Adakalanya memang kita ini perlu adil terhadap penilaian ke diri sendiri. Ketika diminta untuk menilai orang lain kita dengan mudah menyebutkan deretan daftar baik pada dirinya, tetapi ketika hal sama ditujukkan kepada diri, begitu sukar lisan dan hati untuk menyebut sedikit saja kebaikan di dalam diri.
Meskipun, jika pada akhirnya "terpaksa" menyebutkan kekurangan diri sebagai bentuk muhasabah betapa jauhnya diri kita dari nilai-nilai Ilahi, sehingga melejitkan semangat untuk perbaikan diri, itu bagus. Namun, kalau yang terjadi justru kita menjadi hilang semangat, merasa diri tidak pantas mendapatkan kebaikan bahkan pada Dzat yang Maha Memberi, barangkali ada yang perlu dikoreksi.
Menilai diri menggunakan kacamata 'keunggulan' itu selama tidak berujung pada ujub, sah-sah saja. Tujuannya adalah untuk melihat dari sekian banyak hal potensi yang Allah titipkan, ada dimana kelebihan yang kita bisa kapitalisasikan untuk bekal kebaikan.
Meskipun kebaikan mungkin tidak melulu membutuhkannya (baca: potensi) itu, namun jika kita mampu mendefinsikan, kemudian mendalami sehingga kita unggul pada bidang itu, sehingga kebaikan yang kita torehkan semakin optimal, bukankah itu manifestasi paling tinggi dari rasa syukur?
Saya yakin, setiap insan pasti Allah berikan satu kelebihan. Namun, melihatnya memang harus dengan kacamata adil. Sehingga pandangan bahwa kita memang punya kekurangan itu benar, namun di tengah banyak kekurangan pasti terselip permata yang berkilau dari kegelapan.
Oleh karena itu, mari memulai memberi jarak dari rasa tidak pantas itu, selamilah permata yang lama tersingkap itu, dan jadikan itu sebagai bentuk syukur tertinggi kepada Sang Maha Memberi.













