang hari ini Penyetan Mas Kobis di daerah UGM. Asli ini Penyetan enak banget sih sambelnyaaaaaaaa dan kol gorengnyaaa. Wajib banget kalo ke Yogya dan lagi on budget. Cabang Mas Kobis ini banyak ya, jadi gak harus di daerah UGM. Setelah itu, kita pulang untuk istirahat.
Malamnya, kami pergi ke Jalan Malioboro (mainstream banget, tapi wajib!). Setelah keliling Malioboro dan capek, kami pergi ke Filosofi Kopi Yogya. Kopinya so so, tapi vibesnya ajib. Jadi ada semacam joglo gitu, outdoor, dan pokoknya bikin betah aja disana, nyaman sekalii.
Day 2
Sarapan adalah agenda pertama kami hari itu. Karena lagi pengen yang âjogja bangetâ akhirnya pergi ke House Of Raminten. Disini menunya tradisional dan dekorasi restonya Jawa banget, bahkan waitressnya pun pake kebaya! Lucu deh. Harganya normal, tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal.Â
Perut sudah kenyang, waktunya ngebolang! Karena teman-teman belum pernah ke Taman Sari akhirnya kami pergi kesana. Tiket masuk masih tetap IDR 5K per orang, kalau bawa kamera professional seperti DSLR dikenakan charge (kalau gak salah) IDR 10K.
Jujur kalo aku kurang suka ke tempat seperti ini karena hawanya sangat panas dan terik. Kalo sore sudah redup, mungkin lebih nyaman kesini ya, sekitar jam 3 atau 4 sore gitu. Tapi kalo ga salah ini tempat jam 4 sore udah ditutup wkwk.
Setelah panas-panasan dan gosong di Taman Sari, kami pergi ke Tempo Gelato. Gelato kebanggaan Yogyakarta di daerah Prawirotaman. Asli ini deket banget sama penginapan kami :D
Karena sudah lumayan siang menuju sore, kami memutuskan untuk segera pergi ke Candi Ijo. Candi Ijo ini letaknya di kompleks Tebing Breksi dan Candi Ratu Boko. Menurutku malah lebih tinggi Candi Ijo daripada Candi Ratu Boko. Perjalanan dari kota ke Candi Ijo memakan waktu sekitar satu jam saja! (Ini bukan lagu Lala Karmela ya). Oh iya, Candi Ijo ini letaknya masih di atas Tebing Breksi, rumornya candi ini adalah candi tertinggi di Yogyakarta. Jalannya bener-bener kaya mau ke gunung karena naik terus! Untung motornya kuat wkwk. Setelah parkir di sisi sebelah kanan jalan, kita jalan sedikit kurang lebih tiga menit ke kompleks Candi Ijo. Candinya juga gak terlalu rame macam Candi Prambanan. Jangan salah ya, warna candinya gak ada ijo-ijonya sama sekali, tapi dinamakan Candi Ijo karena letaknya di bukit Gumuk Ijo. Sepanjang jalan ijo-ijo sih tapi, keren.
Kami disana sampai matahari tenggelam, sayangnya disini gak ada coffee shop jadi gak bisa jadi anak indie deh hehe.
Pulang dari Candi Ijo, kami pergi ke Bakmi Jowo Mbah Gito. Bakminya enak karena sedep gitu sih, menurutku, acarnya dikasih semangkuk di setiap meja, jadi makin seger. Agak pricey untuk seporsi bakmi, tapi ya gakpapa, mungkin dia udah punya nama juga. Dekorasi restonya juga unik, semacem kayu-kayu gitu atau bahkan semuanya kayu ya, aku agak samar sih tapi seingetku gitu, lumayan artsy. Rame banget, tapi pelayanannya gak terlalu lama juga kok. Over all, good.
