Perihal Rasa
Sejak mengenalmu. Kebahagiaanmu menjadi salah satu harapan terpanjangku. Namun, dihari yang bersejarahmu hari ini. Hari dimana kamu menikah dengan seorang wanita yang akan menjadi teman hidupmu. Kamu menangis.
Sepanjang aku mengenalmu, hanya sekali aku melihatmu menangis tersedu. Saat kepergian ayahmu. Orang yang begitu berarti untukmu. Dan hari ini, sekali lagi aku melihatmu menangis dihadapanku.
Tak ada kata, tak ada suara. Kau hanya menangis dan terus menangis sembari menggenggam erat tanganku. Aku tahu betul apa yang kamu rasa, dan kamupun tahu betul apa yang aku rasa. Hanya saja, kita tak berjodoh perihal penyatuan rasa.
Tetaplah menjadi kakak ku yang hangat dan berharga, aku akan tetap menjadi adikmu yang manis dan biasa-biasa saja. Kukatakan "Tak apa, toh aku akan selalu ada untukmu" sembari mengusap pundakmu yang terguncang pelan.
Kita hanyalah dua orang bodoh yang tak pernah berani mengatakan "suka" apalagi "cinta". Kita hanyalah dua orang bodoh yang pernah terus saling menunggu tanpa ada yang berani untuk maju. Kita hanyalah dua orang bodoh yang akhirnya memilih untuk mengatakan "ya" pada orang lain yang mengulurkan tangan pada kita.
Dan disinilah kita. Dengan masing-masing orang berada disamping kita. Kita memang tak berjodoh perihal pernikahan, namun kuharap, kita juga tak akan pernah memiliki penyesalan karena pernah saling berbagi pelukan.













