Aku teringat dengan buku yang terakhir kali kubaca—berjudul “Homeschooling” yang ditulis oleh Bu DK. Wardhani dan pak Ario Nugroho, mengatakan bahwa
“Keberhasilan pendidikan di rumah itu adalah ketika anak dapat menjalankan nilai-nilai (values) yang orang tua tanamkan dan secara autopilot muncul dalam kesehariannya tanpa intervensi dari orang tua.”
Meski buku tersebut berjudul demikian, tetapi isinya bukan tentang tata cara memulai dan menjalankan homeschooling. Melainkan lebih dari itu, penjabaran tentang konsep pendidikan, pengajaran dan sekolah jelas diterangkan pertama-tama oleh bu DK dan pak Ario. Justru ini yang membukakan mataku pertama kali. Mereka menjelaskan bahwa,
“PENDIDIKAN itu mengarah pada bimbingan dan transfer nilai serta pengetahuan, pembinaan jiwa, karakter dan mental dengan tujuan agar tercapai manusia yang kaffah sesuai dengan fitrah/kodrat hidup dan potensi yang dimilikinya. Sederhananya, lebih ke internalisasi nilai-nilai sehingga betul-betul dipahami, dimaknai dan diaplikasikan (diamalkan) dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau PENGAJARAN, itu lebih ke proses belajar atau proses menuntut ilmu. Biasanya diajarkan/disampaikan melalui guru pada muridnya agar kelak muridnya dapat menjadi pandai dan berpengetahuan luas.
Sementara PERSEKOLAHAN adalah pembelajaran yang berlangsung disebuah lembaga formal bernama sekolah dengan menitikberatkan pada penguasaan materi yang diajarkan. Untuk mengetahui tingkat penguasaan materinya, diadakanlah ujian berkala dan keberhasilan penguasaannya dinilai berdasarkan standar tertentu. Hal ini yang akan menentukan akses ke jenjang pembelajaran yang lebih tinggi.
Pengakuan terhadap tuntasnya peserta didik dalam melewati tahapan tertentu melalui standar yang telah ditetapkan ditandai dengan diberikannya sebuah ijazah. Dan pada tingkat tertentu, diberikan juga sebuah gelar yang menyertainya.
Dengan memahami ketiga istilah itu, bisa didapatkan kesimpulan bahwa pendidikan itu lebih komprehensif dibanding pengajaran.
Selanjutnya, beranjak pada pembahasan bagaimana makna & tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh sebuah keluarga itu bisa diraih?
Sebagai keluarga Muslim, sudah barang tentu kita ingin anak kita end goal-nya menjadi anak yang shalih. Tapi ‘bagaimana caranya menjadikan anak itu jadi anak yang shalih’?
Secara umum potret anak shalih itu adalah;
- anak yang baik agamanya
- taat kepada Allah dan RasulNya
- mengerjakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya
- berbakti pada orang tuanya, menyayangi sesama, senang amar ma’ruf nahi munkar (dakwah) dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Kesalehan menjadi nilai mendasar dan universal bagi para keluarga Muslim dalam mendidik anak-anak mereka. Dan para orang tua berhadap agar pendidikan, pengajaran maupun persekolahan dapat mengantarkan anak-anak menjadi individu yang memenuhi cita-cita tersebut.”
Selama ini kita mengira pendidikan = sekolah, padahal jauh lebih daripada itu. Pendidikan justru dimulai sejak anak itu lahir, dan orang tua adalah guru pertama & utama bagi anak sebelum ia bertemu orang lain dan mendapatkan pengajaran dari orang lain.
Ok, aku tidak akan membahas hal itu secara lebih lanjut karena akan sangat panjang haha, lebih baik baca bukunya saja ya :D *rekomen sekali soalnya!*
Yang mau aku jelaskan dan ceritakan dipostingan kali ini adalah, betapa aku BARU SADAR bahwa apa yang aku (dan suami) didik dan ajarkan pada anak, mulai ‘terlihat hasilnya’ seperti apa ketika anak kami mulai banyak berinteraksi dan bersinggungan dengan orang lain secara kehidupan sosial.
Mungkin anakku, Syamil ketika di rumah dia terkesan seperti tidak terlalu mendengarkan, agak menguji kesabaran, masih tinggi egonya, masih sering ‘membantah’ dan bertindak semaunya (tentu karena masih fase dan usia perkembangannya seperti itu).
