#1 I Know Why The Stars Are Singing
Teruntuk @senjarak
—
Sagitarisa. Aku tak tahu apa yang ada di benak papa dan mama saat mereka memutuskan untuk menamaiku berdasarkan zodiak yang kedua belas, dan mencampurnya dengan nama ‘Risa’ yang entah dari mana. Aku bisa membayangkan hidung mereka kembang kempis, bangga telah mencetuskan nama yang anti-mainstream. 'Kelak anakku tak harus berbagi nama dengan orang lain, atau pusing mencari user name yang bagus.’ Mungkinkah itu yang terlintas di pikiran mereka? Mungkin aku berterima kasih pada mereka, berkat keanehan namaku maka saat aku googling maka aku tidak akan pernah menemui aktris porno yang punya 'nama panggung’ sama denganku.
(temanku pernah googling dirinya sendiri dan tebak siapa yang berbagi nama dengan aktris porno?)
Juga bisa kubayangkan, berapa banyak alis yang berkerut atau pertanyaan canggung seperti, “Anu, siapa tadi namanya?” saat papa mama mengenalkan aku pada kerabat mereka. Wajar jika mereka memilih 'jalan pintas’ dan hanya memanggilku sebagai 'Gita’ atau 'Risa’. Namun papa mama bilang sejak kecil aku sungguh keras kepala; takkan mau menoleh kecuali dipanggil sebagai 'Sagitarisa’. Sampai papa mama lelah menegurku, aku tetap acuh. Entah kenapa. Barulah sejak SD aku sadar; lidah siapapun bisa pegal hanya untuk menyebut namaku saja. Mungkin sejak itu aku mengalah, atau mungkin aku sudah terlalu jengkel hingga tak mau peduli lagi.
Oh, tahukah kau bahwa nama abangku Leo? Iya, hanya Leo.
(tebak siapa yang hanya butuh satu menit untuk mengisi identitas di LJK UN?)
Walau namaku lekat dengan rasi bintang yang menaungi hari lahirku, aku tak percaya pada astrologi dan tetek bengeknya. Jika ada sesuatu yang 'mendekati fiktif’ yang aku percaya, maka itu adalah sastra literatur. Entah sejak kapan, aku percaya bahwa tiap kata dalam tiap kisah memiliki roh dan denyut nadi. Bagai susunan DNA yang menciptakan sebuah manusia yang autentik. Saat terberai dan terpenggal, kata-kata seolah tak punya makna. Malah terasa aneh kalau diucapkan berulang-ulang. Namun saat mereka terjalin, ada jiwa yang bernapas dan menunggu riwayatnya diabadikan dalam benak pembacanya.
Aku menangkap keajaiban sastra sejak mama memberi buku dongeng sebagai hadiah ulang tahunku. Kalau tidak salah, waktu itu usiaku kira-kira masih tiga setengah tahun. Mungkin mama ingin aku belajar membaca. Yang tak disangkanya, aku hanya perlu sehari untuk melahap karangan Hans Christian Andersen tersebut, bahkan langsung merengek agar dibelikan lagi. Empat belas tahun kemudian, koleksiku berdesakan di lemari yang nyaris memenuhi dinding kamarku. Di antaranya masih bersemayam buku dongeng pertamaku, yang sesekali kubaca untuk membangunkan nostalgia.
(lantas, bisakah kamu menebak siapa yang kini bercita-cita menjadi seorang penulis?)
—
to be continued, hopefully.













