Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.
Gayle Forman, If I Stay (via the-book-diaries)

Kaledo Art

Origami Around

No title available
Today's Document
Stranger Things
will byers stan first human second
Cosimo Galluzzi

roma★
No title available
Alisa U Zemlji Chuda

shark vs the universe
DEAR READER
Lint Roller? I Barely Know Her
Misplaced Lens Cap

PR's Tumblrdome
taylor price
styofa doing anything

Discoholic 🪩

izzy's playlists!
Acquired Stardust
seen from Canada
seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Japan

seen from Japan
seen from Sweden
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from Singapore

seen from France
@anwarmenulis
Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.
Gayle Forman, If I Stay (via the-book-diaries)
184.
Aku melihat ke masa lalu dan menemukan diriku yang dulu. Ia masih remaja dan lugu dalam menerima harapan-harapan yang seseorang janjikan. Kudengar ia mengucapkan nama kekasihnya selembut perasaan.
Andai bisa kukatakan padanya sekarang: jangan gila.
Sehabis ini kau akan tahu kenapa cinta tak seharusnya kaujatuhkan terlalu dalam. Kau naif dan buta. Perasaanmu terlalu lemah menghadapi dunia. Bahkan kata-kata yang kekasihmu ucapkan itu suatu hari akan teringkari juga. Kau tahu, dia yang akan mengatakan perpisahan itu. Tentu bukan dirimu. Karena aku paling mengerti, betapa kau mencintainya pada saat itu.
Puisi-puisi cinta yang kautulis itu akan berakhir di sebuah buku yang bahkan tak mau lagi kaubaca, karena kau malu pada dirimu sendiri. Karena kau menyesal pernah sebodoh itu menerbangkan hatimu di sepasang sayap yang palsu. Dan perasaan itu akan berakhir di dering telepon malam yang ia layangkan ketika ia mabuk dan mengaku rindu–itu kebohongannya yang ke seribu. Tetapi dengan bodoh kau tetap menelannya. Menyatakan rindu sebaliknya.
Kau betul-betul gila, ya?
Tetapi ketika kau tidak bisa mengurangi kegilaanmu itu, setidaknya bersyukurlah bila nanti teman-temanmu akan setia menemani berhari-hari setelah ia menegaskan perpisahan. Karena di hari-hari itu kau tak tahu lagi bagaimana bentuk hatimu. Remuknya akan mengundang sesak setiap kali kau mencoba bernapas. Dan setiap tengah malam, kau akan terbangun dari tidur hanya untuk tertawa dan mengeluarkan air mata. Tanganmu menetap dan mengusap dadamu sendiri. Satu-satunya yang bisa kaukatakan di malam seperti itu hanyalah: Sakit. Sangat sakit. Sakit yang tak pernah kaukira sebelumnya. Sakit yang seperti tak ada obatnya.
Maka jangan pernah mengusir teman-temanmu pergi dan jangan melakukan hal bodoh! Percayalah akan ada orang-orang yang dengan sabar memelukmu, mengucap doa untuk sembuhnya patahmu, dan mengatakan kepadamu bahwa masih ada banyak hati yang mencintaimu. Masih banyak yang membutuhkanmu. Maka jangan pernah kau menjauh dari orang-orang yang sepeduli itu denganmu.
Tenanglah. Percaya padaku kalau dia nyatanya bukan duniamu.
Percayalah padaku suatu hari kau akan menemukan cinta yang jauh lebih baik darinya, jauh lebih mesra dari sikapnya padamu, dan membuat matamu terbuka lebar. Bahwa cinta dan harapan adalah dua hal yang berbahaya, namun kau sudah mengerti betapa kau tak perlu jatuh terlalu jauh lagi.
Good one.
Rasa simpati dan empati yang sudah tumbuh dalam diri akan memudahkan untuk bersyukur
Sekuat apapun kita menggenggam, yang berniat pergi akan tetap memilih pergi. Sebagaimanapun kita membiarkan, yang berniat bertahan akan tetap disampingmu.
Sebungkus Garam, Sebotol Air, dan Sebuah Danau