Tapi ketika dia berinteraksi dengan temannya, dengan orang lain yang lintas usia, mulai terlihat ‘nilai kecil’ apa yang jadi pegangannya selama ini.
Waktu ia bermain di rumah tetangga—dengan temannya, kebetulan temannya mengajaknya untuk menonton TV. Saat itu weekend, dan kata mbak pengasuhnya, temannya Syamil ini sedang dapat jatah screen time menonton TV.
Namun karena Syamil tidak aku biasakan untuk menonton TV (bahkan di rumah kami sendiri saja tidak ada televisi), jadi dia memilih untuk pulang saja ke rumah dan tidak ikut menonton TV bersama temannya. Sempat dilarang pulang sama temannya, sampai Syamil nangis lari ke rumah karena dilarang-larangnya itu haha (mungkin agak dipaksa tinggal kali ya..)
Ia menangis sesenggukan, masih tidak biasa untuk mendapatkan perlakukan orang lain secara sepihak yang tidak menyenangkannya. Ia tidak suka dilarang-larang untuk hal yang ‘buat apa aku masih tetap disini?’. Yang aku suka, Syamil memberi tahuku pendapatnya bahwa menonton itu tidak boleh lama-lama. Kalau sudah selesai ya selesai saja, jangan terus-terusan menonton.
“Syamil kan gak suka!” .. aku suka ketika Syamil tidak ajimumpung atau ambil kesempatan nonton TV di rumah temannya tanpa sepengetahuan Ibu dan Bapaknya.
Kan bisa aja ya anak jadi betah ke rumah tetangga karena di rumah tetangganya ada televisi dan bisa nonton sepuasnya :’D *siapa yang tidak tergoda coba, anak yang minim screen time ketika disodorkan tontonan yang menarik biasanya jadi nagih~
Namun ternyata tidak berlaku untuk anakku. Prinsipnya, “nonton itu jangan lama-lama. Harus sama Ibu dan Bapak. Kalau sudah habis, selesai nontonnya jangan dllanjutkan.”
Contoh lainnya, ketika Syamil mendapatkan makanan atau snack dari orang lain, seringkali ia tidak langsung memakannya. Ia akan selalu menghampiriku dan bertanya, “Bu.. Pak.. Syamil dikasih ini tadi sama X. Syamil boleh makan ini ngga?”
Prinsipnya berkata: kalau mendapatkan makanan/minuman dari orang lain, tanya dulu Ibu/Bapak boleh atau tidaknya.
Ternyata, nilai-nilai kecil yang aku dan suami tanamkan didiri anak menjadi pegangannya dalam berinteraksi dan menghadapi dunia luar. Aku tidak menyangka ternyata “bekerja” juga ya arahan dan nasehat yang kami berikan. Tertancap dan terimplementasikan meski untuk hal-hal sederhana seperti contoh diatas.
Tapi, aku enggan berpuas diri. Karena selama ia belum baligh, penanaman nilai (khususnya nilai Islami), teladan/pemberian contoh yang baik dan pengajaran kebaikan lainnya perlu terus dilakukan. Anak perlu DIBEKALI dan DIBENTENGI dengan benar!
Utamanya, diajarkan sisi aqidah atau tauhid dengan mengenal Allah. Karena kelak, anak akan lepas dari asuhan dan buaian kita. Ia akan menghadapi dunianya sendiri, ia akan berjalan meniti kehidupannya pribadi. Kami tidak akan selalu membersamai, mendampingi meski akan selalu mendoakannya dimanapun dia berada.
Ketika dia memahami bahwa Allah Maha Melihat, Allah adalah tujuan semua ibadah kita, Allah Maha Mengetahui segalanya, maka ia akan lebih berhati-hati, tetap tunduk pada syariatNya meski orang tuanya tak mengetahui dan menyaksikan setiap tingkah lakunya. Sebab CCTV Allah selalu bekerja.
Sedikit banyak aku besyukur Allah memudahkan, sambil perlahan-lahan aku juga menata diriku kembali. Keluar dari lumpur kefuturan, beranjak dari waktu luang yang terbuang sia-sia, dan menyelami lagi diri ini pada lautan ilmu.
Semoga Allah lancarkan dan kuatkan selalu proses pendidikan diri, dan pendidikan pada anak kita semua ya. Sebab, tidak hanya anak saja yang bertumbuh. Kita, selaku orang tuanya pun butuh bertumbuh juga.
Tangerang, 27 Juli 2025 | 16.11 WIB