Selamat Hari Bapak, entah sedunia, entah nasional, entah cuma milik kita berdua.
Aku tumbuh tanpa banyak bicara sama Bapak.
Bukan karena nggak sayang, cuma karena kami nggak pernah benar-benar tahu cara nunjukin kasih tanpa canggung.
Telepon rumah pun selalu buat Ibu; kalau Bapak yang angkat, ujung-ujungnya tetap diserahin juga ke Ibu.
Tapi entah gimana, aku tahu setiap kabarku tetap sampai ke Bapak — lewat jeda percakapan yang sederhana, lewat tanya yang diselipkan di sela-sela diam.
Aku masih nyimpen potongan core memory tentang Bapak, yang aku harap bisa terus aku simpen sampai tua.
Ikut Bapak ke sawah, menjejak lumpur, menatap punggungnya yang menua di bawah cahaya sore.
Waktu SD, Bapak pernah nganterin sepeda bekas ke sekolah — bukan baru, tapi penuh makna.
Senangnya aku waktu itu nggak kepalang, aku pulang dengan tawa kecil, sementara Bapak ngikutin dari belakang, dengan senyum yang mungkin nggak akan pernah kutemuin lagi di wajah siapa pun.
Pas SMP, Bapak selalu njeunguk aku sebulan sekali ke pondok.
Naik Supra tua, dengan semangat yang entah datang dari mana.
SMA, ingatanku mulai samar — tapi aku tahu, setiap keinginanku selalu diusahakan, bahkan yang kadang nggak layak diminta.
Ponsel pertamaku, misalnya. Aku minta dengan takut-takut, tapi Bapak cuma mengangguk — diam-diam, tapi tulus.
Kuliah jadi masa paling berat buat Bapak.
Aku tahu, banyak hal yang Bapak korbankan demi aku — satu-satunya anaknya yang bisa kuliah di kampus negeri, di Jawa pula.
Kata Ibu, Bapak sering nyeritain aku ke teman-temannya, dengan nada bangga yang pelan.
Tapi ke aku? Nggak pernah, wkwkw.
Mungkin karena buat Bapak, rasa bangga memang nggak perlu diucapin — cukup disimpan dalam caranya bertahan.
Dua kali aku wisuda, dua kali juga Bapak nggak bisa hadir.
Dan aku paham, sebab keadaan seringnya nggak berpihak.
Tapi rasa bangga dan cinta Bapak nggak pernah luntur; tetap ada di balik pengorbanan yang bahkan nggak sempat disebut nama.
Sekarang anakmu ini udah dua puluh enam tahun, Pak.
Masih berjuang nyelesain studi doktornya, masih mencoba berdamai dengan banyak hal: takut gagal jadi hamba, jadi manusia, dan… jadi anakmu.
Maaf ya, Pak — di usia segini aku malah belum jadi apa-apa, belum bisa ngasih bahagia yang selayaknya.
Tapi doaku buatmu nggak pernah alpa, Pak. Semoga seterusnya pun begitu.
Dan… selamat Hari Bapak, entah sedunia, entah nasional, entah cuma milik kita berdua.
Terima kasih, karena dalam banyak hal, Bapak adalah rumah yang nggak pernah berkata “pulanglah”, tapi selalu nunggu aku untuk nemuin arah sendiri.
Meski hidup sering memukul, meski keluarga kita pernah retak — makasih sekali, Bapak tetap berusaha bikin semuanya utuh, dengan banyak cara yang kadang malah bikin Bapak sakit.
Aku memang nggak pernah pandai nunjukin rasa,
tapi aku selalu nyimpen satu hal ini rapat-rapat:
aku sangat, amat, termat bangga jadi anakmu, Pak.
Terima kasih sudah mengizinkan “bin Abdullah” itu ada dalam namaku ini. ☺️