Ketika hati saya gusar, terganggu akibat suatu peristiwa di luar diri saya, kadang saya teringat dengan kisah sebungkus garam, sebotol air, dan sebuah danau—dengan berbagai versinya. Mungkin kamu juga pernah mendengarnya.
Berikut kisahnya—versi saya.
Seorang santri sedang berjalan bersama ustadznya ke sebuah tempat.
Mendapatkan kesempatan untuk mengobrol, Santri mengadu kepada ustadznya bahwa ia kesal setiap kali membuka media sosial. Pasalnya, ia sering menemukan orang-orang mem-bully kyai dan tokoh-tokoh panutannya yang ia anggap soleh.
Ia juga heran, bagaimana bisa kyai dan para tokoh panutan itu tetap tenang menjalani hidup di tengah segala caci maki, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sang Ustadz tersenyum, mengajak Santri melewati sebuah danau yang tak jauh dari tempat tujuan mereka. “Tolong belikan sebotol air mineral di warung itu”, kata Ustadz. “Oh ya, sekalian, satu bungkus garam ya”.
Santri keheranan. Tapi, menduga bahwa ia akan mendapatkan sebuah jawaban, ia penuhi permintaan ustadznya tanpa bertanya.
Tibalah mereka di pinggir danau.
“Ini, Ustadz”, Santri menyerahkan air mineral dan garam yang diminta Ustadz.
Ustadz pun mengambil segenggam garam, dimasukkannya ke dalam botol berisi air mineral, lalu diaduknya sebentar. “Coba, rasakan air dalam botol ini”, kata Ustadz.
Dengan wajah agak meringis, Santri mencicipi air dalam botol itu. “Asin, Ustadz”, katanya dengan ekspresi wajah yang aneh.
Lalu, Ustadz melempar sisa garam yang ada ke danau.
“Sekarang, kamu rasakan air danau ini”, pinta Ustadz.
Santri pun memasukkan air danau ke mulutnya, layaknya berkumur untuk berwudhu. “Mm.. Tawar, Ustadz”, katanya.
Ustadz dan santri kembali berjalan. “Nah.. Botol dan danau ini seperti hati manusia. Ada hati yang begitu sempit, ada pula hati yang luas. Bagi hati yang sempit, sejumlah ujian bisa mengacaukan pemiliknya, layaknya garam yang membuat asin seisi air dalam botol. Tetapi bagi hati yang luas, ujian yang sama mungkin tidak akan cukup untuk mengganggu sang pemiliknya, sebagaimana sebungkus garam yang hilang tanpa meninggalkan rasa di danau tadi.”
Santri pun berefleksi. Pikirnya, mungkin hatinya masih sekelas botol air mineral, sementara hati kyai dan tokoh-tokoh panutannya sekelas danau luas. Ah, saatnya belajar melapangkan hati.
Bisa relate?
Nah, pertanyaannya, gimana cara kita melapangkan hati?
Kapan-kapan kita eksplorasi.
Sebuah hikmah supaya dapat meluaskan hati. Semoga kita senantiasa diberikan kesabaran dalam menghadapi semua permasalahan, karena ujian itu tidak datang terburu-buru atau terlambat, tetapi ujian selalu datang tepat waktu.
Maha Besar Allah.
Segala sesuatu kalau sudah punya ilmunya akan mudah dalam mempraktikkannya. Seperti tulisan ini, membuka cara pandang untuk melapangkan hati. Iya, dari orang lain kita bisa belajar.
Setiap manusia itu memiliki rasa khawatirnya sendiri-sendiri. Ada yang dengan mudahnya bisa meredakannya sendirian, namun juga ada yang sering berlebihan dan tak bisa meredamnya sendirian.
Kamu tidak bisa menyalahkannya. Karena ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Ia bukan tak pernah berusaha, namun ia masih berusaha untuk mencoba meredakan dirinya sendiri. Namun rupanya, ia butuh bantuan.
Jangan kau perparah dengan menghujaninya dengan kata sindiran atau tekanan. Ia akan pecah bila kau lakukan itu. Mungkin kau tidak tau, karena ia akan berusaha terlihat baik-baik saja. Tapi di balik itu, ia hampir saja mengorbankan dirinya sendiri.
Tak semua orang memiliki kadar kekuatan yang sama dalam menghadapi tekanan.