Dari Bakmi Jowo Mbah Gito kami berpisah di Stasiun Tugu, teman-teman akan pulang kembali ke Malang dan aku melanjutkan perjalanan ke Semarang besok paginya. Segitu dulu perjalanan ke Yogyakarta, semoga bisa jadi referensi:)
Februari memang belum habis, tapi aku bertujuan untuk menghabisinya disini. Sudah dua minggu jalan kuliah. Semuanya berjalan seperti biasa. Kuliah, pulang kalau tidak ada rapat, dan ketemu temen-temen dengan segala basa-basi ala jaman now. Sosial media masih tetap begitu. Followersku masih 600an. Dan ya, hal lainnya masih berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada malam minggu yang menyenangkan di luar sana, tapi menenangkan di dalam rumah. Valentine pun hanya sebuah perayaan untuk orang-orang tertentu dan aku menghargai mereka yang merayakannya. Tanpa panjang lebar lagi, postingan ini didedikasikan untuk siapapun yang memberikan cokelat dan gelang lucu di satu hari sebelum 14 Februari. Terima kasih karena sudah mempedulikan aku yang mungkin tidak peduli kamu? Semoga Tuhan tetap melindungi kamu dimanapun kamu berada. Maaf kalau aku tidak bisa membalas pemberianmu, dan jika kamu membaca ini, tolong beritahu kalau kamu yang mengirimnya, agar aku bisa mengirimkan setidaknya kebahagiaan buat kamu.Â
Untuk kami yang sedang diselimuti rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam akibat cinta yang kami sia-siakan:
Sebelum cerita tentang kamu selesai, ternyata kenyataan memang telah tidak berpihak kepadaku. Maka akan aku cukupkan demikian tentang apa yang telah kamu lihat selama ini. Rasa penyesalanku yang mendalam, rasa sayang dan rasa ingin memiliki yang akhirnya memang kalah. Rasa yang membuatku menutup mata bahwa di sekitarku masih banyak yang ingin menjadikanku bagian kisahnya, bagian dari kepingan hatinya yang belum lengkap. Rasa yang membuatku menutup pintu hati, dan tak ingin mengalihkan pandanganku darimu. Rasa yang membuatku egois dan (mungkin) tidak tahu malu. Tetapi setelah berkali-kali peringatan kamu layangkan, aku sadar. Bahwa kenyataannya cintaku telah tidak bersamaku lagi dan dia menikmatinya, dia bahagia .
Akan lebih tepat apabila aku berhenti menunjukkan segalanya padamu. Akan lebih baik apabila aku menyimpan semuanya sendiri. Karena memang yang segalanya untukku, tidak lagi berarti untukmu. Dan mungkin tidak baik pula untukmu. Aku akan tetap mendoakan kalian dengan baik. Semoga dia akan tetap dan terus kamu cintai baik buruknya, begitupun sebaliknya. Aku bahagia, asalkan kamu bahagia. Dan saat ini, aku perlu mengistirahatkan diri dari cintaku yang bahkan tidak bertepuk karena cinta yang lain sudah datang merenggutnya. Aku harus memperbaiki diriku dan jika memang pantas nantinya kita akan dipertemukan kembali. Dan bila tidak,aku harap kamu dipertemukan dengan dia yang memang layak dan baik untuk kamu, begitupun aku.Â
Dalam Doaku
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut,
dahi dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan bersabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu..
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
Jadi akhir bulan Januari ini lagi hype-hypenya film Dilan 1990 yang diangkat dari novel yang judulnya sama. Ini aku bukan mau ngereview filmnya sih tapi pengen nulis pendapatku aja. Karene review film bisa dilihat di blog-blog lain yang sudah expert dan emang punya kapabilitas untuk itu.Â
Kebanyakan buku yang diangkat jadi film biasanya akan kehilangan citra dan kharismanya. Beberapa kali nonton film yang diangkat dari sebuah buku dan feelnya gak akan sedapet kalo pas baca bukunya. Tapi film ini beda sih. Jujur. Meskipun baca bukunya juga ga sampai tamat hahaha tapi over all dia nggak mengecewakan ekspetasi pembacanya, I think. Pertama emang penasaran banget sama film ini karena yang main Iqbaal, mana dia ganteng banget kan. Beberapa hari sebelum film-nya keluar trailernya udah ada dimana-mana dan parodinya udah tercecer dimana-mana. Udah gak bisa diitung, banyak banget. Mulai yang garing sampe yang bikin ngakak banget dan sampe kebawa pas nonton filmnya ada. Jujur ini film pertama yang aku tonton sendirian dan aku rewatch di bioskop.Â