Ia tak pernah memaksa untuk dimengerti, ia hanya ingin kau menggunakan kata-kata yang baik dan cenderung memotivasi, bukan merendahkan dan menyalahkan seolah-olah kau tak pernah berbuat salah juga yang paling benar.
Mengapa tak pernah kita coba untuk memposisikan diri sebagai orang lain? Yang mungkin saja tidak bisa kita mengerti resahnya, tak dapat kita rasakan bebannya, dan tak sanggup kita pahami pikirannya.
Allah tak pernah menciptakan sesuatu sia-sia. Dan mungkin kau diciptakan untuk melengkapinya, yang mungkin tidak pernah kau sadari.
Sudahkah mendengarkan cerita seseorang hari ini? Sekali-kali coba hubungi ia duluan, mungkin sahabat atau temanmu, kau tak akan pernah tau bila tidak bertanya. Barangkali, ia butuh dirimu untuk mendengarkannya karena harinya begitu sulit.
Terkadang, pemberian sebuah waktu itu lebih dari berharga daripada sekedar hadiah berupa barang, karena waktu yang diberikan itu tidak akan bisa kembali ataupun diulang lagi.
Cobalah hargai kehadiran seseorang yang mencoba bertanya akan keadaanmu hari ini.
Malang, 14 Juni 2018. Ketika berada dalam suasana rumah yang begitu tenang dan menyejukkan.
Betul, waktu yang kita sisihkan untuk orang lain mungkin bisa menjadi kekuatan tambahan bagi orang lain untuk menjalani harinya dengan lebih baik. Bisa dibilang, itu salah satu cara saling mengingatkan, menguatkan, dan silaturahmi juga.
Seorang kawan pernah berkata, “Bila perjalananmu dengannya tidak membuatmu lebih mengenal Allah, pulang saja. Bila pencapain bersamanya membuatmu jauh dari Allah, lepaskan saja. Bila mencintainya hanya membuatmu tidak taat kepada Allah, maka tinggalkan dia.”
Sebab, bukan cinta namanya jika semakin menjauhkan diri dengan sang Maha pemilik cinta.
Ini perihal mencintai dengan sebaik-baik cinta. Cinta yang tidak membuat luka, cinta yang tidak meninggalkan lara. Sebab bukan cinta jika rasanya bak laksana menggenggam bara.
Cinta yang baik adalah cinta yang menenangkan. Cinta yang menyembuhkan. Cinta yang membahagiakan. Bukan tangisan lara yang menghujam batin seorang anak adam.
Lantas ketika mencintai membuat kita semakin jauh dariNya. Maka tanyakan pada diri, cinta macam apa yang kini bertahta hingga mencintai makhluknya lebih indah dibandingkan mencintaiNya..
Tengoklah saat ini tentang mimpi yang masih menggantung, tentang perasaan yang tergadaikan dan tentang luka yang belum sembuh. Untuk menata ulang kembali agar perasaan yang salah segera dibenahi oleh-Nya.
Ini bukan perihal patah hati yang tidak berkesudahan. Namun ini perihal mencintai dengan ikhlas. Ikhlas mendapatkan atau barangkali ikhlas mengikhlaskan.
Cinta yang hakiki adalah cinta yang didalamnya seseorang bisa tumbuh bersama dalam kebaikan, memberi maaf meski salah dan memberikan ruang untuk berteduh. Tentunya surga-Nya adalah tujuan akhir dari semua perjalanan ini.
Duhai diri yang sedang ditumbuhi cinta. Jadikanlah dirimu dan cintamu menumbuh dengan cinta yang baik, yang selalu paham perihal hakikat mencintai dengan benar. Mencintai-Nya, mencintai karna-Nya, dan dicintai-Nya. Jadikan ia laksana oase kebaikan bagi siapapun, penuntun kebaikan untuk sipapun. Bukankah Rahmatan lil alamin adalah semboyan terbaik agama ini?
Maka mencintailah dengan lembut, dengan penuh rahmat dan kasih sayang. Jikapun perasaanmu ditumbuhi cinta oleh-Nya, jangan jadikan Ia cemburu atas perasaan fitrah itu. Bukankah kau lebih paham atas perasaanmu sendiri?
Mencintailah dengan baik, duhai anak adam. Yang setiap kebaikannya laksana Al-Qur’an yang mencintai seseorang yang mau membersamainya. Laksana Rasulullah yang mencintai umatnya. Laksana Allah yang selalu mencintai hambanya.
Napak tilaslah kembali perjalanan kisahmu.. dengan muhasabah atas kisah yang telah lalu. Ia laksana pembelajar terbaik untuk dirimu. berbaiklah, melembutlah..
©Ibn Syams (self reminder)
Untuk Para Pejuang
Untukmu yang sedang berjuang,
Bergegaslah untuk terus maju,
Walau rintangan silih berganti,
Itu bukan alasan untuk berhenti berjuang,
Bukankah niatmu dulu sudah baik untuk memulai ini semua?
Lalu untuk apa kau berpikir untuk berhenti disini?
Ayo bergerak, kau tidak sedang berjuang sendiri!
Ana Choiril Anwar
Bandung, 12 Juli 2018
Antara Pemimpin dengan Pelayan
Setiap dari kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika kita sebagai kepala rumah tangga, maka yang kita pimpin adalah keluarga. Jika kita sebagai pemimpin negeri, maka yang kita pimpin adalah warga yang berada di negeri tersebut. Paling tidak kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Baik buruknya pribadi tergantung bagaimana kita dalam memimpin diri.
Rasulullah SAW bersabda, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim). Walaupun hadits ini lemah, namun masih dikuatkan dengan hadits yang serupa, tidak bertentangan dengan akidah, dan tidak terkait dengan halal-haram. Sehingga bisa kita gunakan sebagai amal dan panduan dalam menjalani sebagai pemimpin.
Maka, salah satu ciri pemimpin sejati ialah melayani. Ibarat pelayan pada suatu restoran yang selalu rela melayani semua pengunjung tanpa terkecuali. Yang memenuhi kebutuhan pengunjung satu per satu dengan sigap dan rendah hati. Yang senantiasa mendengarkan berbagai keluhan dan saran sehingga kedepannya bisa lebih baik lagi.
Konsep pelayan mencerminkan pemimpin sejati. Jika yang dipimpin ialah diri sendiri, maka ia akan sepenuh hati melayani dirinya. Memenuhi segala kebutuhan dalam jiwa dan raganya. Kebutuhan jiwa ialah berupa iman dan takwa. Karena tanpanya, hidup menjadi kosong dan hampa. Sedangkan kebutuhan raga berupa kesehatan. Sehingga kita harus melayani tubuh kita dengan mengatur apa yang kita makan dan berolahraga secara rutin dalam sepekan.
Dan jika yang dipimpin ialah suatu negeri, maka ia akan melayani warganya dengan rasa tulus untuk mengabdi. Memastikan segala kebutuhan warganya terpenuhi, yaitu kebutuhan akhirat dan duniawi. Kebutuhan akhirat dengan menjamin bahwa setiap warga memahami ajaran agamanya masing-masing dan mengamalkannya dengan damai. Kebutuhan duniawi dengan menjamin bahwa yang dilayani bisa menjalani hidup layak sebagai manusia yang mempunyai martabat diri.
Jika semua pemimpin bersikap seperti ini, maka kesejahteraan untuk semua bukanlah mimpi. Jika kita tidak menemui sikap pemimpin seperti ini, maka mari menjadi pemimpin dengan sikap seperti ini. Bisa jadi karena tidak adanya suatu kebaikan, maka itulah kita yang Allah tunjuk sebagai penegak kebaikan tersebut. Semoga kita semua menjadi pemimpin yang bisa melayani. Paling tidak pemimpin bagi diri kita sendiri. Serta semoga kita semua dianugerahi pemimpin senantiasa bisa melayani
Pemimpin sejati bukanlah seberapa banyak orang yang melayaninya, tetapi seberapa banyak orang yang dilayaninya. - Ustadz Salim A. Fillah
Simon Sinek: If You Don't Understand People, You Don't Understand Business
In this wide-ranging talk, ethnographer and leadership expert Simon Sinek discusses the importance of trust, authenticity, and meaning. Sinek argues that as individuals and companies, everything that we say and do is a symbol of who we are. And it is only when we communicate our beliefs authentically that we can attract others to our cause, and form the bonds that will empower us to achieve truly great things.
via 99Uvideos
..selalu challenge diri lo sendiri. Dan niatkan belajar bener2 untuk menguasai ilmunya dan menambah wawasan. Suer, scientific orgasm itu rasanya lebih nikmat daripada dapet nilai bagus atau hitam di atas putih lainnya..
Bramka (via tbrizky)
Proyek Kolaborasi
Setiap orang punya cerita, setiap orang punya titik perubahan di dalam dirinya. Jalur hidayah tak pernah kita ketahui, ada yang melalui apa yang dilihat secara visual, ada yang melalui nada suara, ada juga yang melalui kata-kata yang terangkum di dalam sebuah kisah…
Membayangkan sebuah buku yang berisikan cerita pengalaman, titik hijrah diri kita melalui mentoring, sebuah proses pembinaan yang mungkin pernah kita dapatkan saat di bangku sekolah, kuliah, kerja atau masyarakat. Saya pribadi merasa mentoring adalah sebuah jalur titik perubahan saya saat di bangku SMA, melalui mentoring, Allah SWT memberikan banyak hikmah, dan saya sangat bersyukur atas nikmat ini.
Mendapatkan sahabat-sahabat yang jika bertemu, serasa ingin terpacu lebih baik, sahabat yang mengingatkan saat ada prilaku yang kurang tepat, dan tentu saja tidak selalu membahas hal serius, seringkali ada canda di dalam aktifitas, yang semakin merekatkan ukhuwah. Meskipun jarak dan aktifitas merenggankan waktu pertemuan, tetapi tidak menyurutkan jalinan ukhuwah yang pernah kita bangun.
Kisah ini tentunya adalah sebagian cerita yang kita dapatkan dari mentoring. Akan banyak sudut pandang, bagian-bagian cerita yang jika terangkum di dalam sebuah buku, harapannya menjadi jalan hidayah orang lain. Berharap proyek kolaborasi ini bisa direalisasikan.
Bagi yang mau bertukar ide, diskusi, dan mempunyai impian yang sama, yuk kita kolaborasi :)
Sibuk boleh, tetapi jangan sok sibuk. Sok sibuk menyebabkan hidup tak berarti apa-apa.
Bagaimanapun keadaanmu diperantauan, orang tuamu selalu merindukanmu. Kabari mereka dan buat mereka tersenyum dengan tutur kata baikmu
melalui telepon
Perhaps the biggest mistake I made in the past was that I believed love was about finding the right person. In reality, love is about becoming the right person. Don’t look for the person you want to spend your life with. Become the person you want to spend your life with.
Neil Strauss (via deeplifequotes)
Seorang lelaki perantau belum pantas menikah jika selalu lebih dulu orang tuanya yang menanyakan kabar dirinya.
— Ahmad Aji Setia Praja
Kalau kamu mengira aku menulis ini karena kamu, maka kamu benar. Ini memang untuk kamu. Hai, apakabar tuan sibuk? Jangan terlalu sibuk, kau tau kan aku tak suka kau terlalu sibuk? Tapi kau tetap saja sibuk. Semenjak pertemuan itu, bayangmu makin kerap muncul dalam benakku. Sekeras apapun aku mencoba menepisnya dengan mencoba sibuk sendiri. Lewat fotomu, aku menerka kehidupan apa yang kau jalani kini. Kau berkumpul dengan orang-orang hebat itu, rapat sampai malam, sibuk promosi buku, keluar kota tiap minggu. Nampaknya kau berhasil menjadi sibuk, sementara aku? Di setiap kesibukanku setengah mati aku cari waktu mengintip linimasa ‘tuk cari tahu dibelahan bumi mana seorang “kamu” sedang bersembunyi. Sesekali melihat whatsapp untuk sekadar cari tahu jejakmu. Setengah jam yang lalu, 15 menit yang lalu, bahkan saat online, sama sekali kau tak menyapaku. Kau biarkan pesan yang ku kirim berparaf biru. Terbaca namun tak terbalas. Hei. Aku rindu. Bisakah kita bertemu?
- drr sedang rindu kamu.