âKenapa nonton Dilan sendirian sih? Kan berat, kamu ga akan kuat, sama aku aja.â Hahaha. Nyatanya aku kuat nonton sendirian dan ternyata nonton sendirian itu patut dicoba sih. Nggak cuma aku kok yang nonton sendirian, dua kali nonton Dilan dan masih nemu orang yang nonton Dilan sendirian. Emang agak aneh sih, waktu Dilan ngegombalin Milea aku cuma bisa ketawa-ketiwi sendiri, gak ada yang dicubit atau dikodein buat ngelakuin hal serupa haha. Keputusan nonton sendiri diambil karena udah muak ngeliat trailernya dimana-mana dan keburu gak excited lagi nantinya. Akhirnya berangkatlah aku sendirian. Sebenernya gak naruh banyak harapan kalau filmnya bakal seeelucu ini, seemenggemaskan ini, dan seeworth-it itu buat ditonton lagi. Gara-gara pas lihat trailernya banyak banget yang bikin âilfeelâ kaya, kenapa harus Iqbaal yang masih kecil dan gak bad boy yang jadi Dilan? Ternyata Iqbaal juga gak kecil-kecil amat, baru nyadar haha. Akunya aja yang sok tua, ternyata dia cuma setahun dibawahku, kelahiran 1999 bulannya sama, Desember. Dan bener juga kata salah satu selebtwit yang juga selebgram, Fiersa Besari, kalau sosok Dilan tidak pernah dikatakan atau diidentikkan dengan bad boy walaupun dia suka berantem, tawuran, bolos kelas karena telat bangun, gak pernah masukin bajunya kecuali pas disuruh bapak-ibu gurunya. Itu emang sifat anak SMA kebanyakan. Dan hal itu emang kebukti waktu udah nonton full movie-nya. Iqbaal sepantes dan seeâDilanâitu buat jadi Dilan. Bener-bener anak SMA yang lagi kasmaran, gombal-gombal garing tapi jatuhnya lucu. Karena Milea-nya suka juga digombalin macam itu haha. Kalau yang belum baca bukunya, film ini banyak kejutannya sih. Ya karena drama cintanya Dilan sama MIlea yang nggak boring kaya kids jaman now, saya juga hehe. Dan beberapa kali baca review orang-orang yang udah expert buat ngereview film, film ini asli gak ngecewain. Sangat worth to watch even udah diliat berkali-kali juga gaakan bosen sama Dilan.Â
Beberapa yang lain bilang, film ini bikin mereka ingat lagi jaman SMA dulu. Dan yang lain lagi bilang, film ini bikin standard cewek jaman sekarang buat cowok mereka makin tinggi. Jaman 1990 dan 2018 emang udah beda banget. 28 tahun berlalu dan semuanya sudah berubah. Tapi pasti ingatan orang-orang tentang jaman SMA itu nggak akan berubah, mungkin sebagian besar orang punya ingatan yang buruk tentang masa SMA mereka, tapi sebagian besar yang lain punya ingatan yang indah tentang masa SMA mereka. Dan kenyataannya masa SMA memang masa yang selalu dirindukan dan diinginkan untuk diulang kembali. Tapi, untuk pendapat yang kedua, rasanya aku kurang setuju. Dilan di tahun 1990 hanya menjadi dirinya sendiri yang sederhana dan tidak mengada-ada. Dilan pada tahun 1990 hanya memberikan TTS yang sudah diisi sehingga Lia tidak perlu pusing untuk mengisinya, ketika Nandan memberikan boneka beruang besar dan Beni datang jauh-jauh dari Jakarta tengah malam dengan kue tart dan sebouquet bunga mawar. Dilan hanya datang menggunakan motor CB 100 kemudian mengajak Lia makan bakso yamin dan menyuruh Lia membawa separuh kerupuknya untuk kemudian dimakan di rumah ketika Kang Adi membelikan sweater yang katanya âversi mahalâ dan mengajak Lia keliling ITB menggunakan mobil. Dilan juga seorang manusia yang tidak percaya diri ketika melihat Kang Adi yang setiap hari datang dan menunggu Lia pulang untuk belajar dengannya. Dilan juga seorang manusia yang punya prasangka ketika melihat Lia dan Nandan berjalan bersama, hingga dia merasa dia harus menjaga jarak dengan Lia. Tetapi, Dilan adalah orang yang pertama marah ketika Lia dikatai Beni seorang âpelacurâ dan Dilan yang pertama kali marah ketika Anhar menampar Lia di warung Bi Eem. Dilan hanya menjadi dirinya sendiri yang tidak pengecut, tidak pecundang. Oleh karena itu, kalian, laki-laki diluar sana yang sedang membandingkan atau dibandingkan dirinya dengan dengan Dilan. Mungkin kalian hanya perlu menjadi diri kalian sendiri dengan versi terbaik yang kalian punya, tidak perlu memakai jaket jeans atau motor CB 100 ala Dilan. Tidak perlu pula memberikan TTS atau cokelat melalui tukang koran. Tidak perlu pula membawakan Bi Asih kepada Lia kalian yang sedang sakit. Tetapi perlakukanlah siapapun yang sedang ada disamping kalian, Lia kalian, dengan niat dan hati yang tulus. Bahagiakanlah siapapun yang berada di samping kalian, Lia kalian, dengan cara kalian sendiri.Â
Oh iya, apresiasi dulu buat film Indonesia yang makin hari makin ciamik! Tahun ini kayaknya bakal banyak film yang harus ditonton di bioskop nih. Jangan lupa nonton dan jangan lupa update story ya kalo lagi nonton. Tapi update tiketnya aja, jangan update filmnya! Hahaha.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada